Konten dari Pengguna

DIRGAHAYU Negriku Salam Hormat para Penjaga Kedaulatan Pangan

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari m syakwan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

( sumber foto pribadi )
zoom-in-whitePerbesar
( sumber foto pribadi )

By : Muhammad Syakwan

Kabut tipis masih mengantung, bukan kabut gunung Halimun bukan pula Ciremai. Jauh dari tanah kelahiran, Pak Udin sibuk mempersiapkan peralatan, sabit gerigi dan karung perlengkapan yang ia bawa pagi ini. Ya, hari ini akan panen, panen kedua di tahun ini. Meski jauh dari tanah kelahiran, Pak Udin tidak melupakan tradisi. Dangau yang terbuka dan surau kecil di pinggir sawah menjadi miniatur tanah kelahiranya. “orang tua Bapak yang yang ikut trans, saya masih kecil waktu itu “

Matahari mulai meninggi, hapus kabut, bukan kabut Halimun bukan pula Ciremai tapi kabut kemarau bulan Agustus di desa Sendang Sari Kecamatan Singkut Kabupaten Sarolangun, transmigrasi tertua di kabupaten ini. Kabut telah pergi, pemandangan kontras mulai tanpak. “Cuma ini yang tersisa, 1,25 Ha punya bapak ditambah beberapa bidang lagi punya tetangga. Dahulunya ada sekitar 20 Ha. sela Pak Udin, “ Saya tidak punya kemampuan untuk menahan laju alih fungsi lahan ini “ sambungnya lagi.

Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah pucuk – pucuk sawit rakyat, hamparan sawah yang dahulu menjadi penopang hidup masyarakat telah berganti kebun – kebun sawit yang mungkin lebih menjanjikan. Tidak ada lagi burung bangau, ikan aneka burung lainya biasa ada di areal persawahan.

“Saya bertahan karena mencintai sawah, menghormati padi, beras yang kita makan walau tidak setekun para leluhur.”

Bertahan tetap menanam padi di tengah derasnya arus alih fungsi lahan bukanlah perkara yang mudah bagi Pak Udin. Tuntutan ekonomi dan hasutan orang – orang dekat ancaman kapan saja siap meluluhkan kenyakinan untuk terus bertahan. Belum lagi berkurangnya debit air saat kemarau, serangan hama yang berat dari bisanya dan juga ketersediaan tenaga kerja. Lebih memilih bekerja di kebun sawit dari pada mengolah sawah.

Untunglah bantuan dari dinas pertanian untuk kelompoktani Ngudi Mulyo masih terawat dengan baik.

“ PPL dan Pengamat Hama ( petugas POPT ) selalu kesini, walau hanya tinggal 1.5 Ha, mereka selalu member semangat, penyuluhan dan masukan “

Meski Lahan yang hanya tinggal 1.5 Ha ini, tapi merupakan titik kerangka sampel area (KSA) BPS. Survei yang memberikan indikator pangan di negeri ini.

Di tengah keterbatasan kemampuan dan sumber daya yang ada, Pak Udin selalu bersemangat dengan tekun mengolah, dan mempertahankan tradisi menanam padi sawah miliknya. Prinsipnya, berbuat dulu, setelah berhasil yang lain pastilah lah akan kembali menanam pad. ,” tantangan terberat, mengembalikan kesuburan tanah”

Di luar sana masih banyak Udin, Udin lain yang bertahan dengan dengan segala keterbatasan, dengan segala masalah. Tapi mereka kuat, mereka yakin tujuannya mulia. Menjaga kedaulatan pangan negeri ini. Mereka berbuat tanpa hasutan, intimidasi apalagi rayuan tunjangan kinerja dari usahanya. Sudah saatnya kita mengangkat tangan, memberI hormat pada para pejuang – pejuang pangan, penjaga kedaulatan pangan negri. ( wan )

Muhammad Syakwan, berkerja sebagai penyuluh pertanian lapangan, tinggal di Sarolangun, Aktif di Komunitas Literasi Rumah Baca “DIAZZ” ( Wa 081366595317 )