Transformasi Kampus UNPAM Bukti Kuliah Nggak Harus Mahal

Mahasiswa Akuntansi di Universitas Pamulang.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Maftuhnugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa hari yang lalu, aku mengantar seorang teman dekatku mengurus administrasi pendaftaran kuliah. Temanku ini sempat putus asa dan hampir mengubur mimpinya menjadi sarjana karena kondisi ekonomi keluarganya yang sedang hancur. Saat kami tiba di depan gedung Kampus 2 Universitas Pamulang (UNPAM) di kawasan Viktor, Serpong, aku benar-benar terdiam melihat kemegahannya.
​Berdiri di depan gedung belasan lantai dengan fasilitas yang menurutku sangat mewah untuk ukuran kampus swasta, pikiranku melayang ke belasan tahun lalu. Dulu, aku sering mendengar cibiran orang yang memandang sebelah mata kampus ini karena berawal dari satu gedung sederhana. Namun hari itu, melihat lautan motor di parkiran dan wajah-wajah antusias dari para pekerja pabrik, pelayan toko, hingga anak-anak rantau yang baru turun dari angkot, aku menyadari satu hal yang sangat fundamental: UNPAM bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan benteng harapan terakhir bagi mereka yang nyaris menyerah pada keadaan.
​Menjadikan pendidikan tinggi sangat terjangkau tanpa harus mengorbankan kualitas bangunan dan fasilitas adalah tamparan keras bagi ekosistem pendidikan kita yang semakin hari semakin komersial. Transformasi UNPAM menjadi empat kampus raksasa adalah bukti nyata di depan mataku bahwa ketika biaya pendidikan dipangkas habis-habisan, antusiasme masyarakat kecil untuk mengubah nasib rasanya tak terbendung. Hari itu, melihat senyum lega temanku yang akhirnya bisa kuliah, aku sadar bahwa pendidikan memang seharusnya menjadi hak segala bangsa, bukan cuma hak mereka yang berdompet tebal.
