Konten dari Pengguna

Hikayat Melayu : Saksi Sejarah Kisah Perjuangan Sri Rama

Muhammad Subhan Mubarok

Muhammad Subhan Mubarok

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Subhan Mubarok tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : https://digital.staatsbibliothek-berlin.de/werkansicht?PPN=PPN822415054&PHYSID=PHYS_0012&DMDID=DMDLOG_0001&view=overview-toc
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : https://digital.staatsbibliothek-berlin.de/werkansicht?PPN=PPN822415054&PHYSID=PHYS_0012&DMDID=DMDLOG_0001&view=overview-toc

Sejarah selalu mengungkap setiap kebenaran, dan bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal dan menghargai sejarahnya. Sebagai warga negara Indonesia, sudah sepantasnya kita bersyukur atas apa yang Tuhan anugerahi untuk bangsa ini. Kekayaan seni dan kultur kebudayaan yang menjadi identitas nasional di mata dunia harus terus tetap terjaga keutuhannya. Maka, misi ini tentu membutuhkan dukungan dari semua pihak, terutama rakyat Indonesia.

Kesadaran setiap individu untuk mengenal sejarah kebudayaan bangsanya menjadi tanda berkembangnya sebuah peradaban, termasuk Indonesia. Keberagaman budaya yang mewakili setiap tingkat strata sosial menjadi tonggak keutuhan persatuan. Kebudayaan itu juga mewakili setiap daerah, suku, ras, dan agama yang menjadi wadah eksistensi sejarah hingga saat ini. Salah satu sejarah kebudayaan yang paling dikenal di Indonesia hingga saat ini yaitu kisah perjuangan yang melegenda tentang sang kesatria bernama Sri Rama.

Perjalanan Legendaris yang Didigitalisasi dalam Naskah “Hikayat Seri Rama”

Kisah-kisah legendaris agama Hindu jelas masih sangat kental di benak sebagian besar rakyat Indonesia hingga saat ini, sebagaimana Hindu menjadi agama mayoritas di masa lalu sebelum akhirnya Islam datang dan menyebar luas. Fakta itu juga didukung dengan banyaknya muatan kebudayaan agama Hindu dalam pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah, saksi peninggalan-peninggalan seperti kerajaan, artefak, relief, cerita rakyat, dan masih banyak lagi.

Di antara banyaknya peninggalan sejarah, cerita rakyat yang paling dikenal yaitu kisah seorang Sri Rama. Peristiwa itu tercatat abadi dalam beberapa literatur-literatur sejarah dengan berbagai versi. Salah satunya ditemukan dalam bentuk naskah yang didigitalisasi oleh lembaga Datenbank der orientalischen Handschriften der Staatsbibliothek zu Berlin (Database Manuskrip Oriental dari Perpustakaan Negara Berlin).

Naskah ini terdapat pada kode katalog VOHD Suppl. 29, II (S.13-16) Titik/Hanstein (halaman 358). Berbahasa Melayu, dengan teks hurufnya menggunakan aksara Arab. Merupakan naskah yang memiliki ketebalan sebanyak 60 lembar, berbentuk menyerupai buku. Bahan naskahnya menggunakan kertas tipis berukuran 31,0 x 20,5 cm, berwarna putih kekuningan, dengan tulisan yang sangat jelas. Naskah ini dapat diakses melalui tautan https://digital.staatsbibliothek-berlin.de/werkansicht?PPN=PPN822415054&PHYSID=PHYS_0012&DMDID=DMDLOG_0001&view=overview-toc

Kondisi fisik naskah ini masih cukup baik sehingga tulisan aksaranya pun masih dapat dibaca dengan jelas. Pada bagian cover yang terlihat pertama kali, kondisi fisiknya masih cukup baik. Hanya saja tidak terdapat aksara atau simbol apapun untuk menggambarkan isinya. Juga sangat disayangkan di bagian awal terlalu banyak lembar halaman yang kosong tidak berisi atau hilang, sehingga aksara yang didigitalisasi baru terlihat pada halaman 9 dan seterusnya.

Beberapa aksara juga terlihat kurang jelas karena hanya berupa coretan berbentuk lingkaran tidak rata seperti tumpahan tinta hitam yang membuat naskah menjadi sulit dibaca. Nominal halaman yang tertera di pojok atas juga sangat kecil ukurannya sehingga harus memperhatikan dengan seksama agar bisa terlihat. Terdapat juga noda-noda di beberapa halaman yang menutupi tulisan aksara pada naskah tersebut. Susunan aksaranya pun terlalu berdekatan antara huruf dan barisnya sehingga agak sulit mengidentifikasinya.

Secara keseluruhan naskah ini masih tergolong cukup baik dan terawat, meskipun terdapat beberapa bagian yang rusak. Namun tidak mengurangi identitas naskah tersebut sebagai salah satu peninggalan bersejarah di masa lampau. Sebuah saksi atas cerita paling legendaris di tanah India hingga Asia Tenggara, bahkan dunia. Hikayat yang ditulis dalam aksara Jawi gundul ini juga banyak menunjukkan variasi ejaan pada nama-nama tokohnya. Sama halnya pada perbedaan sudut pandang, naskah ini juga memiliki versi sendiri terkait penggambaran alur cerita Sri Rama, tanpa mengubah makna cerita secara menyeluruh.

Dibuat oleh M. Subhan Mubarok sebagai tugas pada mata kuliah Filologi di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tahun 2020 dibawah bimbingan dosen Muhammad Nida' Fadlan, M.Hum.