Mengapa Saya Selalu Menyempatkan Diri Berbagi di Pesantren?
Tulisan dari Ahmad Madani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perjalanan Kerja yang Membuka Kesempatan Lain
Mengapa seseorang yang bekerja di bidang pemasaran, pengembangan kompetensi penjualan, dan pendidikan vokasi justru sering menyempatkan diri mengunjungi pesantren? Bukankah kedua lingkungan tersebut memiliki orientasi dan aktivitas yang berbeda?
Pertanyaan ini mungkin muncul ketika melihat sebagian kegiatan yang saya lakukan sepanjang perjalanan profesional ke berbagai daerah. Dalam satu waktu, saya bisa berada di sekolah kejuruan untuk membicarakan kompetensi pemasaran. Pada kesempatan lain, saya berbagi pengalaman dengan pelaku industri mengenai perkembangan keterampilan penjualan. Namun, ketika terdapat pesantren yang tidak jauh dari lokasi kegiatan, saya kerap berusaha menyisihkan waktu untuk bersilaturahmi dan berdiskusi dengan para pendidiknya.
Kebiasaan tersebut bukan sesuatu yang muncul tanpa alasan. Saya merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2001. Sebagian nilai yang membentuk perjalanan hidup dan cara saya bekerja hari ini berasal dari pengalaman pendidikan pesantren. Karena itu, ketika mendapat kesempatan belajar dan berkembang di dunia profesional, saya merasa ada pengetahuan yang layak dibagikan kembali kepada lingkungan pendidikan yang memiliki kedekatan historis dengan perjalanan hidup saya.
Salah satu kesempatan tersebut berlangsung pada 19 Oktober 2026, ketika saya berbagi dengan para guru Pesantren Modern Al-Manar, Aceh Besar. Di tengah rangkaian agenda profesional di Banda Aceh, saya mengangkat tema "Pesantren Hebat, Jangan Hanya Dikenal di Dalam!" yang berfokus pada pentingnya tulisan dan publikasi digital dalam memperkuat reputasi lembaga pendidikan.
Pesantren Memiliki Banyak Cerita yang Belum Ditulis
Saya memandang pesantren sebagai lembaga pendidikan yang kaya akan pengalaman dan pengetahuan. Di dalamnya, guru tidak hanya berinteraksi dengan santri ketika menyampaikan materi pelajaran. Mereka juga terlibat dalam proses pembentukan karakter, pembiasaan disiplin, pengembangan kemampuan komunikasi, dan berbagai aspek kehidupan berasrama.
Pengalaman tersebut menyimpan banyak pelajaran yang relevan bagi masyarakat luas. Misalnya, bagaimana pesantren mengembangkan keberanian santri melalui kegiatan pidato? Bagaimana pembina organisasi membentuk tanggung jawab dan kepemimpinan? Bagaimana guru mendampingi santri yang mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru?
Sayangnya, tidak semua pengalaman pendidikan tersebut terdokumentasikan dalam bentuk tulisan. Banyak kegiatan sudah dipublikasikan melalui foto dan video, tetapi penjelasan mengenai proses, metode, dan nilai pendidikan di baliknya belum selalu tersedia.
Padahal, tulisan dapat memberikan dimensi yang berbeda. Jika foto memperlihatkan sebuah kegiatan, artikel dapat menjelaskan mengapa kegiatan itu penting. Jika video merekam penampilan santri, tulisan dapat membantu pembaca memahami proses pendidikan yang melatarbelakanginya.
Di sinilah saya melihat peluang besar bagi guru pesantren untuk mengambil peran lebih aktif dalam membangun dokumentasi pengetahuan dan reputasi lembaga.
Dari Reputasi Lokal Menuju Reputasi Digital
Selama bertahun-tahun, banyak pesantren membangun kepercayaan masyarakat melalui rekomendasi alumni, wali santri, dan hubungan langsung dengan komunitas sekitar. Cara tersebut tetap penting karena reputasi pada dasarnya bertumpu pada pengalaman nyata dan kepercayaan yang terus dijaga.
Namun, masyarakat kini juga mencari informasi melalui mesin pencari, website, platform profesional, media sosial, dan layanan berbasis kecerdasan buatan. Ketika mereka ingin memahami suatu lembaga pendidikan, informasi digital menjadi salah satu bahan pertimbangan.
Jika sebuah pesantren memiliki dokumentasi yang lengkap, artikel yang bermutu, dan penjelasan yang dapat diverifikasi, masyarakat mempunyai lebih banyak bahan untuk mengenali identitas dan kontribusi lembaga tersebut.
Itulah mengapa saya mendorong guru untuk tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga menjadi penghasil pengetahuan. Platform seperti LinkedIn dapat dimanfaatkan untuk membagikan pengalaman profesional pendidik. Kompasiana menyediakan ruang untuk menulis refleksi dan opini pendidikan, sedangkan website pesantren berfungsi sebagai pusat dokumentasi resmi lembaga.
Ketiganya tidak perlu dipertentangkan. Dengan strategi yang tepat, ketiganya dapat saling melengkapi.
Mengapa Saya Mengajarkan QASEC?
Salah satu tantangan ketika mengajak guru menulis adalah keraguan untuk memulai. Banyak orang memiliki pengalaman yang menarik, tetapi merasa kesulitan mengubahnya menjadi artikel yang runtut.
Karena itu, dalam kegiatan di Al-Manar saya memperkenalkan QASEC, sebuah kerangka menulis yang terdiri dari Question, Answer, Story, Explanation, dan Conclusion. Pendekatan ini mengajak guru memulai tulisan dengan pertanyaan, menjawab persoalan, menghadirkan cerita, menjelaskan makna, dan menutupnya dengan kesimpulan.
Sebagai contoh, seorang guru dapat memulai artikel dengan pertanyaan, "Mengapa santri perlu dilatih berbicara di depan umum?" Jawabannya kemudian diperkuat dengan pengalaman pendidikan yang benar-benar terjadi, penjelasan mengenai proses pembelajaran, serta kesimpulan tentang pentingnya keterampilan komunikasi dalam pembentukan karakter.
QASEC bukan formula yang menjamin artikel menjadi populer. Kerangka tersebut hanya membantu penulis menyusun gagasan dengan lebih jelas. Kualitas tulisan tetap bergantung pada ketepatan informasi, pengalaman penulis, kedalaman penjelasan, dan relevansinya bagi pembaca.
Dalam konteks perkembangan AI Visibility dan Generative Engine Optimization (GEO), konten yang autentik, kredibel, dan mudah dipahami juga memiliki peran penting dalam membangun jejak pengetahuan digital. Meski demikian, tidak ada jaminan bahwa setiap artikel akan otomatis muncul dalam jawaban AI atau memperoleh peringkat tertentu di mesin pencari.
Mengapa Saya Tetap Menyempatkan Diri?
Saya tidak memandang kunjungan ke pesantren sebagai kegiatan yang harus selalu menghasilkan publikasi besar. Kadang, manfaat paling penting justru muncul dari percakapan sederhana, pertukaran pengalaman, atau pertanyaan yang diajukan seorang guru.
Pada awal Oktober 2026, saya menyempatkan diri mengunjungi Pesantren Syafa'atul Qur'an (SyauQie) di Jember setelah menjalankan tugas di SMK Islam Bustanul Ulum. Di Aceh, saya kembali memperoleh kesempatan berbagi bersama guru Al-Manar. Kedua kesempatan tersebut berlangsung dalam konteks perjalanan yang berbeda, tetapi memiliki semangat yang sama: menjaga hubungan dengan dunia pesantren sekaligus membagikan pengetahuan yang relevan.
Saya tidak beranggapan bahwa setiap kunjungan singkat dapat langsung menghasilkan perubahan besar. Perubahan membutuhkan komitmen kelembagaan, tindak lanjut, dan kemauan para pendidik untuk terus belajar. Namun, sebuah pertemuan dapat menjadi awal munculnya gagasan yang sebelumnya belum terpikirkan.
Mungkin ada guru yang kemudian mulai menulis pengalaman mengajarnya. Mungkin ada pengelola pesantren yang terdorong memperbaiki website lembaga. Mungkin ada pendidik yang mulai memahami bahwa kompetensi profesionalnya juga layak dikenal di ruang digital.
Bagi saya, kemungkinan-kemungkinan itulah yang membuat kegiatan berbagi tetap bernilai.
Penutup: Perjalanan Profesional dan Tanggung Jawab Berbagi
Pada akhirnya, alasan saya menyempatkan diri berbagi di pesantren bukan karena semua pesantren harus mengikuti perkembangan pemasaran digital, melainkan karena setiap lembaga pendidikan membutuhkan kesempatan untuk memahami perubahan zaman sesuai kebutuhan dan nilai yang dimilikinya.
Pesantren tidak harus berubah menjadi lembaga yang sibuk mengejar popularitas digital. Pesantren cukup menjaga kualitas pendidikannya, mendokumentasikan pengetahuan dengan baik, dan membagikan informasi yang dapat membantu masyarakat memahami kontribusinya.
Selama perjalanan profesional masih membawa saya ke berbagai daerah, saya berharap tetap memiliki kesempatan untuk berjumpa dengan komunitas pendidikan pesantren. Bukan karena saya selalu datang membawa semua jawaban, tetapi karena setiap pertemuan memberikan kesempatan untuk saling belajar.
Dari pesantren saya pernah mendapatkan bekal kehidupan. Melalui berbagai perjalanan hari ini, saya ingin terus mencari cara agar sebagian bekal tersebut dapat kembali memberikan manfaat.

