Derita Dibalik Postingan #WisudaLDR2020

Analis Perkara Peradilan pada Pengadilan Negeri Gianyar, Bali
Tulisan dari I Made Wirangga Kusuma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Baru-baru ini, jagat dunia maya diramaikan dengan keberadaan tagar #WisudaLDR2020 yang digagas dan di inisiasi oleh salah satu presenter kondang tanah air Najwa Shihab dan rekanannya. Tagar yang digagas tersebut berisikan dan menampilkan gambar tentang nostalgia akan wisuda/seremoni kelulusan yang diselenggarakan sebelum adanya Pandemik Covid19. Mulai dari Mantan Cawapres Sandi Uno hingga artis Dian Sastro, ikut meramaikan tagar ini. Najwa berdalih, tujuan adanya tagar ini adalah sebagai bentuk solidaritas untuk menyemangati calon wisudawan yang gagal diwisuda secara offline, seperti apa yang ditulisnya dalam sosial media miliknya.
Kendati begitu, tagar ini tentu cukup membuat miris dan resah bagi calon wisudawan yang batal diwisuda pada bulan ini maupun beberapa bulan lalu. Saya sendiri beranggapan bahwa keberadaan tagar ini bukan malah menghibur atau menyemangati, melainkan membuat saya semakin sedih dan miris, mengingat sebagian besar netizen atau tokoh yang menggunakan tagar ini, lebih menampilkan euforia kelulusannya masing-masing ditengah penderitaan dan kesedihan yang dialami calon wisudawan.
Dalam kondisi seperti ini, menampilkan dan memamerkan foto saat wisuda dengan tujuan memberi semangat kepada calon wisudawan yang gagal diwisuda, menurut saya kurang tepat. Berbagai komentar saya kutip dari twitter dan menganggap bahwa keberadaan tagar ini seperti meneteskan perasan jeruk nipis di luka yang menganga (lebar). Sakit? jujur yang saya rasakan dengan adanya kampanye/inisiasi tagar ini bukan memberi semangat, tetapi membuat saya sebagai calon wisudawan semakin sedih dan sakit hati. Sebagaimana juga diungkapkan oleh Presenter, Artis dan Comica Ernest Prakasa melalui akun twitternya yang gagal paham akan konsep tagar tersebut.
Wisuda menurut saya bukan hanya sekadar seremonial dan selebrasi. Sejatinya ada makna penting dibalik itu. Wisuda merupakan ajang silahturahmi antara orang tua dengan pejabat universitas, dosen serta orang tua dan mahasiswa lainnya. Selain itu dengan keberadaan wisuda, orang tua akan bisa 'campus tour' dan mengenal kampus lebih dekat lagi. Tetapi patut kita pahami, dalam kondisi seperti ini memang semua harapan itu harus bisa disimpan dalam hati. Selain itu, perjuangan memperoleh sarjana yang tidak mudah juga terbayar dengan adanya selebrasi ini, meski sehari. Hal ini tentu jadi faktor utama, kenapa calon wisudawan yang batal diwisuda secara online, sedih.
Masih banyak yang sebetulnya yang harus diberi perhatian dan diperjuangkan atau diviralkan oleh tokoh-tokoh yang mengikuti tagar tersebut. Masih banyak problematika yang menimpa anak sekolah maupun kuliah saat ini ditengah pandemi. Mulai dari pembebanan biaya UKT/SPP yang masih menjadi tarik ulur hingga pembebanan biaya wisuda yang cukup tinggi ditengah pandemi. Seharusnya hal inilah yang harus diperjuangkan dan diberi perhatian. Kondisi perekonomian yang tak tentu ini membuat beban siswa/mahasiswa beserta orang tua makin berat. Hal ini yang saya rasakan sebagai calon wisudawan
Sebelum dikeluarkan tagar tersebut hendaknya melihat situasi dan kondisi. Terkadang kita ingin berbuat baik dan memberi dukungan, tetapi kita lupa dan tidak menyadari bahwa dukungan dan semangat yang kita berikan, bisa jadi derita bagi orang yang kita beri dukungan.
Terakhir, untuk itu
PROFICIAT!
