Konten dari Pengguna

Sekolah Menyuruh Siswa Mencatat, Tapi Lupa Mengajari Mereka Berpikir

Foto M. Sahrozzi bersama dengan siswi SMP SAINS Lombok Islamic School
zoom-in-whitePerbesar
Foto M. Sahrozzi bersama dengan siswi SMP SAINS Lombok Islamic School

Saya masih ingat satu pemandangan yang dulu dianggap biasa. Guru masuk kelas, menulis di papan tulis "catat halaman 45 sampai 60", lalu duduk di meja sambil membuka ponsel atau keluar entah ke mana. Kami menyalin kalimat demi kalimat dengan tangan yang sudah pegal. Tidak ada yang berani bertanya apa maksud tulisan itu. Tidak ada yang menjelaskan mengapa kami perlu mengetahuinya. Sampai beberapa menit kemudian Bel berbunyi dengan nyaring, lalu buku ditutup dan pengetahuan itu menguap begitu saja sebelum sampai ke kepala.

Dulu saya mengira itu hanya nasib kelas saya. Ternyata cerita serupa saya dengar dari banyak tempat, dari kota besar sampai desa. Di situlah saya mulai bertanya, sebenarnya apa yang kita sebut literasi di negeri ini?

Jawaban yang paling sering muncul sangat sederhana. Literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Anak yang sudah lancar mengeja dianggap selesai urusannya. Angka melek huruf dirayakan, laporan dibuat, program dijalankan. Padahal bisa membaca tidak sama dengan memahami dan bisa menulis tidak sama dengan mampu menyampaikan gagasan. Seseorang bisa membaca satu halaman penuh tanpa tahu apa yang dimaksud dalam tulisan tersebut. Seseorang bisa menyalin sepuluh halaman tanpa pernah tahu apakah isinya benar.

Literasi sebenarnya jauh lebih luas. Ia mencakup kemampuan menimbang informasi, membedakan fakta dari opini, membaca angka, memahami perasaan orang lain, hingga berani mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman. Di zaman ketika kabar bohong menyebar lebih cepat daripada kabar benar, kemampuan semacam ini bukan hiasan. Ia adalah bekal untuk bertahan.

Sekolah semestinya menjadi tempat latihan pertama. Namun praktik di banyak ruang kelas masih berjalan sebaliknya. Mencatat dijadikan inti pembelajaran. Siswa yang rapi tulisannya dianggap pintar, siswa yang diam dianggap baik, siswa yang bertanya kadang dianggap mengganggu. Dalam situasi begitu, kelas berubah menjadi tempat menyalin, bukan tempat berpikir.

Saya tidak ingin menyalahkan guru begitu saja. Banyak guru bekerja dengan beban administrasi yang menumpuk, penghasilan yang seadanya, jumlah murid yang terlalu banyak, dan sistem yang lebih sibuk menagih laporan daripada menanyakan apa yang terjadi di kelas. Ada juga guru yang tulus dan kreatif, tetapi lelah karena berjalan sendirian. Masalahnya bukan semata soal orang, melainkan cara kita memandang pendidikan. Selama keberhasilan diukur dari nilai ujian dan kelengkapan buku catatan, guru dan siswa akan menyesuaikan diri dengan ukuran itu.

Akibatnya terasa panjang. Siswa terbiasa menunggu perintah. Mereka takut salah, jadi memilih diam. Mereka mencari jawaban yang disukai guru, bukan jawaban yang mereka yakini. Perlahan mereka belajar bahwa belajar berarti patuh, bukan memahami. Ketika lulus, sebagian dari mereka kesulitan memutuskan apa yang ingin dilakukan, sebab sepanjang masa sekolah keputusan selalu datang dari luar.

Padahal sekolah punya tugas yang lebih besar dari sekadar mengisi kepala. Ia mestinya membentuk manusia yang utuh. Merdeka dalam berpikir, artinya berani menalar, meragukan, dan menyimpulkan sendiri. Merdeka dalam bersikap, artinya mampu berpendirian, jujur pada hati nurani, dan menghargai perbedaan tanpa kehilangan jati diri. Kemerdekaan semacam ini tidak tumbuh dari buku catatan yang penuh, tetapi dari percakapan, pertanyaan, dan kesempatan untuk salah.

Lalu apa yang bisa dilakukan? Kita tidak perlu menunggu kurikulum baru. Guru bisa mulai dari hal kecil. Menjelaskan sebelum menyuruh mencatat. Mengajukan pertanyaan yang tidak punya satu jawaban. Meminta siswa menceritakan ulang isi bacaan dengan bahasa mereka sendiri. Memberi ruang bagi siswa untuk tidak setuju dengan sopan. Hal sederhana seperti ini jauh lebih membekas daripada sepuluh halaman salinan.

Orang tua dan masyarakat juga punya bagian. Kita perlu berhenti menilai sekolah hanya dari peringkat dan seragam yang rapi. Tanyakan kepada anak, hari ini kamu bertanya apa, bukan hari ini kamu menulis berapa halaman. Perpustakaan desa, taman baca, dan komunitas yang tumbuh di luar sekolah perlu didukung, sebab di sanalah banyak anak pertama kali jatuh cinta pada buku.

Saya percaya literasi adalah soal martabat. Orang yang literat tidak mudah dibohongi, tidak mudah digiring, dan tidak mudah merasa kecil. Kalau itu yang kita inginkan untuk anak anak bangsa, maka sekolah harus berani berubah. Berhenti menjadikan siswa mesin penyalin, dan mulai memperlakukan mereka sebagai manusia yang sedang belajar menjadi merdeka.