Konten dari Pengguna

Skill yang Wajib Dimiliki Lulusan Baru Agar Tidak Tersingkir oleh Dominasi AI

Maftuhnugroho

Maftuhnugroho

Mahasiswa Akuntansi di Universitas Pamulang.

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maftuhnugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menghadapi dominasi AI, lulusan baru dituntut menguasai soft skills, kreativitas, serta pemecahan masalah yang tidak bisa dilakukan oleh mesin. (Foto: Ilustrasi ini dibuat oleh AI)
zoom-in-whitePerbesar
Menghadapi dominasi AI, lulusan baru dituntut menguasai soft skills, kreativitas, serta pemecahan masalah yang tidak bisa dilakukan oleh mesin. (Foto: Ilustrasi ini dibuat oleh AI)

Waktu pertama kali mencoba menyelesaikan tugas akhir menggunakan ChatGPT, aku sempat merasa insecure luar biasa. Mesin ini bisa menyusun kerangka laporan, menganalisis data, dan membuat draf presentasi dalam hitungan detik—pekerjaan yang biasanya memakan waktu berhari-hari. Pertanyaan yang langsung menghantam kepalaku saat itu adalah: "Lalu, untuk apa perusahaan mempekerjakan fresh graduate sepertiku kalau AI bisa melakukan semuanya secara gratis?"

​Ketakutanku itu akhirnya terjawab bulan lalu saat aku menjalani masa magang. Saat itu, kantorku sedang menghadapi krisis karena ada salah cetak massal pada produk klien, dan klien tersebut marah besar. Salah satu staf mencoba membuat email permohonan maaf menggunakan prompt AI. Hasilnya? Email itu memang tersusun dengan tata bahasa Indonesia yang sempurna, sangat sopan, dan formal. Tapi saat dikirimkan, klien justru semakin murka karena email itu terasa dingin, kaku, dan seperti robot yang tidak punya rasa penyesalan.

​Akhirnya, manajerku turun tangan. Ia tidak membalas email, melainkan langsung menelepon klien tersebut, mendengarkan keluh kesahnya selama setengah jam, memberikan senyum (meski dari seberang telepon), dan menggunakan intonasi suara yang penuh empati. Klien itu pun luluh. Dari kejadian sedetail itu, mataku terbuka lebar. Kemampuan AI memang absolut dalam hal teknis dan pengolahan data, tapi mereka tidak punya empati, kecerdasan emosional (EQ), dan kemampuan membaca situasi hati manusia. Itulah skill mutlak yang harus kita asah sebagai lulusan baru: jadikan AI sebagai asisten teknismu, tapi gunakan empati dan negosiasi manusiamu untuk memenangkan hati klien.