Konten dari Pengguna

Transformasi Kampus UNPAM Bukti Kuliah Nggak Harus Mahal

Maftuhnugroho

Maftuhnugroho

Mahasiswa Akuntansi di Universitas Pamulang.

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maftuhnugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Empat kampus Universitas Pamulang (UNPAM) yang menunjukkan perluasan dan transformasi pesat dari waktu ke waktu: Kampus 1 Surya Kencana Pamulang (paling atas), Kampus 2 Viktor Serpong (kedua dari atas), Kampus 3 Witana Harja Pamulang (ketiga dari atas), dan proyek pembangunan Kampus 4 PSDKU Serang (paling bawah). Perkembangan fisik ini menjadi bukti komitmen UNPAM dalam memperluas akses pendidikan tinggi yang terjangkau bagi masyarakat luas. (Sumber foto: unpam.ac.id)
zoom-in-whitePerbesar
Empat kampus Universitas Pamulang (UNPAM) yang menunjukkan perluasan dan transformasi pesat dari waktu ke waktu: Kampus 1 Surya Kencana Pamulang (paling atas), Kampus 2 Viktor Serpong (kedua dari atas), Kampus 3 Witana Harja Pamulang (ketiga dari atas), dan proyek pembangunan Kampus 4 PSDKU Serang (paling bawah). Perkembangan fisik ini menjadi bukti komitmen UNPAM dalam memperluas akses pendidikan tinggi yang terjangkau bagi masyarakat luas. (Sumber foto: unpam.ac.id)

Beberapa hari yang lalu, aku mengantar seorang teman dekatku mengurus administrasi pendaftaran kuliah. Temanku ini sempat putus asa dan hampir mengubur mimpinya menjadi sarjana karena kondisi ekonomi keluarganya yang sedang hancur. Saat kami tiba di depan gedung Kampus 2 Universitas Pamulang (UNPAM) di kawasan Viktor, Serpong, aku benar-benar terdiam melihat kemegahannya.

​Berdiri di depan gedung belasan lantai dengan fasilitas yang menurutku sangat mewah untuk ukuran kampus swasta, pikiranku melayang ke belasan tahun lalu. Dulu, aku sering mendengar cibiran orang yang memandang sebelah mata kampus ini karena berawal dari satu gedung sederhana. Namun hari itu, melihat lautan motor di parkiran dan wajah-wajah antusias dari para pekerja pabrik, pelayan toko, hingga anak-anak rantau yang baru turun dari angkot, aku menyadari satu hal yang sangat fundamental: UNPAM bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan benteng harapan terakhir bagi mereka yang nyaris menyerah pada keadaan.

​Menjadikan pendidikan tinggi sangat terjangkau tanpa harus mengorbankan kualitas bangunan dan fasilitas adalah tamparan keras bagi ekosistem pendidikan kita yang semakin hari semakin komersial. Transformasi UNPAM menjadi empat kampus raksasa adalah bukti nyata di depan mataku bahwa ketika biaya pendidikan dipangkas habis-habisan, antusiasme masyarakat kecil untuk mengubah nasib rasanya tak terbendung. Hari itu, melihat senyum lega temanku yang akhirnya bisa kuliah, aku sadar bahwa pendidikan memang seharusnya menjadi hak segala bangsa, bukan cuma hak mereka yang berdompet tebal.