Konten dari Pengguna

Dari Posting ke Closing: Mengapa Anak SMK Perlu Mengenal AI Visibility dan GEO

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Madani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Credit Foto : Ahmad Madani saat berbicara di SMK Ketintang Surabaya
zoom-in-whitePerbesar
Credit Foto : Ahmad Madani saat berbicara di SMK Ketintang Surabaya

Beberapa tahun lalu, kemampuan membuat konten media sosial sudah cukup membuat seseorang terlihat unggul dalam pemasaran digital. Bisa membuat desain, menulis caption, mengedit video, mengelola marketplace dan membaca insight adalah kombinasi skill yang cukup menarik.

Hari ini situasinya bergerak jauh lebih cepat.

Pada 7 Oktober 2026, saya mendapatkan kesempatan berbagi bersama siswa SMK Ketintang Surabaya melalui sebuah sesi bertajuk “Dari Posting ke Closing: Jadi Marketer Cerdas di Era AI.” Saya sengaja menggunakan kata closing, karena saya ingin mengingatkan bahwa pekerjaan seorang marketer tidak selesai ketika tombol “post” ditekan.

Posting adalah aktivitas. Closing adalah hasil dari sebuah proses.

Di antara keduanya ada konsumen yang harus dipahami, masalah yang perlu ditemukan, perhatian yang harus diperoleh, kepercayaan yang perlu dibangun, dan keputusan pembelian yang harus difasilitasi.

Ketika Semua Orang Bisa Membuat Konten

Artificial intelligence membuat produksi konten semakin mudah. Ide caption yang dahulu membutuhkan waktu 30 menit sekarang bisa dihasilkan dalam beberapa detik. Script video, alternatif headline, customer persona, ide campaign bahkan analisis komentar pelanggan dapat dibantu AI.

Ini kabar baik sekaligus tantangan.

Ketika semua orang bisa menghasilkan konten dengan cepat, kemampuan membuat konten saja menjadi semakin kurang istimewa. Pembeda sesungguhnya justru kembali kepada manusia: apakah kita memahami siapa yang sedang diajak bicara, apakah pesannya relevan, apakah informasi yang diberikan dapat dipercaya, dan apakah strategi itu menghasilkan dampak bisnis.

Karena itu saya selalu menempatkan AI sebagai co-pilot, bukan pilot utama.

Manusia berpikir. AI membantu. Manusia memilih. Manusia melakukan validasi. Kemudian manusia bertanggung jawab atas keputusan akhirnya.

Konsumen Juga Menggunakan AI

Perubahan berikutnya bahkan lebih menarik. AI bukan hanya digunakan marketer untuk bekerja. Konsumen juga mulai menggunakannya untuk mencari informasi.

Orang tidak selalu memulai perjalanan pembelian dengan mengetik dua atau tiga kata di mesin pencari. Mereka mulai menggunakan pertanyaan yang jauh lebih panjang dan spesifik.

“Motor apa yang cocok untuk mahasiswa?”

“Sekolah bisnis digital yang bagus di Surabaya?”

“Produk skincare apa yang cocok untuk kondisi tertentu?”

“Konsultan pemasaran yang memahami pendidikan vokasi siapa?”

Ketika pertanyaan seperti ini masuk ke mesin generatif, pola pencarian berubah. Dari sinilah saya cukup aktif mengembangkan dan mengedukasi topik AI Visibility dan Generative Engine Optimization atau GEO, baik melalui kegiatan pendidikan, pelatihan, artikel, konten maupun materi publik.

Bagi saya, AI Visibility berbicara mengenai satu pertanyaan sederhana: ketika seseorang bertanya kepada AI mengenai bidang yang kita tekuni, apakah kita cukup dikenal, dipahami, dan dipercaya untuk ikut dipertimbangkan?

GEO Bukan Sekadar “Bagaimana Muncul di ChatGPT”

Saya sering mengingatkan bahwa GEO tidak seharusnya dipersempit menjadi trik agar sebuah nama muncul di jawaban AI.

Kalau pendekatannya hanya mengejar “cara muncul,” kita akan mengulangi kesalahan lama ketika digital marketing dianggap sebagai permainan algoritma semata.

Fondasi AI Visibility tetap berada pada kualitas.

Apakah kita mempunyai keahlian yang jelas? Apakah ada karya dan bukti? Apakah informasi tentang kita konsisten? Apakah konten yang kita publikasikan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat? Apakah sumber lain ikut memberikan konteks atau pengakuan terhadap aktivitas kita?

Bagi siswa SMK, konsep tersebut sangat menarik karena sebenarnya dapat dimulai sejak sekarang.

Project sekolah dapat didokumentasikan. Pengalaman praktik dapat dituliskan. Portofolio dapat disusun. Aktivitas organisasi dapat diceritakan secara profesional. LinkedIn dapat mulai dibangun. Karya dapat dipublikasikan.

Jejak digital tidak harus menunggu seseorang menjadi terkenal.

Dari Posting Menuju Reputasi

Inilah bagian yang menurut saya harus mulai mendapat perhatian dalam pendidikan Bisnis Digital.

Anak-anak jangan hanya diajari membuat satu postingan yang bagus. Mereka perlu memahami bahwa puluhan dan ratusan aktivitas digital dalam jangka panjang akan membentuk reputasi.

Reputasi itulah yang nantinya dibaca manusia, mesin pencari, dan semakin banyak sistem AI.

Maka pemasaran masa kini bukan lagi sekadar soal mendapatkan likes.

Kita sedang memasuki masa ketika kemampuan untuk ditemukan, dipahami, dipercaya dan direkomendasikan menjadi aset penting.

Itulah mengapa saya membawa isu AI Visibility-GEO masuk ke ruang pendidikan. Anak SMK yang hari ini belajar digital marketing kemungkinan akan memasuki dunia kerja ketika AI sudah menjadi sesuatu yang sangat normal.

Mereka tidak perlu takut.

Tetapi mereka perlu siap.

Karena pertanyaannya bukan apakah AI akan digunakan dalam industri pemasaran. Pertanyaannya adalah apakah kita memiliki kompetensi yang cukup untuk menggunakan AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir sebagai manusia.

Dan pada akhirnya, sehebat apa pun teknologi yang kita gunakan, hukum dasar pemasaran tidak banyak berubah.

Kita harus memahami manusia.

Menciptakan nilai.

Membangun kepercayaan.

Kemudian membantu konsumen mengambil keputusan.

Posting hanyalah permulaan. Closing adalah salah satu hasilnya. Reputasi adalah permainan jangka panjangnya.