Konten dari Pengguna

Artificial Intelligence Masuk Dunia Pendidikan, Apa yang Diajarkan Madrasah?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Zhaharil Fikri (Cikgu Fikri) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Dokumentasi Istimewa MIN 1 Merangin (23 Oktober 2026)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Dokumentasi Istimewa MIN 1 Merangin (23 Oktober 2026)

Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan mulai mengubah dunia pendidikan, termasuk cara siswa memperoleh pengetahuan dan cara guru mengelola pembelajaran. Kehadiran teknologi ini membuka peluang bagi madrasah untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih adaptif dan inovatif. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: bagaimana madrasah memanfaatkan Artificial Intelligence tanpa kehilangan peran guru, proses berpikir kritis, dan pendidikan karakter?

Bagi dunia pendidikan, perkembangan ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Pengetahuan semakin mudah diakses, tetapi proses memahami pengetahuan tidak otomatis menjadi lebih baik.

Di tengah perubahan tersebut, madrasah perlu mengajukan satu pertanyaan mendasar: ketika teknologi semakin mampu memberikan jawaban, kemampuan apa yang harus benar-benar kita tumbuhkan dalam diri peserta didik?

Pertanyaan ini penting karena pendidikan bukan sekadar proses menghasilkan jawaban yang benar. Pendidikan juga merupakan proses membangun kemampuan berpikir, membentuk karakter, mengembangkan kreativitas, dan menumbuhkan tanggung jawab.

Jika peserta didik hanya diarahkan untuk menemukan jawaban, mereka mungkin akan semakin bergantung pada teknologi. Namun, apabila mereka dibimbing untuk bertanya, memeriksa kebenaran, memahami alasan, dan mempertanggungjawabkan keputusan, teknologi dapat menjadi alat yang memperkuat pembelajaran.

Di sinilah masa depan madrasah perlu dipikirkan secara lebih serius.

Ketika Jawaban Mudah Diperoleh, Berpikir Menjadi Semakin Penting

Selama bertahun-tahun, pembelajaran sering memberikan perhatian besar pada penguasaan materi, kemampuan mengingat, dan ketepatan menjawab pertanyaan. Semua itu tetap penting. Peserta didik membutuhkan pengetahuan dasar untuk memahami berbagai persoalan.

Namun, kemudahan memperoleh jawaban melalui AI menuntut kita untuk memperkuat aspek pembelajaran lainnya.

Siswa perlu belajar membedakan informasi yang benar dan keliru, mengenali pendapat yang tidak didukung bukti, membandingkan berbagai sumber, serta menjelaskan alasan di balik kesimpulan yang mereka buat.

AI dapat menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan, tetapi jawaban tersebut tidak selalu benar. Informasi yang keliru, konteks yang tidak sesuai, atau sumber yang tidak jelas tetap dapat muncul dalam hasil yang dihasilkan teknologi.

Karena itu, tugas guru bukan sekadar memastikan siswa mendapatkan jawaban, melainkan membimbing mereka memahami bagaimana jawaban tersebut diperoleh dan apakah jawaban itu layak dipercaya.

Misalnya, ketika siswa mendapatkan tugas tentang pencemaran lingkungan, guru dapat meminta mereka membandingkan penjelasan AI dengan buku pelajaran dan sumber tepercaya lainnya. Siswa kemudian menjelaskan perbedaan informasi yang ditemukan, menunjukkan bukti yang mendukung kesimpulannya, dan menyusun pendapat sendiri.

Dengan cara tersebut, teknologi tidak menggantikan proses berpikir. Sebaliknya, teknologi menjadi sarana untuk melatih penalaran.

Guru Tidak Kehilangan Peran, tetapi Perlu Memperkuat Perannya

Kehadiran AI sering memunculkan kekhawatiran bahwa peran guru akan berkurang. Kekhawatiran tersebut perlu dijawab dengan memahami kembali hakikat pekerjaan seorang pendidik.

Guru memang menyampaikan pengetahuan. Namun, perannya jauh lebih luas daripada itu.

Guru membantu siswa memahami konsep yang sulit, mengenali potensi dirinya, belajar bekerja sama, mengelola emosi, menghargai perbedaan, dan membangun kebiasaan yang baik. Guru juga mengamati perkembangan peserta didik dan menyesuaikan pendekatan pembelajaran berdasarkan kebutuhan mereka.

Kemampuan tersebut tidak dapat digantikan begitu saja oleh kemudahan menghasilkan teks atau jawaban otomatis.

Justru, AI dapat membantu guru mengurangi sebagian pekerjaan rutin, seperti menyiapkan variasi latihan, menyusun rancangan awal bahan ajar, atau mengembangkan ide kegiatan pembelajaran. Hasilnya tetap harus diperiksa dan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, serta ketentuan yang berlaku.

Waktu yang terbantu melalui teknologi seharusnya membuka ruang lebih besar bagi guru untuk mendampingi siswa, memberikan umpan balik, dan memperhatikan kebutuhan belajar mereka.

Dengan demikian, keberhasilan pemanfaatan AI bukanlah ketika guru semakin jarang berinteraksi dengan siswa, melainkan ketika interaksi pendidikan menjadi lebih bermakna.

Madrasah Tidak Boleh Kehilangan Arah Karakter

Ada satu hal yang perlu menjadi perhatian khusus bagi madrasah. Kemampuan menggunakan teknologi tidak boleh dipisahkan dari pembentukan karakter.

Peserta didik perlu memahami bahwa mampu menggunakan AI bukan berarti bebas menggunakannya untuk segala keperluan. Mereka harus belajar tentang kejujuran akademik, tanggung jawab, penghormatan terhadap karya orang lain, dan pentingnya menjaga informasi pribadi.

Ketika siswa menggunakan AI untuk membantu mengerjakan tugas, misalnya, mereka perlu memahami perbedaan antara menggunakan teknologi sebagai alat belajar dan menyerahkan seluruh pekerjaan kepada teknologi seolah-olah merupakan hasil pemikiran sendiri.

Guru dapat menetapkan aturan yang jelas mengenai penggunaan AI dalam tugas. Siswa dapat diminta menjelaskan bagian mana yang dibantu teknologi, memeriksa informasi yang dihasilkan, dan mempertanggungjawabkan isi pekerjaan mereka.

Pendekatan ini tidak harus berangkat dari kecurigaan terhadap setiap siswa. Sebaliknya, tujuannya adalah membangun kebiasaan menggunakan teknologi secara jujur dan bertanggung jawab.

Nilai-nilai yang menjadi bagian penting pendidikan madrasah, seperti amanah, kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab, justru semakin relevan dalam lingkungan digital.

Teknologi boleh membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi kecepatan tidak boleh mengalahkan kebenaran. Kemudahan tidak boleh menghilangkan tanggung jawab.

Kepala Madrasah Harus Menentukan Arah Perubahan

Transformasi pembelajaran tidak cukup diserahkan kepada guru yang tertarik menggunakan teknologi. Kepala madrasah memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa perubahan berlangsung secara terarah dan sesuai dengan kebutuhan lembaga.

Langkah pertama bukan langsung membeli perangkat atau menerapkan berbagai aplikasi baru. Langkah pertama adalah memetakan kebutuhan.

Apakah guru memerlukan pelatihan penggunaan AI? Apakah peserta didik sudah memahami cara memeriksa kebenaran informasi? Apakah madrasah memiliki aturan mengenai penggunaan teknologi dalam pembelajaran? Bagaimana perlindungan data siswa dijalankan? Apakah seluruh warga madrasah memiliki akses yang memadai?

Pertanyaan tersebut membantu pimpinan menentukan prioritas yang realistis.

Madrasah dapat memulai dengan kegiatan sederhana, seperti pelatihan guru, penyusunan panduan penggunaan AI, uji coba pada beberapa pembelajaran, serta evaluasi terhadap manfaat dan risikonya.

Penerapan juga perlu memperhatikan kesenjangan akses teknologi. Tidak semua siswa memiliki perangkat dan koneksi internet yang sama. Karena itu, penggunaan AI tidak boleh membuat siswa yang memiliki keterbatasan fasilitas semakin tertinggal.

Kepala madrasah juga perlu memastikan bahwa teknologi yang digunakan sesuai dengan kebijakan yang berlaku, menjaga privasi peserta didik, dan tidak menambah beban administratif tanpa manfaat yang jelas.

Kepemimpinan digital bukan perlombaan menjadi lembaga yang paling cepat menggunakan teknologi. Kepemimpinan digital adalah kemampuan memilih perubahan yang tepat, mengelola risikonya, dan memastikan manfaatnya dirasakan oleh warga madrasah.

Jangan Biarkan Teknologi Mengambil Alih Proses Belajar

Ada perbedaan antara menyelesaikan tugas dan mengalami proses belajar.

Seorang siswa mungkin dapat menghasilkan tulisan yang rapi dengan bantuan AI. Namun, apakah ia memahami isi tulisan tersebut? Dapatkah ia menjelaskan argumennya? Mampukah ia mempertahankan pendapatnya berdasarkan bukti? Dapatkah ia menerapkan pengetahuan itu ketika menghadapi persoalan yang berbeda?

Pertanyaan seperti ini perlu menjadi perhatian guru ketika merancang pembelajaran.

Penilaian tidak harus hanya berfokus pada produk akhir. Guru dapat menggabungkan tugas tertulis dengan diskusi, presentasi, demonstrasi, refleksi, dan pertanyaan lisan untuk memahami proses berpikir siswa.

Siswa juga dapat diminta menunjukkan tahapan pengerjaan, menjelaskan sumber informasi, atau menguraikan perubahan yang mereka lakukan setelah memeriksa hasil dari AI.

Pendekatan tersebut membantu guru menilai pemahaman yang sebenarnya, bukan sekadar tampilan akhir sebuah tugas.

Namun, penggunaan AI juga perlu disesuaikan dengan usia dan kesiapan peserta didik. Untuk siswa sekolah dasar, pendampingan guru dan orang tua sangat penting. Tidak semua aktivitas belajar perlu menggunakan AI, dan tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan teknologi.

Ada saatnya anak perlu membaca buku secara langsung, menulis dengan pemikirannya sendiri, berdiskusi dengan teman, mengamati lingkungan, dan mencoba menyelesaikan masalah tanpa bantuan aplikasi.

Pendidikan yang baik bukan pendidikan yang menggunakan teknologi sebanyak-banyaknya, melainkan pendidikan yang mampu memilih kapan teknologi membantu dan kapan pengalaman langsung lebih dibutuhkan.

Masa Depan Madrasah Ditentukan oleh Cara Kita Beradaptasi

Kehadiran AI bukan alasan bagi madrasah untuk meninggalkan nilai-nilai pendidikan yang telah dibangun. Sebaliknya, perkembangan teknologi menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali tujuan pendidikan.

Madrasah perlu melahirkan generasi yang tidak hanya mampu menggunakan perangkat digital, tetapi juga mampu berpikir kritis, menjaga integritas, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.

Untuk mencapai tujuan tersebut, guru membutuhkan dukungan, peserta didik membutuhkan pendampingan, orang tua membutuhkan pemahaman, dan pimpinan madrasah membutuhkan keberanian untuk mengembangkan kebijakan yang relevan.

Perubahan tidak harus dimulai dengan sistem yang rumit. Ia dapat dimulai dari satu pertanyaan yang lebih baik di ruang kelas, satu tugas yang mendorong siswa memeriksa bukti, atau satu aturan yang membantu warga madrasah menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Langkah-langkah kecil tersebut dapat menjadi fondasi bagi budaya belajar yang lebih kuat.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa canggih AI yang telah digunakan madrasah, melainkan apakah teknologi tersebut membantu peserta didik menjadi manusia yang lebih berpengetahuan, lebih bijaksana, dan lebih bertanggung jawab.

Sebab, ketika mesin semakin mudah menghasilkan jawaban, tugas pendidikan bukan berhenti mengajarkan pengetahuan. Tugas pendidikan justru semakin penting: membentuk manusia yang mampu menilai jawaban, memahami makna, dan memilih tindakan yang benar.

Madrasah masa depan bukan madrasah yang menyerahkan pendidikan kepada teknologi, melainkan madrasah yang menjadikan teknologi sebagai alat untuk memperkuat ilmu, karakter, dan kemanusiaan.

Oleh: M. Zhaharil Fikri, S.Pd.I., M.Pd.

Pendidik • Kepala Madrasah • Penulis • Peneliti Pendidikan • Penggerak Inovasi Madrasah