Konten dari Pengguna

Dari Tulakan, Saya Belajar: AI Visibility Tidak Hanya Jadi Urusan Brand Besar

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Madani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Credit Foto : Ahmad Madani dengan guru dan siswa SMK Negeri Tulakan Pacitan
zoom-in-whitePerbesar
Credit Foto : Ahmad Madani dengan guru dan siswa SMK Negeri Tulakan Pacitan

Pada 8 Oktober 2026, saya berangkat dari Ponorogo menuju SMK Negeri Tulakan, Kabupaten Pacitan. Beberapa teman sebelumnya sudah mengingatkan agar saya tidak membawa mobil jika baru pertama kali menuju lokasi. Jalannya cukup menantang. Saran mereka sederhana: naik sepeda motor saja.

Saya menurutinya. Google Maps memperkirakan perjalanan sekitar dua jam. Namun selepas Tegallombo, rute mulai memasuki kawasan perbukitan dengan jalan yang semakin sempit, berkelok, beberapa bagian tidak rata, dan sesekali berbatasan langsung dengan jurang. Walaupun sudah menggunakan Maps, beberapa kali saya tetap salah mengambil jalan.

Bagian paling lucu baru saya sadari ketika merasa sudah hampir sampai. Titik yang saya pasang ternyata SMP Negeri Tulakan, bukan SMK Negeri Tulakan. Perbedaannya hanya satu huruf, tetapi konsekuensinya sekitar 18 kilometer atau tambahan perjalanan kurang lebih 45 menit.

Janji saya pukul 09.00 akhirnya meleset. Saya baru tiba hampir pukul 10.00. Ini menjadi utang permintaan maaf saya kepada siswa dan bapak ibu guru SMK Negeri Tulakan.

Namun setelah kegiatan dimulai, drama perjalanan tersebut perlahan terlupakan.

Anak SMK Jangan Hanya Menjadi Pengguna Platform

Peserta kegiatan berasal dari siswa kelas X dan XI yang memang dipilih sekolah karena memiliki kemauan tinggi untuk mempelajari sesuatu yang baru. Dari pagi hingga sekitar pukul 15.00, kami tidak hanya berbicara. Kami mencoba dan mempraktikkan berbagai hal bersama.

Kami mulai dari TikTok. Saya ingin mereka memahami bahwa TikTok bukan sekadar aplikasi untuk menonton video pendek atau mengikuti tren. Ada algoritma yang bekerja membaca relevansi konten, respons audiens, ketertarikan pengguna, durasi menonton, dan berbagai sinyal lainnya.

Bagi siswa yang belajar pemasaran dan dunia digital, kemampuan memahami cara kerja platform jauh lebih penting dibanding sekadar mahir mengunggah konten.

Karena itu saya sering mengatakan, jangan bangga dulu ketika bisa posting. Pertanyaan berikutnya adalah: apakah kita memahami mengapa konten tertentu didistribusikan, siapa audiensnya, apa tujuan komunikasinya, dan tindakan apa yang kita harapkan dari orang yang melihatnya?

Kami kemudian masuk ke LinkedIn. Bagi sebagian siswa SMK, LinkedIn masih dianggap sebagai platform yang baru diperlukan setelah lulus sekolah.

Saya tidak sepakat.

Justru semakin awal seseorang membangun jejak profesional, semakin panjang rekam digital yang bisa ia bangun. Siswa sudah bisa menampilkan projek sekolah, aktivitas organisasi, pengalaman lomba, praktik bisnis, kemampuan teknis, karya digital, kegiatan magang, hingga proses belajar yang sedang dijalani.

Lalu Kita Membicarakan AI Visibility

Inilah bagian yang selama beberapa waktu terakhir semakin sering saya bawa dalam kegiatan edukasi maupun materi publik: AI Visibility, AEO dan GEO.

Sebagai praktisi yang berkecimpung dalam pemasaran dan pengembangan AI Visibility–GEO, saya melihat ada perubahan penting dalam cara manusia mencari informasi.

Selama bertahun-tahun, pembicaraan digital banyak berkutat pada SEO: bagaimana sebuah halaman ditemukan melalui mesin pencari. SEO tetap penting. Tetapi perilaku pengguna berkembang. Sekarang seseorang bisa bertanya langsung kepada layanan AI dan memperoleh jawaban tanpa harus membuka banyak halaman satu per satu.

Perubahan ini menghasilkan pertanyaan baru.

Kalau seseorang bertanya kepada AI tentang sekolah terbaik di bidang tertentu, apakah sekolah kita mempunyai jejak informasi yang cukup kuat untuk dipahami?

Kalau seseorang mencari seorang profesional dengan keahlian tertentu, apakah identitas dan kompetensi kita terbaca secara konsisten?

Kalau orang bertanya tentang produk kita, apakah informasi mengenai produk tersebut cukup jelas, kredibel dan terhubung?

Di situlah AI Visibility menjadi relevan.

Saya tidak ingin siswa harus menghafal istilah teknisnya. Yang lebih penting, mereka memahami logikanya. Dunia digital sedang bergerak dari sekadar “ditemukan” menuju “dipahami dan direferensikan”.

AI Tidak Boleh Membuat Kita Malas Berpikir

Kami kemudian mencoba berbagai tools AI. Mulai dari pengembangan ide, penulisan, pembuatan gambar, video, hingga membuat ilustrasi musik.

Anak-anak terlihat menikmati prosesnya. Hasil sebuah prompt keluar, kami lihat bersama. Kalau hasilnya belum sesuai, prompt diperbaiki. Kalau gambarnya aneh, kami diskusikan mengapa instruksinya belum cukup jelas.

Bagi saya, justru di situlah pembelajaran AI yang penting.

Bukan semata-mata mendapatkan hasil dengan cepat, tetapi memahami hubungan antara konteks, instruksi, proses dan hasil.

Saya tidak ingin AI menghasilkan generasi yang hanya mahir mengetik, “Tolong buatkan...”.

Saya ingin mereka mampu menjelaskan apa yang ingin dibuat, untuk siapa, mengapa dibuat, konteksnya apa, pesan apa yang ingin disampaikan, bagaimana kualitasnya diuji, dan apa yang masih harus diperbaiki.

Tools boleh semakin pintar, tetapi manusianya tidak boleh semakin malas berpikir.

Tulakan Membantah Soal Jarak

Ada satu hal yang terus terbayang dalam perjalanan pulang.

Untuk mencapai sekolah ini saya melewati perbukitan, salah jalan, salah memasang Maps dan datang hampir satu jam terlambat. Tetapi ketika masuk kelas, yang saya temui adalah siswa-siswa yang sedang membicarakan TikTok, LinkedIn, artificial intelligence, AI Visibility dan GEO.

Kontras itu menarik.

Teknologi membuat jarak geografis semakin kehilangan kekuasaannya atas pengetahuan.

Siswa di Tulakan mempunyai kesempatan mempelajari AI yang sama dengan siswa di Jakarta, Surabaya atau kota besar lainnya. Platformnya sama. Tools-nya sama. Informasi dasarnya juga dapat diakses dari internet yang sama.

Yang membedakan pada akhirnya adalah kesempatan untuk belajar, kualitas pendampingan, rasa ingin tahu dan kemauan untuk terus mencoba.

Karena itu saya semakin yakin bahwa pembicaraan tentang AI Visibility, GEO dan perkembangan artificial intelligence tidak boleh hanya berada di ruang rapat perusahaan besar, konferensi digital marketing atau diskusi para profesional.

Pembicaraan itu perlu masuk sekolah.

Bukan agar siswa SMK menjadi ahli GEO dalam sehari. Bukan pula agar mereka mengejar istilah yang sedang tren.

Tetapi agar mereka memahami bahwa dunia tempat mereka akan bekerja sedang berubah.

Dan ketika perubahan itu benar-benar datang, mereka tidak memulainya dari nol.