Ketika AI Terlihat Pintar, tetapi Datanya Keliru

Maflindo Butar Butar merupakan pegawai di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar (tulisan merupakan Pandangan pribadi)
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Maflindo Butar Butar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, saya sering menemukan satu kebiasaan baru. Ketika ada pertanyaan, banyak orang tidak lagi membuka mesin pencari, membaca beberapa artikel, lalu membandingkan informasi. Mereka langsung bertanya kepada AI.
Dalam hitungan detik, jawaban muncul. Lengkap, rapi, dan sering kali terdengar meyakinkan.
Saya juga merasakan kemudahan yang sama. AI mampu membantu mencari ide, merangkum dokumen, menjelaskan topik yang rumit, hingga menyusun kerangka tulisan. Tidak berlebihan jika banyak orang mulai menjadikan AI sebagai "teman berdiskusi" sehari-hari.
Namun, ada satu hal yang sering terlupakan.
Semakin canggih AI, semakin mudah pula kita menganggap bahwa semua jawabannya pasti benar.
Padahal, AI tidak bekerja seperti manusia yang memahami dunia melalui pengalaman. AI bekerja berdasarkan data yang dipelajarinya. Artinya, kualitas jawaban yang diberikan sangat bergantung pada kualitas data yang menjadi sumber pembelajarannya.
Di sinilah persoalannya bermula.
Banyak orang menilai kecerdasan AI dari seberapa cepat teknologi tersebut menjawab pertanyaan. Padahal, kecepatan tidak selalu berbanding lurus dengan ketepatan.
AI bisa memberikan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan, tetapi ternyata mengandung informasi yang kurang tepat. AI bisa menyusun penjelasan yang tampak logis, tetapi dibangun dari data yang tidak lengkap. Bahkan, dalam beberapa situasi, AI dapat menciptakan informasi yang sebenarnya tidak pernah ada.
Karena itu, saya mulai melihat bahwa tantangan terbesar di era AI bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada bagaimana kita memperlakukan hasil yang diberikan oleh teknologi tersebut.
Kita sering kali terlalu fokus pada kecerdasan buatan, tetapi lupa bertanya tentang kualitas data yang digunakan.
Padahal, prinsip ini sebenarnya sederhana.
Jika data yang digunakan baik, peluang menghasilkan informasi yang baik juga lebih besar. Sebaliknya, jika data yang digunakan keliru atau tidak akurat, hasil akhirnya berpotensi menyesatkan.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi dalam dunia teknologi.
Dalam kehidupan sehari-hari, keputusan yang dibuat berdasarkan informasi yang salah hampir selalu menghasilkan konsekuensi yang kurang baik. Hal yang sama berlaku pada sistem AI.
Karena itu, menurut saya, kemampuan yang semakin dibutuhkan saat ini bukan hanya kemampuan menggunakan AI. Kita juga perlu memiliki kemampuan untuk memeriksa kembali informasi yang diberikan, memahami sumbernya, dan mempertanyakan hal-hal yang terasa janggal.
Dengan kata lain, teknologi membutuhkan pendamping yang bernama nalar.
AI mungkin dapat membantu menemukan jawaban dengan cepat. Namun manusia tetap dibutuhkan untuk menilai apakah jawaban tersebut masuk akal, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi, kemampuan berpikir kritis justru menjadi semakin berharga.
Sebab masalah terbesar bukanlah ketika AI membuat kesalahan.
Masalah terbesar adalah ketika manusia berhenti memeriksa kemungkinan adanya kesalahan tersebut.
Saya percaya AI akan terus berkembang dan menjadi bagian yang semakin penting dalam kehidupan kita. Namun seiring dengan itu, kesadaran tentang pentingnya kualitas data juga harus ikut tumbuh.
Karena pada akhirnya, AI tidak pernah benar-benar lebih pintar daripada data yang menjadi fondasinya.
Dan ketika fondasinya keliru, kecanggihan teknologi tidak selalu mampu menyelamatkan hasil akhirnya.
