Mahasiswa Kura-Kura Modern dan Krisis Waktu Istirahat

Mahasiswa Akuntansi di Universitas Pamulang.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Maftuhnugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Organisasi di era serba digital membuat batasan waktu mahasiswa menjadi kabur. Rapat daring hampir selalu baru dimulai pukul delapan atau sembilan malam karena harus menyesuaikan jadwal kuliah seluruh anggota yang berbeda. Ditambah lagi dengan notifikasi grup koordinasi yang tak kenal waktu, pikiran rasanya dituntut untuk selalu siaga. Alhasil, tugas-tugas kuliah harian baru sempat dikerjakan setelah rapat selesai, yaitu lewat tengah malam atau menjelang subuh.
Dilema Mahasiswa Kura-Kura di Tengah Padatnya Rapat
Situasi tersebut memicu krisis istirahat yang cukup parah. Waktu tidur yang tersisa hanya sekitar tiga sampai empat jam, dan itu pun sering kali dipotong lagi oleh kebiasaan menunda tidur (revenge bedtime procrastination) hanya demi menikmati waktu luang pribadi dengan bermain ponsel. Akibatnya, kelas di pagi hari sering kali hanya dihadiri raganya saja demi absensi, sementara otak sudah terlalu lelah untuk menyerap materi pendidikan perkuliahan dengan baik.
Pola hidup yang terus memaksakan diri ini pada akhirnya membawa dampak jangka panjang. Memasuki semester akhir, kelelahan fisik dan mental yang menumpuk selama bertahun-tahun berubah menjadi kejenuhan mendalam (burnout). Ketika energi dan fokus sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas akhir atau skripsi, tubuh justru sudah terlanjur kehabisan tenaga akibat kebiasaan mengorbankan waktu istirahat di masa-masa sebelumnya.
Maftuhnugroho, Mahasiswa Sarjana Akuntansi Universitas Pamulang.
