Konten dari Pengguna

Janji yang Hilang Tanpa Penjelasan

Muhamad Zaydan Habibilah

Muhamad Zaydan Habibilah

Administrasi Publik - Universitas Sriwijaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Zaydan Habibilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hubungan Jarak Jauh yang Penuh Harapan

Kisah ini menjadi bagian dari realita sosial anak muda yang menjalani hubungan jarak jauh di tengah kondisi kehidupan yang tidak selalu mudah. Aku tidak pernah benar-benar siap kehilanganmu. Dalam hubungan jarak jauh atau LDR yang kita jalani, semuanya terasa nyata, sampai akhirnya kamu pergi tanpa memberi kesempatan untuk mengerti. Semua berawal dari hal yang sederhana. Sebuah pertemuan yang tidak direncanakan di dunia online, saat aku berada di tahun terakhir SMK, sekitar 2022 menuju 2023. Dari obrolan ringan, pelan-pelan kita jadi dekat. Tidak ada yang terasa istimewa di awal, sampai akhirnya semuanya terasa berbeda. Aku di Palembang, kamu di Jakarta. Jarak itu nyata, dan sejak awal sudah terasa seperti batas. Tapi anehnya, di tengah jarak itu, justru tumbuh rasa yang tidak bisa aku anggap biasa. Setelah dua tahun ayah meninggal, hidupku terasa hampa, seolah berjalan tanpa arah. Di saat seperti itu, kamu datang. Bukan dengan hal besar, tapi cukup dengan perhatian sederhana yang setiap hari kamu kasih. Dari situ, aku mulai merasa… ternyata masih ada yang peduli.

Ilustrasi hubungan jarak jauh (LDR) yang dipenuhi harapan, namun berakhir tanpa penjelasan. (Sumber: Google Images)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hubungan jarak jauh (LDR) yang dipenuhi harapan, namun berakhir tanpa penjelasan. (Sumber: Google Images)

Kamu jadi tempat aku cerita, tempat aku pulang meskipun hanya lewat layar. Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar diperhatikan, disayang, bahkan dimanjakan dengan cara yang sederhana, tapi cukup untuk bikin hati tenang. Lama-lama, muncul keinginan yang mungkin terdengar terlalu jauh. Aku ingin ketemu kamu. Bahkan lebih dari itu, aku mulai membayangkan masa depan yang serius. Tapi aku juga sadar, realita tidak sesederhana itu. Kamu hidup dengan kondisi yang jauh lebih baik, sementara aku masih berusaha berdiri di hidupku sendiri. Aku pernah jujur soal itu, tentang perbedaan yang jelas terlihat. Tapi kamu tetap bertahan. Kamu tetap milih untuk ada. Dan dari situ, aku mulai percaya. Kita pernah janji. Untuk tetap sama-sama, untuk saling nunggu. Aku bahkan sudah punya rencana, setelah lulus aku mau kerja, kumpulin uang, dan datang ke Jakarta. Setidaknya sekali, aku ingin lihat kamu secara langsung. Bukan lewat layar. Tapi ternyata, hidup tidak selalu kasih waktu. Kamu mulai sering sakit. Aku cuma bisa khawatir dari jauh. Aku pengin ada di sana, jagain kamu, nemenin kamu di rumah sakit, tapi semua itu cuma jadi keinginan yang tidak bisa aku wujudkan. Aku cuma bisa nanya lewat chat. Nunggu balasan. Berharap kamu baik-baik saja. Tapi lama-lama, semuanya berubah. Balasan kamu mulai jarang. Obrolan kita tidak lagi seperti dulu. Hangatnya pelan-pelan hilang. Aku mencoba mengerti, mungkin kamu lagi tidak baik-baik saja. Sampai akhirnya… kamu benar-benar hilang. Tanpa penjelasan. Tanpa kata terakhir. Tanpa apa pun yang bisa aku pegang. Dan di situ aku sadar, bukan cuma kamu yang pergi. Tapi semua janji yang pernah kita buat juga ikut hilang. Aku sempat bingung. Ini semua nyata atau cuma bagian dari cerita yang memang tidak pernah dimaksudkan untuk selesai? Sampai sekarang, aku tidak benar-benar tahu jawabannya. Tapi satu hal yang aku tahu, kamu pernah ada di masa paling hancur dalam hidupku. Kamu pernah bikin hari-hariku yang kosong jadi lebih berwarna. Kamu pernah jadi alasan aku bertahan. Dan mungkin, itu sudah cukup. Aku, kamu, dan janji saat itu… mungkin memang tidak ditakdirkan untuk selesai bersama. Tapi setidaknya, kita pernah jadi cerita yang benar-benar berarti. Kisah cinta LDR tidak selalu berakhir bahagia, karena terkadang keadaan memaksa seseorang pergi tanpa penjelasan.