Konten dari Pengguna

Kiai yang Mempercayai Kemampuan Saya Saat Saya Sendiri Masih Ragu

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Madani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Credit Foto : Dokumentasi Ahmad Madani : Flyer Ucapan Duka Cita atas Berpulangnya KH Jamhari Abdul Jalal
zoom-in-whitePerbesar
Credit Foto : Dokumentasi Ahmad Madani : Flyer Ucapan Duka Cita atas Berpulangnya KH Jamhari Abdul Jalal

Saya percaya bahwa ada orang-orang yang hadir dalam kehidupan kita bukan untuk memberikan apa yang kita inginkan, melainkan membantu kita menemukan sesuatu yang belum kita sadari ada dalam diri sendiri.

Bagi saya, salah satu orang tersebut adalah almarhum KH Jamhari Abdul Jalal, Lc., Pengasuh Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining.

Kabar wafatnya beliau pada Selasa, 27 Oktober 2026, membawa saya kembali kepada sebuah peristiwa menjelang akhir tahun 2002. Saat itu, selepas menyelesaikan pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor dan masa pengabdian, saya datang ke Darunnajah 2 Cipining untuk mengajukan diri menjadi guru.

Keinginan saya sederhana. Saya ingin mengabdi di pesantren, sebuah lingkungan yang sudah begitu akrab dengan kehidupan saya. Namun, harapan tersebut tidak terwujud.

KH Jamhari menyampaikan kalimat yang hingga hari ini masih saya ingat.

“Antum lebih baik di luar daripada di dalam pondok.”

Saya tidak langsung memahami maksud beliau. Saya merasa kecewa, kesal, bahkan marah. Ketika pulang menggunakan kereta Parung Panjang–Tanah Abang, saya terus bertanya kepada diri sendiri mengapa niat baik saya untuk mengajar justru tidak memperoleh kesempatan.

Tetapi di dalam perjalanan itulah saya mulai merenungkan kemungkinan bahwa ucapan beliau menyimpan makna lain.

Bagaimana kalau beliau justru melihat kemampuan dalam diri saya yang belum saya sadari? Bagaimana kalau beliau ingin saya menemukan pengalaman di luar pesantren dan suatu hari membawanya kembali untuk memberikan manfaat?

Saya tidak pernah mengetahui secara pasti apa yang beliau pikirkan. Namun, saya memilih memaknai kalimat itu sebagai bentuk keyakinan terhadap kemampuan saya, pada saat saya sendiri masih meragukannya.

Dunia Sales Mengajarkan Arti Penolakan

Selepas peristiwa tersebut, saya menjalani kehidupan sebagai seorang sales. Saya belajar berhadapan dengan pelanggan, menawarkan produk, membangun kepercayaan, bekerja dengan target, dan menerima berbagai penolakan.

Pengalaman itu menarik karena saya menemukan pelajaran yang serupa dengan kejadian di Cipining. Penolakan tidak selalu berarti kita tidak mampu. Terkadang ia hanya menunjukkan bahwa jalan yang sedang kita tempuh bukan satu-satunya jalan untuk mencapai tujuan.

Karier saya kemudian berkembang ke bidang pemasaran, pelatihan, dan pendidikan vokasi. Saya mendapat kesempatan berbagi dengan berbagai kalangan, mulai dari tenaga penjualan, praktisi industri, mahasiswa, guru, hingga siswa SMK.

Semua pengalaman tersebut membuat saya semakin memahami bahwa pengabdian tidak hanya berlangsung di dalam lembaga pendidikan. Dunia kerja juga dapat menjadi ruang belajar, sedangkan pengalaman profesional dapat menjadi bahan pembelajaran yang bermanfaat bagi generasi berikutnya.

Kembali ke Tempat yang Pernah Menolak Saya

Bagian paling mengharukan dari perjalanan ini adalah ketika saya kembali ke Darunnajah 2 Cipining. Selama lima tahun terakhir, saya secara rutin mendapatkan kesempatan memberikan pembekalan kepada santri akhir sebelum mengikuti Rihlah Iqtishodiyah.

Dulu saya datang untuk meminta kesempatan menjadi guru. Sekarang, saya datang untuk berbagi pengalaman kepada para santri tentang kehidupan di luar pesantren.

Ada rasa syukur yang sulit saya gambarkan setiap kali berdiri di hadapan mereka. Saya teringat pemuda yang pernah meninggalkan Cipining dengan perasaan kecewa, lalu kembali bertahun-tahun kemudian membawa cerita yang berbeda.

Saya pun kembali teringat pada nasihat KH Jamhari bahwa masa depan ditentukan oleh apa yang kita lakukan hari ini. Bagi saya, nasihat itu mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyerahkan masa depan kepada kekecewaan yang pernah kita alami.

Kini beliau telah berpulang. Saya kehilangan sosok yang dalam pemahaman saya pernah melihat potensi yang belum mampu saya percayai sendiri.

Saya tidak pernah berhasil menjadi guru tetap di Darunnajah 2 Cipining. Tetapi saya mendapatkan kesempatan untuk tetap berbagi kepada para santrinya melalui jalan lain.

Dulu kalimat beliau membuat saya merasa ditolak. Hari ini, kalimat yang sama justru membuat saya merasa dipercaya.

Terima kasih, Kiai. Semoga seluruh pengabdian antum menjadi amal jariah, dan semoga Allah SWT menempatkan antum di tempat terbaik di sisi-Nya.

Al-Fatihah.