Konten dari Pengguna

Mental Marketing di Era AI: Mengapa Siswa Harus Berani Ditolak?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Madani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Credit Foto : Ahmad Madani bersama guru dan siswa siswi SMK Negeri 1 Wonogiri
zoom-in-whitePerbesar
Credit Foto : Ahmad Madani bersama guru dan siswa siswi SMK Negeri 1 Wonogiri

Ada satu paradoks yang menarik dalam dunia kewirausahaan anak muda. Banyak yang ingin mempunyai bisnis, tetapi tidak sedikit yang masih malu menawarkan produk. Ingin menjadi entrepreneur, tetapi takut ketika harus mendengar jawaban “tidak”.

Persoalan inilah yang saya bawa dalam Sharing Session di SMK Negeri 1 Wonogiri pada 12 Oktober 2026. Saya menggunakan judul “Jangan Takut Ditolak: Bangun Mental Marketer dan Entrepreneur Sejak Sekarang.”

Bagi saya, kemampuan pemasaran tidak boleh dimulai hanya dari teknik. Kita boleh mengajarkan content marketing, marketplace, social media, live selling, artificial intelligence, sampai analisis data. Namun ada satu fondasi yang sering luput: mental orang yang akan menjalankan semua teknik tersebut.

Penolakan Bukan Selalu Kegagalan

Ketika seorang siswa menawarkan produk kepada sepuluh orang dan enam orang menolak, apa kesimpulan yang muncul?

Kalau kesimpulannya adalah “saya tidak berbakat jualan”, maka proses belajarnya berhenti terlalu cepat.

Penolakan sebenarnya dapat dibaca sebagai data. Apakah produknya kurang relevan? Apakah harga tidak sesuai? Apakah target konsumennya salah? Apakah cara menjelaskan manfaat belum tepat? Atau calon pembeli memang belum membutuhkan produk tersebut?

Cara berpikir seperti itulah yang perlu dibangun.

Marketer bukan orang yang selalu berhasil menjual. Marketer adalah orang yang mampu membaca respons pasar dan memperbaiki pendekatannya.

Jangan Hanya Belajar Posting

Hari ini siswa tumbuh di lingkungan digital. Membuat postingan, video, desain, atau caption relatif semakin mudah. Artificial intelligence bahkan dapat membantu menghasilkan ide dalam hitungan detik.

Masalahnya, marketing tidak berhenti pada produksi konten.

Konten harus mempunyai tujuan. Marketer harus memahami siapa yang ingin dijangkau, apa masalah mereka, mengapa produk relevan, dan nilai apa yang dapat ditawarkan.

Karena itu saya lebih suka mengajak siswa mengubah pertanyaan “Apa yang bisa saya jual?” menjadi “Masalah apa yang bisa saya bantu selesaikan?”

Pertanyaan kedua memaksa kita melihat pasar dari perspektif konsumen.

Dari Search Visibility Menuju AI Visibility

Perubahan lain yang perlu mulai dikenali siswa adalah cara manusia menemukan informasi.

Selama bertahun-tahun dunia digital sangat akrab dengan mesin pencari. Bisnis berusaha muncul ketika seseorang mengetikkan kata kunci tertentu. Hari ini perilaku tersebut mulai meluas karena orang dapat bertanya langsung kepada generative AI dan mendapatkan rangkuman atau rekomendasi.

Di sinilah pembahasan tentang AI Visibility dan Generative Engine Optimization (GEO) menjadi relevan.

Sebagai Praktisi Pemasaran & Vokasi, AI Visibility–GEO Educator, dan Sales Evolution Trainer, saya banyak membawa tema ini dalam kegiatan edukasi maupun materi publik. Bukan karena semua siswa harus menjadi ahli GEO sekarang, tetapi karena mereka perlu memahami bahwa medan pemasaran terus berubah.

Hari ini kita berbicara tentang social media. Besok tantangannya bisa berupa bagaimana brand, institusi, produk, dan bahkan profil profesional seseorang dipahami oleh mesin AI.

Namun teknologi tersebut tetap tidak menggantikan fondasi manusia.

AI dapat membantu riset dan konten, tetapi tidak menggantikan integritas. AI bisa membantu membuat presentasi, tetapi tidak menggantikan komunikasi. AI dapat memberikan ide penawaran, tetapi tidak menggantikan keberanian menghadapi konsumen.

Sekolah adalah Tempat Aman untuk Mencoba

Justru karena masih berada di sekolah, siswa mempunyai ruang yang relatif aman untuk gagal.

Mereka dapat mencoba bisnis kecil, menjadi reseller, membuat proyek konten, membantu UMKM, belajar live selling, membuat katalog digital, atau mengelola akun media sosial.

Mungkin hasilnya belum sempurna.

Itu tidak masalah.

Yang dicari bukan langsung keuntungan besar, tetapi proses membentuk skill, portofolio, pengalaman, dan mental.

Ketika siswa terbiasa mencoba sejak kelas X atau XI, mereka akan memiliki bekal yang lebih nyata ketika memasuki dunia kerja maupun membangun usaha.

Ijazah tetap penting. Tetapi dunia kerja juga semakin sering bertanya: apa yang bisa kamu lakukan, pengalaman apa yang pernah kamu miliki, dan nilai apa yang mampu kamu berikan?

Berani Ditolak, Berani Berkembang

Mental entrepreneur tidak berarti semua siswa harus menjadi pengusaha.

Mental entrepreneur adalah keberanian melihat peluang, mengambil inisiatif, beradaptasi, memecahkan masalah, dan bertanggung jawab terhadap hasil.

Karena itu, saya ingin siswa tidak terlalu takut dengan penolakan.

Jawaban “tidak” bukan akhir.

Bisa jadi ia hanya berarti belum tepat waktunya, belum tepat konsumennya, atau belum tepat cara menawarkan solusinya.

Yang jauh lebih berbahaya daripada ditolak adalah tidak pernah mencoba.

Karena marketer yang bertumbuh bukan marketer yang tidak pernah gagal. Ia adalah marketer yang mampu belajar lebih cepat dari setiap respons pasar.