Konten dari Pengguna

Pendidikan Hari Ini Mencetak Manusia Merdeka atau Robot Pekerja?

foto M. Sahrozzi Ketika mengisi pelatihan fasilitataor PMII di Jombang
zoom-in-whitePerbesar
foto M. Sahrozzi Ketika mengisi pelatihan fasilitataor PMII di Jombang

Setiap tahun ajaran baru, jutaan anak melangkah masuk ke gerbang sekolah dengan satu harapan besar, kelak mereka menjadi manusia yang utuh. Namun di balik seragam rapi dan upacara bendera, pertanyaan mendasar patut diajukan. Apakah lembaga pendidikan hari ini masih menjadi tempat lahirnya manusia merdeka, atau sekadar pabrik yang menyiapkan robot pekerja siap pakai?

Gejalanya sangat mudah dikenali. Orang tua memilih sekolah dengan melihat seberapa besar peluang lulusan diterima bekerja. Kampus berlomba memasang slogan link and match dan menampilkan angka keterserapan lulusan di brosur. Kurikulum disusun mengikuti kebutuhan industri, sementara ruang untuk bertanya, merenung dan berbeda pendapat makin menyempit. Nilai, peringkat, dan sertifikat menjadi mata uang utama, sedangkan kejernihan berpikir dan keberanian bersikap jarang masuk dalam rapor.

Pendidikan sebagai Alat Produksi

Dalam logika pasar, manusia dipandang sebagai sumber daya. Istilah sumber daya manusia sendiri menyimpan persoalan, sebab manusia disejajarkan dengan bahan baku yang harus diolah agar bernilai guna. Malayu S.P. Hasibuan, pakar manajemen sumber daya manusia di Indonesia, menekankan pentingnya pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan keahlian, kecakapan dan sikap kerja karyawan agar tujuan organisasi tercapai. Pandangan ini sah dan berguna dalam dunia kerja. Persoalannya muncul ketika kerangka berpikir ketenagakerjaan ini dijadikan ukuran tunggal bagi seluruh dunia pendidikan. Pelatihan kerja memang bertujuan menyiapkan tenaga yang cakap, tetapi pendidikan semestinya bertujuan jauh lebih luas, yakni membentuk manusia.

Komentar Para Tokoh

John Locke, filsuf Inggris abad ke-17, memandang pikiran anak sebagai lembaran kosong yang dibentuk oleh pengalaman. Dalam karyanya tentang pendidikan, ia menempatkan pembentukan karakter, kebajikan dan kemampuan menalar di atas sekadar penumpukan pengetahuan. Bagi Locke, tujuan mendidik adalah menumbuhkan pribadi yang mampu menguasai diri dan menggunakan akalnya, bukan sekadar menghafal.

Arthur Schopenhauer, filsuf Jerman abad ke-19, dikenal tajam mengkritik kecenderungan orang belajar demi keuntungan materi. Ia mencela para sarjana yang menjadikan ilmu hanya alat mencari penghidupan dan menyebut cara belajar seperti itu merendahkan pengetahuan. Menurutnya, pemikiran yang sungguh hidup lahir dari perenungan sendiri, bukan dari memindahkan isi buku orang lain ke kepala.

Paulo Freire, pendidik asal Brasil, menyebut praktik pendidikan yang umum sebagai pendidikan gaya bank. Guru menyetor pengetahuan, murid menampung dan mengulanginya. Pola ini menjinakkan murid menjadi penerima pasif yang menyesuaikan diri dengan dunia apa adanya. Sebagai gantinya, Freire menawarkan pendidikan hadap masalah, yaitu dialog yang membuat manusia sadar akan realitasnya dan berani mengubahnya.

John Dewey, filsuf pendidikan Amerika, menegaskan bahwa sekolah harus menjadi miniatur masyarakat demokratis tempat anak belajar lewat pengalaman, kerja sama, dan pemecahan masalah. Pendidikan baginya adalah proses hidup itu sendiri, bukan persiapan semata untuk kehidupan kelak.

Di tanah air, Ki Hajar Dewantara merumuskan pendidikan sebagai upaya memerdekakan manusia lahir dan batin. Dengan sistem among, pendidik berperan menuntun tumbuhnya kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia sekaligus anggota masyarakat. Kata kunci yang ia tekankan adalah merdeka belajar, jauh sebelum istilah itu menjadi slogan kebijakan.

Ketika Manusia Dibentuk Menjadi Komponen

Jika pandangan para tokoh itu disandingkan dengan praktik hari ini, jaraknya terasa lebar. Murid dilatih menjawab soal pilihan ganda, bukan merumuskan pertanyaan. Guru dibebani administrasi dan target capaian, bukan dimerdekakan untuk mendampingi tumbuhnya anak. Perguruan tinggi mengejar akreditasi dan peringkat, sementara fungsi kritisnya terhadap masyarakat perlahan memudar. Mahasiswa yang berpikir kritis sering dianggap tidak praktis, sedangkan yang patuh dan cepat beradaptasi dipuji sebagai siap kerja.

Padahal pekerja yang hanya siap pakai sangat rentan. Teknologi berubah cepat, keterampilan teknis cepat usang dan pekerjaan yang hari ini dibutuhkan bisa lenyap esok hari karena otomatisasi. Ironisnya, mesin justru semakin pandai melakukan tugas rutin, sehingga manusia yang dididik menjadi pelaksana rutin akan bersaing langsung dengan mesin. Yang tidak bisa digantikan adalah kemampuan berpikir kritis, empati, kreativitas dan keberanian menentukan arah hidup, yaitu hal-hal yang justru kurang mendapat tempat dalam pendidikan yang berorientasi pasar.

Menemukan Kembali Keseimbangan

Mengatakan bahwa pendidikan tidak boleh menyiapkan orang bekerja tentu keliru. Bekerja adalah bagian dari martabat manusia dan keterampilan adalah bekal penting. Yang perlu diluruskan adalah urutannya. Manusia merdeka lebih dahulu, keterampilan menyusul sebagai sarana. Orang yang merdeka berpikir akan mampu mempelajari keterampilan apa-pun, sedangkan orang yang hanya dilatih satu keterampilan akan kebingungan ketika dunia berubah.

Langkah-langkah konkret dapat dimulai dari hal sederhana. Beri ruang diskusi dan perbedaan pendapat di kelas. Ukur keberhasilan dengan kualitas nalar, bukan hanya angka. Hargai guru sebagai pendidik, bukan operator kurikulum. Kembalikan literasi, filsafat, seni, dan etika ke tempat yang layak dalam pendidikan. Dan yang terpenting, ajukan pertanyaan yang lebih besar dari sekadar apa yang akan dikerjakan anak kelak, yaitu menjadi manusia seperti apa mereka nantinya.

Penutup

Pendidikan adalah investasi peradaban, bukan sekadar investasi ekonomi. Locke mengingatkan pentingnya karakter dan nalar, Schopenhauer menolak ilmu yang direndahkan menjadi alat mencari uang, Freire menggugat pendidikan yang menjinakkan, Dewey menuntut sekolah yang hidup dan Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa tujuan akhirnya adalah kemerdekaan. Selama lembaga pendidikan lebih sibuk memenuhi pesanan pasar daripada menumbuhkan kemanusiaan, kita akan terus menghasilkan tenaga kerja yang terampil namun kehilangan arah.