Dari Inflasi ke Literasi Mengapa Masyarakat Perlu Lebih Melek Keuangan

Maflindo Butar Butar merupakan pegawai di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar (tulisan merupakan Pandangan pribadi)
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Maflindo Butar Butar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Inflasi kerap dipahami secara sederhana sebagai kenaikan harga barang dan jasa. Ketika harga beras naik, biaya transportasi bertambah, atau kebutuhan rumah tangga menjadi lebih mahal, masyarakat langsung merasakan dampaknya. Namun, di balik fenomena tersebut terdapat persoalan yang lebih mendasar, yaitu kemampuan masyarakat dalam mengelola keuangan di tengah perubahan kondisi ekonomi.
Inflasi sejatinya bukan hanya urusan pemerintah atau bank sentral. Inflasi juga merupakan ujian terhadap kesiapan setiap individu dan keluarga dalam mengatur pengeluaran, menyusun prioritas kebutuhan, serta menjaga daya beli. Dalam konteks inilah literasi keuangan menjadi semakin penting.
Pentingnya literasi keuangan semakin relevan ketika melihat perkembangan inflasi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan Indonesia pada akhir 2024 sebesar 1,57 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi tahun 2023 yang mencapai 2,61 persen. Sementara itu, pada Juni 2026 inflasi tahunan tercatat sebesar 3,34 persen. Meskipun masih berada pada tingkat yang relatif terkendali, angka tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga tetap menjadi faktor yang memengaruhi daya beli masyarakat dari waktu ke waktu.
Bagi sebagian masyarakat, inflasi mungkin hanya terlihat sebagai kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Namun, dampaknya jauh lebih luas. Inflasi secara perlahan mengurangi kemampuan uang untuk membeli barang dan jasa. Uang yang disimpan hari ini mungkin tetap memiliki nominal yang sama pada tahun depan, tetapi jumlah barang yang dapat dibeli dengan uang tersebut bisa jadi lebih sedikit. Dengan kata lain, inflasi menggerus nilai riil uang.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menabung saja tidak selalu cukup. Masyarakat perlu memahami bagaimana mengelola keuangan secara lebih komprehensif, mulai dari menyusun anggaran, mengendalikan pengeluaran, membangun dana darurat, hingga memahami berbagai produk dan layanan keuangan yang tersedia. Pemahaman inilah yang menjadi inti dari literasi keuangan.
Di tengah tekanan inflasi, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi semakin penting. Tidak sedikit orang yang tetap mempertahankan pola konsumsi lama meskipun biaya hidup meningkat. Akibatnya, pengeluaran terus membengkak sementara pendapatan tidak bertambah secara signifikan. Dalam situasi seperti ini, literasi keuangan membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih rasional dan terukur.
Salah satu bentuk literasi keuangan yang paling konkret adalah kebiasaan membangun dana darurat. Banyak keluarga baru menyadari pentingnya dana darurat ketika menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya kesehatan yang tidak terduga, atau bahkan kehilangan sumber pendapatan. Dalam situasi inflasi, rumah tangga yang tidak memiliki cadangan dana cenderung lebih rentan mengalami tekanan keuangan dan berisiko menggunakan pinjaman konsumtif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dana darurat pada dasarnya berfungsi sebagai bantalan keuangan. Keberadaannya memberikan ruang bagi keluarga untuk beradaptasi tanpa harus mengorbankan kebutuhan pokok, pendidikan anak, maupun kesehatan. Karena itu, banyak ahli keuangan merekomendasikan dana darurat minimal tiga hingga enam kali pengeluaran bulanan bagi pekerja dengan pendapatan tetap, dan enam hingga dua belas kali pengeluaran bulanan bagi mereka yang memiliki pendapatan tidak tetap.
Lebih jauh, dana darurat juga mencerminkan kesiapan seseorang dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi. Ketika harga kebutuhan meningkat atau terjadi gangguan terhadap pendapatan keluarga, masyarakat yang memiliki cadangan dana akan lebih tenang dalam mengambil keputusan. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki persiapan sering kali terjebak dalam siklus utang yang semakin memperburuk kondisi keuangan.
Perkembangan teknologi keuangan juga menghadirkan tantangan tersendiri. Kemudahan transaksi digital melalui berbagai aplikasi pembayaran membuat aktivitas ekonomi menjadi lebih efisien. Namun, kemudahan tersebut juga dapat mendorong perilaku konsumtif jika tidak diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang baik. Transaksi yang hanya membutuhkan beberapa sentuhan pada layar gawai sering kali membuat masyarakat kurang menyadari besarnya pengeluaran yang telah dilakukan.
Karena itu, peningkatan literasi keuangan harus menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan bersama Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa literasi keuangan masih menjadi agenda penting dalam pembangunan nasional guna meningkatkan kualitas pengambilan keputusan keuangan masyarakat.
Lalu, bagaimana cara meningkatkan literasi keuangan?
Pertama, membiasakan diri mencatat pemasukan dan pengeluaran secara rutin. Langkah sederhana ini membantu masyarakat memahami pola penggunaan uang dan mengidentifikasi pengeluaran yang sebenarnya dapat dikurangi.
Kedua, menyusun anggaran bulanan yang realistis. Anggaran membantu masyarakat menetapkan prioritas sehingga kebutuhan pokok, tabungan, dan kewajiban lainnya dapat terpenuhi secara seimbang.
Ketiga, membangun dana darurat secara bertahap dan konsisten. Besarnya dana darurat mungkin tidak dapat dicapai dalam waktu singkat, tetapi kebiasaan menyisihkan sebagian pendapatan secara rutin akan membentuk ketahanan finansial dalam jangka panjang.
Keempat, meningkatkan pemahaman terhadap produk dan layanan keuangan resmi. Masyarakat perlu memahami karakteristik tabungan, deposito, investasi, asuransi, maupun layanan pembayaran digital agar dapat memilih instrumen yang sesuai dengan kebutuhan dan profil risikonya.
Kelima, memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai sarana edukasi. Berbagai informasi keuangan yang tersedia melalui kanal resmi Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, maupun lembaga pendidikan dapat menjadi sumber pembelajaran yang mudah diakses oleh semua kalangan.
Pada akhirnya, literasi keuangan bukan sekadar kemampuan menghitung uang atau memahami istilah ekonomi. Literasi keuangan adalah kemampuan mengambil keputusan yang tepat untuk menjaga kesejahteraan diri dan keluarga. Masyarakat yang melek keuangan cenderung lebih siap menghadapi inflasi, lebih disiplin dalam mengelola pengeluaran, dan lebih mampu memanfaatkan peluang ekonomi yang tersedia.
Pengendalian inflasi memang merupakan tanggung jawab otoritas ekonomi, termasuk Bank Indonesia bersama pemerintah. Namun, menjaga kesejahteraan keluarga di tengah inflasi juga memerlukan peran aktif masyarakat melalui pengelolaan keuangan yang bijak. Jika stabilitas harga merupakan benteng pertama dalam menjaga daya beli, maka literasi keuangan adalah benteng kedua yang menentukan seberapa kuat masyarakat mampu bertahan dan berkembang di tengah berbagai perubahan ekonomi.
Karena itu, perjalanan dari inflasi menuju literasi bukan sekadar upaya memahami konsep ekonomi. Ia adalah langkah strategis untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh, lebih bijaksana dalam mengambil keputusan keuangan, dan lebih siap menghadapi tantangan masa depan. Dengan masyarakat yang semakin melek keuangan, manfaat stabilitas ekonomi tidak hanya dirasakan.
