Gaya Hidup Frugal Living Jadi Senjata Ampuh Anak Muda Siapkan Masa Depan

Mahasiswa Akuntansi di Universitas Pamulang.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Maftuhnugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih kamu ngerasa gaji itu cuma numpang lewat doang di pertengahan bulan? Dulu, aku sering banget ngalamin fase ini. Begitu gajian turun, jari rasanya gatal banget buat langsung check out keranjang e-commerce, janjian nongkrong di coffee shop hits tiap akhir pekan, sampai langganan berbagai layanan streaming yang ujung-ujungnya juga jarang ditonton. Rasanya wajar aja, toh sebagai anak muda, kita butuh self-reward setelah capek kerja bagai kuda, kan?
​Tapi, lama-lama gaya hidup kayak gitu justru bikin dada sesak. Apalagi pas ngelihat linimasa media sosial penuh dengan berita soal ancaman resesi, gelombang layoff di mana-mana, sampai harga rumah yang makin melambung dan nggak masuk akal buat ukuran gaji fresh graduate.
​Dari situlah aku tertampar realita: kalau aku terus-terusan hidup dari gaji ke gaji tanpa tabungan yang jelas, masa depanku bakal hancur. Akhirnya, aku memutuskan putar balik dan mencoba gaya hidup yang lagi lumayan ramai diomongin, yaitu frugal living.
​Awalnya, aku sempat mikir frugal living itu sama kayak pelit dan menyiksa diri. Harus makan mi instan tiap hari akhir bulan atau nggak boleh main sama teman sama sekali. Ternyata aku salah besar! Frugal living itu bukan soal pelit, tapi soal kesadaran finansial alias mindful spending. Kita jadi lebih tahu skala prioritas dan berhenti buang-buang uang buat hal yang sebenarnya nggak ngasih nilai tambah di hidup kita.
​Coba deh aku kasih contoh detail penerapannya yang udah berhasil aku lakuin beberapa bulan terakhir. Pertama, aku menyetop kebiasaan beli kopi susu kekinian via ojol tiap pagi yang harganya bisa Rp 25.000 sampai Rp 35.000. Sebagai gantinya, aku mulai beli bubuk kopi lokal dan menyeduhnya sendiri di kosan atau pantry kantor pakai french press sederhana. Rasanya nggak kalah enak, dan sadar nggak sadar, kebiasaan kecil ini sukses bikin aku hemat hampir sejuta sebulan!
​Kedua, aku mulai rutin bawa bekal makan siang ke kantor. Awalnya memang terasa repot karena harus bangun lebih pagi buat masak meal prep simpel kayak ayam tumis, tempe orek, atau telur dadar. Tapi, kebiasaan ini sukses memangkas pengeluaran makan siang yang tadinya bisa habis Rp 50.000 sehari kalau beli di luar, jadi cuma belasan ribu aja. Sisanya? Langsung aku transfer ke reksa dana pasar uang khusus untuk pos dana darurat.
​Ketiga, aku mulai berani menyortir ajakan pergaulan. Kalau dulu aku selalu FOMO (Fear of Missing Out) dan asal yes diajak ke restoran mahal yang bikin dompet jebol, sekarang aku lebih berani bilang "enggak". Kalaupun mau nongkrong, aku lebih sering ngajakin teman-teman ngumpul di tempat yang lebih affordable, kayak piknik di taman kota atau sekadar ngopi di teras rumah sambil ngobrol ngalor-ngidul.
​Hasilnya? Luar biasa melegakan. Dalam hitungan bulan, aku akhirnya bisa melihat angka tabungan "dana darurat" bertumbuh—murni dari hasil menyumbat pengeluaran-pengeluaran bocor halus yang selama ini nggak aku sadari. Rasa cemas dan overthinking soal masa depan pelan-pelan berkurang karena aku tahu aku punya bantalan finansial kalau sewaktu-waktu terjadi hal buruk seperti kehilangan pekerjaan atau sakit.
​Buat kita-kita anak muda zaman sekarang yang hidup di tengah ketidakpastian ekonomi, frugal living itu benar-benar senjata yang paling ampuh. Lewat gaya hidup ini, kita nggak cuma sekadar sedang menabung uang, tapi kita sedang "membeli" kebebasan, ketenangan pikiran, dan kendali penuh atas hidup kita sendiri. Jadi, kapan kamu mau mulai ngecek lagi ke mana larinya uangmu bulan ini?
