Ramadan di Perantauan: Kali Pertama

Maaghna Ramadhan
Mahasiswa Program Studi Jurnalistik Universitas Padjadjaran
Konten dari Pengguna
19 April 2022 13:36 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Maaghna Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Warung Kopi ADD Jatinangor, Sumedang (Maaghna Ramadhan)
zoom-in-whitePerbesar
Warung Kopi ADD Jatinangor, Sumedang (Maaghna Ramadhan)
ADVERTISEMENT
“Sini, No. Aku sudah sampai di kost,” ujar Erwin kepadaku, di saat aku sedang bermain futsal.
ADVERTISEMENT
Hai, aku Nino, seorang Mahasiswa yang sedang menjalankan studi di tanah Padjadjaran. Ini adalah kali pertama aku melangsungkan studi dengan jarak yang jauh dari tempat aku dilahirkan, tanah Batavia, Jakarta.
Jarak yang jauh membuatku memegang titel sebagai “mahasiswa rantau”, yang mengharuskan untuk menghuni kost di tanah perantauan. Sudah beberapa bulan aku di sini, lima atau enam bulan, aku tidak ingat berapa lama tepatnya.
Tidak pernah terpikir sebelumnya, harus menjalankan bulan suci Ramadan di luar tanah kelahiran. Namun, tahun ini aku merasakan suasana menjalankan ibadah pada bulan Ramadan di tanah perantauan.
Perbedaan dan penyesuaian terjadi pada bulan suci Ramadan tahun ini. Aku dan Erwin harus menyesuaikan diri dengan suasana yang belum pernah kami rasakan sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Erwin adalah teman sebangku-ku sejak sekolah menengah. Pada bangku kuliah, aku dan Erwin mengambil fokus studi yang berbeda. Aku berminat pada bidang kejurnalistikan sedangkan Erwin berminat pada bidang ekonomi dan bisnis.
Erwin baru menempati kost pada minggu kedua pada saat Ramadan dikarenakan ada jadwal kuliah yang mengharuskannya datang. Ia tiba pukul 11 tengah malam, dan langsung memberikan kabar padaku saat aku sedang bermain futsal.
Erwin adalah orang yang sangat menyukai keramaian, berbanding terbalik dengan aku yang tidak mempunyai energi sosial sebanyak Erwin. Erwin lebih suka berbuka puasa dan sahur dengan kawannya di rumah makan, sedangkan aku lebih nyaman berbuka puasa dan sahur di kost, selama “amunisi” masih tersedia di kamar.
ADVERTISEMENT
Perbedaan yang Kami Rasakan
Jumat malam di minggu kedua bulan April, aku dan Erwin berbincang mengenai pengalaman masing-masing. Kopi hitam panas, ditemani lagu Green Day menemani obrolan kami waktu itu.
“No, gimana sahur nanti, mau makan apa dan di mana?”
“Belum tau, Win. Sepertinya aku makan di kost saja, stok mie instan-ku masih banyak, hehehe”
“Beda banget ya, tahun ini. Puasa kali ini bener-bener harus ekstra mandiri”
“Iya, Win. Semuanya serba usaha buat dapetinnya”
Dengan latar belakang yang berbeda namun dengan pengalaman yang sama, aku dan Erwin berbincang mengenai perbedaan yang kami rasakan setelah satu minggu berpuasa di tanah rantau.
Perbedaan pertama ialah sahur dan berbuka puasa. Di rumah kita tidak perlu berpikir ke mana-mana untuk menu hidangannya. Tinggal request saja ke koki rumahku, yakni Ibu.
ADVERTISEMENT
Erwin pun berpikiran yang sama denganku, di mana ia tidak perlu memikirkan akan berbuka dan sahur dengan apa, karena sudah dihidangkan di meja makan.
Di tanah rantau, kami perlu berpikir dan berusaha untuk berbuka puasa dan sahur, entah memasak, membeli makanan di luar, ataupun mencari makanan gratis di Masjid Raya kampus kami.
Perbedaan kedua ialah tidak adanya Ibu yang masuk ke kamar, hanya untuk mengingatkan kami bahwa waktu sahur dan waktu berbuka puasa sudah tiba. Saat ini, kami hanya bergantung pada alarm yang kami atur sebelum pergi tidur, baik alarm secara harfiah maupun alarm teman kost.
Biasanya, sebelum kami pergi tidur, kami meminta tolong teman kost atau teman tongkrongan untuk membangunkan kami. Tetap saja, rasanya tdak akan sama dengan kehadiran sesosok orang tua yang langsung membangunkan kami di kamar.
ADVERTISEMENT
“No, nanti tolong bangunkan aku pukul tiga (pagi) ya, kita sahur bersama”
-Erwin
Perbedaan ketiga ialah keharusan untuk mengoordinir diri sendiri. Manajemen adalah salah satu dasar yang harus dikuasai diri sendiri, apalagi dengan kondisi kami yang sedang berada di tanah perantauan.
Manajemen finansial, sikap, perilaku, dan kesadaran diri untuk beribadah merupakan pembelajaran yang aku dan Erwin dapatkan di sini.
Sebelumnya, kami tidak perlu khawatir mengenai keuangan atau pengeluaran karena pada bulan puasa di tahun-tahun sebelumnya, kami tidak mengeluarkan uang untuk membeli kebutuhan kamar, juga untuk berbuka dan sahur. Di sini, semuanya harus direncanakan agar tidak ada insiden “mie instan setiap hari”.
Manajemen sikap dan perilaku juga harus ditingkatkan. Seperti yang dikatakan pepatah bahwa “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, kami pun harus menerapkan sikap tersebut di tanah perantauan.
ADVERTISEMENT
Budaya, kebiasaan, dan aturan yang berbeda dibandingkan dengan tanah kelahiran mengharuskan kami untuk beradaptasi dengan cepat agar tercipta kondisi bermasyarakat yang ideal.
Terakhir manajemen kesadaran diri untuk beribadah. Hal ini harus diperhatikan pula dikarenakan tidak adanya orang tua yang mengingatkan kami, sehingga kesadaran untuk beribadah perlu ditingkatkan.
Berpuasa di luar zona nyaman (tanah kelahiran) kita memang akan terasa aneh dan canggung pada eksekusinya. Aku dan Erwin yang baru pertama kali merasakan berpuasa di tanah perantauan, sekaligus pengalaman pertama berpuasa di luar tanah kelahiran, merasakan hal aneh dan canggung itu.
Sesuatu yang perlu diingat adalah, kita tidak sendiri di tanah perantauan. Kesamaan latar belakang sebagai anak rantau akan membangkitkan rasa solidaritas antara satu sama lain.
ADVERTISEMENT
Hal yang perlu diperhatikan agar berpuasa dengan lancar di tanah perantauan (salah satunya) ialah dengan menganggap teman-teman (perantauan) yang lain sebagai keluarga, karena keluarga akan selalu mengingatkan, melindungi, dan menyayangi satu sama lain.