Ketika Insting Saja Tidak Lagi Cukup dalam Mengambil Keputusan

Maflindo Butar Butar merupakan pegawai di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar (tulisan merupakan Pandangan pribadi)
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Maflindo Butar Butar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika Insting Saja Tidak Lagi Cukup dalam Mengambil Keputusan

Ada satu kalimat yang cukup sering kita dengar di tempat kerja: "Saya sudah berpengalaman, jadi saya tahu apa yang harus dilakukan."
Dalam banyak situasi, pengalaman memang penting. Pengalaman membantu seseorang membaca keadaan, memahami risiko, dan mengambil keputusan dengan lebih percaya diri. Namun, di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, pengalaman saja tidak selalu cukup.
Hari ini, hampir setiap aktivitas meninggalkan jejak data.
Mulai dari transaksi belanja, perilaku konsumen, penggunaan layanan digital, hingga kinerja sebuah organisasi, semuanya menghasilkan data dalam jumlah yang terus bertambah. Informasi yang dahulu sulit diperoleh kini dapat diakses dalam waktu yang relatif singkat.
Sayangnya, tidak semua organisasi mampu memanfaatkan data tersebut dengan baik.
Tidak sedikit keputusan yang masih dibuat berdasarkan asumsi, kebiasaan lama, atau intuisi semata. Padahal, ketika data tersedia, keputusan yang diambil seharusnya dapat menjadi lebih terukur dan lebih tepat sasaran.
Di sinilah pentingnya budaya kerja berbasis data.
Budaya kerja berbasis data bukan berarti setiap pegawai harus menjadi analis data. Bukan pula berarti setiap keputusan harus menunggu laporan yang tebal dan rumit.
Budaya kerja berbasis data adalah kebiasaan menggunakan informasi yang tersedia sebagai dasar dalam memahami masalah, menyusun rencana, dan mengevaluasi hasil yang telah dicapai.
Sederhananya, sebelum mengambil keputusan, kita bertanya: apa yang ditunjukkan oleh data?
Saya melihat kebutuhan ini menjadi semakin penting seiring berkembangnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
AI mampu mengolah data dalam jumlah besar dengan cepat. Teknologi ini dapat membantu menemukan pola, menghasilkan ringkasan, bahkan memberikan rekomendasi. Namun, kualitas hasil yang diberikan tetap bergantung pada kualitas data yang menjadi dasarnya.
Karena itu, organisasi yang ingin memanfaatkan AI secara optimal harus terlebih dahulu membangun budaya data yang baik.
Tanpa data yang akurat dan terkelola dengan baik, kecanggihan teknologi tidak akan memberikan manfaat yang maksimal.
Dalam praktiknya, budaya kerja berbasis data tidak selalu dimulai dari proyek besar. Perubahan sering kali dimulai dari hal sederhana.
Misalnya, membiasakan pencatatan yang rapi, menggunakan indikator kinerja yang jelas, melakukan evaluasi berdasarkan hasil yang terukur, dan mendokumentasikan berbagai proses kerja secara konsisten.
Langkah-langkah sederhana tersebut mungkin terlihat biasa. Namun ketika dilakukan secara berkelanjutan, organisasi akan memiliki fondasi informasi yang jauh lebih kuat untuk mendukung pengambilan keputusan.
Menariknya, budaya kerja berbasis data tidak menghilangkan peran manusia.
Justru sebaliknya.
Data membantu menjelaskan apa yang sedang terjadi. Namun manusia tetap diperlukan untuk memahami mengapa hal itu terjadi dan bagaimana meresponsnya.
Data dapat menunjukkan adanya penurunan kinerja. Akan tetapi, memahami penyebabnya tetap membutuhkan komunikasi, observasi, dan pertimbangan manusia.
Data dapat menunjukkan perubahan perilaku pelanggan. Namun strategi yang akan diambil tetap membutuhkan kreativitas dan kepemimpinan.
Karena itu, menurut saya, masa depan dunia kerja bukan tentang memilih antara insting atau data.
Keduanya dibutuhkan.
Pengalaman memberikan perspektif. Data memberikan bukti. Ketika keduanya digunakan secara bersama-sama, keputusan yang dihasilkan cenderung lebih kuat dibandingkan hanya mengandalkan salah satunya.
Di era kecerdasan buatan, organisasi yang mampu menggabungkan budaya data dengan kemampuan manusia akan memiliki keunggulan yang lebih besar dibandingkan organisasi yang hanya mengandalkan kebiasaan lama.
Sebab pada akhirnya, keputusan yang baik bukanlah keputusan yang terdengar paling meyakinkan.
Keputusan yang baik adalah keputusan yang didukung oleh fakta, diperkaya oleh pengalaman, dan dijalankan dengan pertimbangan yang matang.
