Konten dari Pengguna

Mangrove di Air Besar dan Pager Kindik Belum Termanfaatkan

MaCe Papua

MaCe Papuaverified-green

Mari Cerita (MaCe) Papua adalah platform digital untuk menyebarkan nilai-nilai positif tentang hutan, budaya dan masyarakat di Tanah Papua.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari MaCe Papua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mangrove di Air Besar dan Pager Kindik Belum Termanfaatkan
zoom-in-whitePerbesar

Kawasan hutan mangrove di wilayah Air Besar dan Pager Kindik, Kabupaten Fak-Fak, hampir tidak tersentuh sama sekali. Kawasan itu masih lebat dan asri. Sayangnya, sedikit sekali masyarakat yang memanfaatkan sumber daya ekosistem mangrove tersebut.

Mangrove di Air Besar hanya dimanfaatkan oleh 2-3 orang yang selalu memancing ikan dan kepiting di sekitar kawasan tersebut. Bahkan, Sumber daya kawasan mangrove di Pager Kindik, Distrik Warbea Utara, sama sekali tidak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya.

Kedua kampung tersebut hanya mengandalkan hasil pertanian pala. Karena menurut mereka, pala lebih bernilai secara ekonomis karena harga per kilogramnya mencapai 50 ribu rupiah.

Kawasan hutan mangrove di Pager Kindik yang berdekatan dengan jalan raya antardesa kondisinya mulai menurun. Sebelumnya, kawasan ini luasnya beberapa hektar. Kini luasannya berkurang drastis akibat proyek jalan raya antardesa yang memanfaatkan sebagian wilayah kawasan hutan mangrove. Hal ini diperburuk oleh masyarakat yang mengambil bebatuan yang ada di kawasan tersebut.

Sementara itu, masyarakat di wilayah Air Besar yang secara administratif sangat berdekatan dengan Kabupaten Fak-Fak makin gencar memanfaatkan hasil hutan yang berupa biji pala untuk dijual.

Minimnya pemanfaatan sumber daya kawasan hutan mangrove bukan tanpa alasan. Pasalnya, menurut pengakuan dua kepala kampung (Air Besar dan Pager Kindik), mereka kurang mendapatkan sosialisasi pemanfaatan mangrove.

Pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh pihak-pihak terkait dalam pengembangan dan pemberdayaan masyarakat juga sangat jarang. Padahal, pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di dua kampung tersebut sangat diperlukan ke depannya.

Sama dengan Kampung Kambala di Kabupaten Kaimana, sosialisasi tentang pemanfaatan ekosistem mangrove di Kampung Air Bersih dan Pager Kindik masih minim. Masyarakat pun minim pengetahuan tentang potensi dan manfaat hutan mangrove. Akibatnya, kedua wilayah tersebut hanya memanfaatkan satu komoditas pala saja sebagai mata pencaharian masyarakat sehari-hari.

Hal ini sangat disayangkan mengingat Papua Barat memiliki luasan mangrove cukup besar. Provinsi ini memiliki Kawasan mangrove yang luas atau 69 persen dari luasan mangrove yang ada di Indonesia. Kawasan mangrove yang masih dalam kondisi sehat berada di wilayah pesisir selatan Papua Barat dan Kampung Kambala, Air Besar, dan Pagar Kindik berada dalam jalur pesisir tersebut.

Melihat kondisi ini, semua pihak, terutama pemerintah, masyarakat, serta organisasi non-pemerintah harus meningkatkan intensitas perhatiannya terhadap kawasan ekosistem mangrove di dan wilayah Papua. Mangrove akan memberikan kesehjateraan bagi masyarakat sekitar jika mereka mengetahui pengelolaan dan pemanfaatan hutan mangrove secara berkelanjutan.