Konten dari Pengguna

Pesantren dan SMK: Dua Dunia yang Sebenarnya Sangat Dekat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Madani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

credit foto : ilustrasi buatan AI
zoom-in-whitePerbesar
credit foto : ilustrasi buatan AI

Selama beberapa tahun terakhir saya cukup sering masuk ke berbagai SMK, bertemu guru, siswa, kepala sekolah, dunia industri, sampai mendampingi kegiatan yang berkaitan dengan pemasaran dan penjualan. Di sisi lain, saya juga tumbuh dari lingkungan pesantren. Semakin sering saya berada di dua dunia itu, semakin saya melihat satu hal yang menarik: pesantren dan SMK sebenarnya jauh lebih dekat daripada yang kita bayangkan.

Keduanya sama-sama tidak cukup hanya mengajarkan teori.

Di SMK, siswa dituntut mempunyai kompetensi nyata. Mereka harus mampu membuat produk, mengoperasikan peralatan, melayani pelanggan, menjalankan bisnis, mengelola marketplace, membuat konten, melakukan presentasi, hingga menyelesaikan proyek. Dunia pendidikan vokasi mengenal istilah learning by doing, project-based learning, Teaching Factory, serta pembelajaran berbasis dunia kerja.

Menariknya, kehidupan pesantren sejak lama juga sangat dekat dengan konsep learning by doing.

Santri belajar organisasi bukan dengan membaca buku organisasi saja, tetapi benar-benar menjadi pengurus. Mereka belajar kepemimpinan karena harus memimpin teman-temannya. Mereka belajar komunikasi karena harus berbicara di depan orang lain. Mereka belajar kedisiplinan karena kehidupan pondok mempunyai ritme dan aturan yang harus dijalani setiap hari.

Bahkan banyak kegiatan pesantren yang kalau dilihat menggunakan kacamata pendidikan vokasi sebenarnya sudah menyerupai proyek nyata.

Ada santri yang mengelola koperasi. Ada yang mengurus konsumsi. Ada yang menangani penerimaan tamu. Ada yang mengelola olahraga. Ada yang mengurus kebersihan. Ada yang menjadi panitia kegiatan besar. Ada yang mengelola media dan dokumentasi. Ada pula yang terlibat dalam unit usaha pondok.

Di dunia SMK, aktivitas seperti itu bisa kita sebut sebagai pengalaman kerja berbasis proyek.

Bedanya, di pesantren kita sering menyebutnya sebagai bagian dari pendidikan.

Karena pengalaman saya berada di dua lingkungan tersebut, saya sering berpikir: bagaimana kalau kekuatan pendidikan karakter pesantren bertemu dengan kekuatan pendidikan kompetensi SMK?

SMK mempunyai satu kekuatan yang sangat jelas: kedekatan dengan kebutuhan dunia kerja. Kurikulumnya terus diarahkan agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan yang bisa digunakan setelah lulus.

Pesantren mempunyai kekuatan yang berbeda. Ia membangun kebiasaan, daya tahan, tanggung jawab, kemandirian, kemampuan hidup bersama, serta nilai yang membentuk seseorang dalam jangka panjang.

Dunia kerja sebenarnya membutuhkan keduanya.

Perusahaan memang membutuhkan orang yang bisa bekerja. Tetapi perusahaan juga membutuhkan orang yang bisa dipercaya.

Seseorang mungkin sangat pintar menggunakan teknologi, tetapi kalau sulit bekerja dalam tim, kemampuan teknisnya tidak selalu cukup.

Seseorang mungkin mempunyai kemampuan pemasaran yang bagus, tetapi kalau tidak jujur, perusahaan justru mendapatkan risiko baru.

Seseorang bisa membuat presentasi yang hebat, tetapi kalau tidak disiplin dan tidak bertanggung jawab, kompetensinya tidak akan banyak berarti.

Karena itu saya semakin percaya bahwa pembicaraan mengenai pendidikan masa depan tidak boleh hanya berhenti pada kompetensi teknis.

Kita sering mengatakan bahwa generasi muda membutuhkan hard skill dan soft skill. Tetapi ada satu unsur lain yang tidak kalah penting: values.

Nilai.

Bagaimana seseorang menggunakan keterampilannya.

Untuk apa pengetahuan yang dimilikinya digunakan.

Bagaimana ia bersikap ketika tidak ada yang mengawasi.

Bagaimana ia memperlakukan orang lain.

Bagaimana ia memegang sebuah amanah.

Di titik inilah saya melihat pesantren mempunyai sesuatu yang sangat berharga untuk dipelajari oleh pendidikan vokasi.

Sebaliknya, pesantren juga bisa belajar dari SMK.

Pesantren mempunyai banyak aktivitas luar biasa, tetapi tidak semuanya diterjemahkan menjadi kompetensi yang terstruktur. Seorang santri mungkin pernah mengelola organisasi selama satu tahun, tetapi tidak pernah diajak memahami bahwa dari pengalaman tersebut sebenarnya ia sedang belajar leadership, project management, communication, dan problem solving.

Santri mungkin pernah mengurus koperasi, tetapi tidak pernah mengenal konsep dasar pengelolaan bisnis, pemasaran digital, pencatatan pelanggan, atau analisis penjualan.

Santri mungkin aktif membuat acara, tetapi belum pernah mengubah pengalaman itu menjadi portofolio.

Di sinilah pendekatan pendidikan vokasi bisa memberi perspektif baru.

Pengalaman tidak hanya dijalani, tetapi juga direfleksikan.

Kegiatan tidak hanya diselesaikan, tetapi kompetensinya dipetakan.

Karya tidak hanya dibuat, tetapi didokumentasikan.

Kemampuan tidak hanya dirasakan, tetapi juga dapat dibuktikan.

Saya pernah terlibat dalam kolaborasi dengan SMKN 1 Ponorogo, khususnya konsentrasi Bisnis Digital, dalam membantu penguatan branding Pondok Pesantren Darul Falah Sukorejo Ponorogo. Bagi saya, kolaborasi semacam ini menarik karena sekolah mempunyai keterampilan digital, sementara pesantren mempunyai ekosistem nyata yang membutuhkan keterampilan tersebut.

Siswa tidak sekadar belajar tentang digital marketing di kelas. Mereka mempunyai objek nyata untuk dipelajari dan dibantu.

Pesantren pun tidak harus selalu mencari konsultan dari tempat yang jauh. Kadang sumber daya yang dibutuhkan sebenarnya berada di sekolah terdekat.

Bayangkan kalau model kolaborasi seperti ini diperluas.

Siswa SMK Bisnis Digital membantu pesantren membangun website dan media sosial.

Siswa jurusan kuliner membantu mengembangkan produk makanan pesantren.

Siswa desain membantu memperkuat kemasan produk UMKM milik pondok.

Siswa teknologi membantu membangun sistem informasi sederhana.

Santri belajar kewirausahaan dari proyek yang benar-benar dijalankan.

Guru SMK dan ustadz pesantren bertemu untuk merancang kegiatan bersama.

Kita tidak lagi melihat sekolah dan pesantren sebagai dua institusi yang berjalan sendiri-sendiri.

Keduanya bisa menjadi bagian dari satu ekosistem pendidikan.

Dan menurut saya, justru di situlah masa depan pendidikan Indonesia bisa menjadi menarik.

Kita tidak harus selalu memilih antara pendidikan karakter atau pendidikan keterampilan.

Kita membutuhkan keduanya.

Santri perlu memahami teknologi.

Siswa SMK perlu mempunyai karakter.

Santri perlu mengenal dunia kerja.

Siswa SMK juga membutuhkan nilai, disiplin, dan integritas.

Karena dunia masa depan tidak hanya membutuhkan manusia yang pintar.

Ia membutuhkan manusia yang mampu bekerja, mampu belajar, mampu beradaptasi, dan tetap tahu nilai apa yang harus dijaga.

Pesantren dan SMK mungkin lahir dari tradisi pendidikan yang berbeda.

Tetapi kalau kita melihat lebih dalam, keduanya mempunyai satu kesamaan besar: sama-sama ingin mempersiapkan anak muda menghadapi kehidupan nyata.

Mungkin sudah waktunya kedua dunia ini lebih sering bertemu.

Bukan untuk saling mengubah identitas.

Tetapi untuk saling menguatkan.

Karena pendidikan terbaik bukan sekadar membuat anak muda mengetahui banyak hal.

Pendidikan seharusnya membuat mereka mampu melakukan sesuatu, mampu bertanggung jawab atas yang dilakukan, dan tahu untuk apa kemampuan itu digunakan.