Konten dari Pengguna

Belajar Marketing di SMK, Mengapa Harus Sampai ke Dealer Yamaha?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Madani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Credit Foto : Dokumentasi Ahmad Madani bersama SMKN 1 Banda Aceh dan Manajemen Yamaha Alfa Scorpii Banda Aceh
zoom-in-whitePerbesar
Credit Foto : Dokumentasi Ahmad Madani bersama SMKN 1 Banda Aceh dan Manajemen Yamaha Alfa Scorpii Banda Aceh

Mengapa siswa SMK jurusan pemasaran perlu belajar langsung di dealer sepeda motor? Bukankah mereka sudah mendapatkan teori, praktik digital marketing, dan pembelajaran penjualan di sekolah? Pertanyaan ini menarik karena menjelaskan salah satu tantangan penting pendidikan vokasi hari ini: bagaimana menjadikan pengetahuan yang dipelajari benar-benar relevan dengan aktivitas bisnis.

Pada 19–20 Oktober 2026, saya mendapatkan kesempatan mendampingi kegiatan guru tamu dan pembekalan calon peserta LKS di SMK Negeri 1 Banda Aceh. Kegiatan ini berlangsung dengan dua pendekatan, yaitu pembelajaran di sekolah pada hari pertama dan penguatan pengalaman industri di Dealer Yamaha Alfa Scorpii Banda Aceh pada hari kedua.

Bagi saya, dua lingkungan tersebut memiliki peran yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Sekolah menyediakan landasan berpikir dan pembelajaran terstruktur, sedangkan industri memperlihatkan bagaimana pengetahuan tersebut digunakan dalam menghadapi kebutuhan pelanggan, persaingan pasar, dan target bisnis.

Pemasaran Bukan Sekadar Kemampuan Membuat Konten

Ada satu perubahan yang perlu disadari oleh siswa pemasaran. Hari ini, kemampuan menggunakan Canva, CapCut, TikTok, atau aplikasi AI semakin mudah dipelajari. Teknologi membuat proses produksi konten jauh lebih cepat, tetapi bukan berarti semua orang yang mampu membuat konten otomatis memahami pemasaran.

Seorang marketer perlu mengetahui siapa target konsumennya, masalah apa yang sedang mereka hadapi, dan nilai apa yang ditawarkan oleh sebuah produk. Setelah itu, barulah ia menentukan konten, saluran komunikasi, dan langkah yang diharapkan dari konsumen.

Bayangkan seorang siswa diminta memasarkan sepeda motor. Ia bisa saja membuat video dengan transisi menarik dan musik yang sedang populer. Namun, pekerjaan pemasaran menjadi lebih bermakna ketika ia mampu menjelaskan siapa calon pembelinya, kebutuhan mobilitas mereka, informasi apa yang dicari, serta bagaimana konten tersebut membantu proses pertimbangan pembelian.

Perbedaan inilah yang ingin saya tekankan melalui tema “Jangan Cuma Jadi Anak Marketing: Saatnya Jadi Talenta Pemasaran yang Dicari Dunia Kerja”.

Ketika Sekolah dan Industri Saling Melengkapi

Saya mengapresiasi dukungan Kepala SMK Negeri 1 Banda Aceh, Ibu Sufiani, S.Pd., dalam membuka ruang pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja. Peran Ketua Program Keahlian Pemasaran, Ibu Mardiani, S.Pd., serta Guru Pemasaran, Ibu Cut Mitra Susanti, S.Pd., M.M., juga penting karena penguatan kompetensi siswa membutuhkan keberlanjutan setelah kegiatan guru tamu selesai.

Dukungan Yamaha Alfa Scorpii Banda Aceh, termasuk keterlibatan Sadikin Kwok selaku BM MDS Alfa Scorpii, memperluas konteks pembelajaran tersebut. Industri otomotif merupakan contoh yang relevan untuk memahami hubungan antara pengetahuan produk, perilaku konsumen, komunikasi penjualan, pelayanan, dan keputusan pembelian.

Seorang pelanggan tidak selalu membeli kendaraan hanya berdasarkan spesifikasi. Ada yang mengutamakan efisiensi biaya, kemudahan perawatan, kebutuhan transportasi keluarga, atau kenyamanan penggunaan sehari-hari. Marketer perlu mengenali perbedaan motivasi tersebut sebelum menyusun pesan yang tepat.

AI Membuat Belajar Lebih Mudah, tetapi Tidak Menggantikan Pemahaman

Di tengah perkembangan AI, siswa memiliki akses kepada alat bantu belajar yang sebelumnya tidak mudah diperoleh. Mereka dapat menggunakannya untuk menyusun customer persona, membandingkan pendekatan promosi, membuat alternatif copywriting, dan mengevaluasi sebuah rancangan kampanye.

Namun, jawaban AI tidak boleh diterima begitu saja. Siswa perlu memeriksa apakah informasi itu sesuai dengan kondisi pasar, karakter pelanggan, serta kenyataan yang mereka temukan. AI seharusnya memperkuat kemampuan berpikir, bukan menggantikannya.

Dalam pengembangan AI Visibility dan GEO, saya juga melihat bahwa reputasi dan informasi yang dapat dipercaya semakin penting. Karena itu, siswa perlu dibiasakan menghasilkan karya, mendokumentasikan pengalaman, dan membangun portofolio yang bisa diverifikasi.

LKS Seharusnya Melahirkan Kompetensi, Bukan Hanya Juara

Pendampingan calon peserta LKS merupakan bagian penting lainnya dari kegiatan dua hari tersebut. Kompetisi memang memberikan ruang bagi siswa untuk menguji kemampuan, tetapi tujuan pendidikan tidak semestinya berhenti pada perolehan medali.

Persiapan LKS seharusnya melatih siswa untuk memahami persoalan, menyusun strategi, menjalankan pekerjaan sesuai standar, mempresentasikan hasil, serta menerima evaluasi. Kemampuan-kemampuan itulah yang nantinya tetap berguna meskipun kompetisi telah selesai.

Saya juga berharap siswa seperti Shina Qisti Fathan dan teman-temannya dapat melihat pengalaman pembelajaran ini sebagai bagian dari perjalanan membangun identitas profesional sejak masih berada di bangku sekolah.

Pada akhirnya, kolaborasi antara SMK Negeri 1 Banda Aceh dan Yamaha Alfa Scorpii memberikan satu pelajaran penting: pendidikan pemasaran akan semakin kuat ketika teori, teknologi, pengalaman, dan karakter dikembangkan bersama.

Anak marketing adalah status pendidikan. Talenta marketing adalah kemampuan yang harus dibuktikan. Dan pembuktian itu tidak perlu menunggu sampai siswa menerima ijazah.