Konten dari Pengguna

Pemuda Tidak Kekurangan Mimpi, Mereka Membutuhkan Jalan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Madani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Credit Foto : Ilustrasi AI berdasarkan dokumentasi Ahmad Madani
zoom-in-whitePerbesar
Credit Foto : Ilustrasi AI berdasarkan dokumentasi Ahmad Madani

Ada satu kalimat yang hampir selalu muncul ketika kita membicarakan generasi muda: mereka adalah masa depan bangsa. Kalimat tersebut terdengar begitu meyakinkan, terutama menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda. Kita mengulanginya melalui pidato, diskusi, poster, dan unggahan media sosial, seolah-olah masa depan Indonesia akan menjadi lebih baik hanya dengan terus mengingatkan anak muda tentang tanggung jawab besarnya.

Persoalannya, masa depan tidak dibentuk oleh harapan semata. Anak muda membutuhkan pendidikan yang relevan, kesempatan mengenal dunia profesional, lingkungan yang mendukung, dan ruang untuk mengembangkan kemampuannya. Tanpa semua itu, kalimat tentang generasi penerus bangsa berisiko berhenti sebagai pujian yang tidak diikuti tanggung jawab.

Dalam berbagai kesempatan berinteraksi dengan siswa SMK, mahasiswa, dan santri, saya melihat bahwa banyak anak muda sebenarnya telah memiliki keinginan untuk maju. Mereka bertanya tentang peluang karier, keterampilan digital, usaha yang bisa dirintis, serta cara membangun reputasi profesional. Pertanyaan-pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan mereka tidak selalu berkaitan dengan kemauan. Sering kali, mereka justru sedang berusaha memahami jalan yang belum pernah diperkenalkan secara memadai.

Tidak semua memulai dari tempat yang sama

Kita perlu berhati-hati ketika menganggap keberhasilan sepenuhnya ditentukan oleh kerja keras. Seorang anak muda yang tumbuh dengan dukungan keluarga, fasilitas pembelajaran, dan akses terhadap mentor tentu memiliki pengalaman berbeda dibandingkan mereka yang harus menemukan semuanya sendiri. Perbedaan tersebut tidak otomatis menentukan hasil akhir, tetapi dapat memengaruhi panjang dan sulitnya perjalanan yang harus ditempuh.

Kondisi ini menjadi penting ketika dunia kerja berubah semakin cepat. Anak muda dituntut menguasai keterampilan baru, beradaptasi dengan teknologi, dan memahami kebutuhan industri. Namun, tuntutan tersebut perlu diikuti upaya memperluas kesempatan pembelajaran yang berkualitas. Jika tidak, perubahan teknologi justru berpotensi memperbesar jarak antara mereka yang memiliki dukungan dan mereka yang belum mendapatkannya.

Pendidikan membutuhkan lebih banyak jembatan

Bagi saya, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah jarak antara dunia pendidikan dan pengalaman profesional. Banyak siswa sudah mempelajari konsep, tetapi belum mendapat kesempatan melihat bagaimana konsep tersebut digunakan. Banyak pula yang memiliki minat, tetapi belum mengetahui jalur pengembangan yang sesuai.

Di sinilah keterlibatan praktisi, industri, perguruan tinggi, dan komunitas menjadi penting. Mereka dapat membantu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual melalui mentoring, pembelajaran berbasis proyek, praktik kerja, serta kesempatan memperkenalkan karya. Kontribusi tersebut tidak harus selalu besar, tetapi sebaiknya memiliki tindak lanjut dan manfaat yang jelas.

Mengubah cara memperingati Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda 1928 memperlihatkan kemampuan generasi muda membangun kesadaran bersama di tengah perbedaan. Semangat itu masih relevan, meskipun tantangan yang dihadapi sudah berubah. Hari ini, persatuan juga dapat diwujudkan melalui kemauan berbagai pihak untuk memastikan kesempatan berkembang tidak hanya dinikmati oleh anak muda yang sejak awal memiliki banyak dukungan.

Karena itu, pada Hari Sumpah Pemuda 2026, kita perlu mengubah arah pertanyaan. Daripada terus bertanya apakah anak muda sudah cukup hebat, barangkali lebih penting bertanya apakah kita sudah menyediakan lingkungan yang memungkinkan mereka berkembang.

Anak muda tetap bertanggung jawab atas pilihan, usaha, dan proses belajarnya. Namun, generasi dewasa tidak boleh melepaskan tanggung jawab untuk menciptakan peluang. Jika masa depan bangsa memang berada di tangan mereka, sudah sewajarnya kita membantu memastikan tangan-tangan itu memiliki bekal yang memadai.

Selamat Hari Sumpah Pemuda. Jangan hanya mewariskan harapan kepada generasi muda. Wariskan pula kesempatan untuk mewujudkannya.