Konten dari Pengguna

Tragedi Korek Api dan Darurat Senioritas di Asrama Kampus

Maftuhnugroho

Maftuhnugroho

Mahasiswa Akuntansi di Universitas Pamulang.

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maftuhnugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Artikel opini yang menyoroti kasus viral perundungan ekstrem menggunakan gas dan korek api di asrama Telkom University, serta mengkritisi budaya senioritas beracun di perguruan tinggi. (Sumber foto: unsplash.com)
zoom-in-whitePerbesar
Artikel opini yang menyoroti kasus viral perundungan ekstrem menggunakan gas dan korek api di asrama Telkom University, serta mengkritisi budaya senioritas beracun di perguruan tinggi. (Sumber foto: unsplash.com)

Baru-baru ini linimasa media sosial kita kembali dibuat bergidik oleh sebuah video viral dugaan aksi perundungan yang terjadi di lingkungan kampus. Sorotan tajam kini mengarah ke mahasiswa senior Telkom University (Tel-U) yang terekam melakukan tindakan jauh di luar batas nalar terhadap mahasiswa baru. Bukannya memberikan bimbingan sewajarnya, sang senior justru terlihat mengarahkan semprotan gas dan korek api menyala langsung ke arah mahasiswa baru tersebut di dalam sebuah kamar asrama.

Melihat visual tersebut, dada saya rasanya mendidih. Asrama kampus yang seharusnya menjadi ruang paling aman dan nyaman bagi mahasiswa rantau untuk beristirahat, malah diubah menjadi ruang horor berkedok senioritas. Menodongkan api dari jarak dekat bukanlah sebuah candaan tongkrongan atau bagian dari pembinaan mental, melainkan bentuk ancaman nyata yang bisa memicu tragedi fatal kebakaran hingga hilangnya nyawa.

Pihak Telkom University dikabarkan tengah mengusut kasus ini secara serius melalui Direktorat Kemahasiswaan, Karier, dan Alumni bersama Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT). Pihak kampus juga menegaskan bahwa mereka tidak memberi ruang bagi tindakan kekerasan dalam bentuk apa pun dan berkomitmen memberikan sanksi tegas kepada pelaku. Dalam prosesnya, mereka berjanji mengedepankan perlindungan serta pendampingan terhadap korban dengan menjaga kerahasiaan identitasnya.

Menurut opini saya sebagai sesama mahasiswa, insiden ini adalah alarm keras bahwa penyakit "gila hormat" masih menggerogoti ekosistem pendidikan tinggi kita. Rantai dendam antarangkatan sering kali membuat mahasiswa senior merasa berhak menindas adik tingkatnya demi memuaskan ego kekuasaan sesaat. Siklus beracun semacam ini tidak akan pernah putus jika penyelesaian akhirnya selalu berujung pada kompromi damai bermaterai sepuluh ribu atau sekadar permintaan maaf lewat video klarifikasi.

Janji kampus yang menyatakan keselamatan, keamanan, dan kesejahteraan mahasiswa sebagai prioritas utama institusi harus benar-benar kita kawal dan tagih buktinya. Jangan sampai ada secuil pun toleransi untuk pelaku kekerasan di ruang akademik mana pun. Mahasiswa baru datang menempuh pendidikan dengan membawa harapan besar dari keluarga di rumah, bukan untuk dijadikan sasaran kebrutalan para senior yang haus akan validasi.