Romantisnya KROMA dan Kehangatan a la Rumah Setelahnya

Tulisan dari Maghfiro Ridho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Menemukan pasangan hidup yang sangat cocok secara sifat saja sudah menyenangkan. Apalagi jika pasangan kita punya mimpi yang sejalan.” Itulah yang saya pikirkan ketika mendengar sepak terjang Evelyn di dunia bisnis.
Evelyn bercerita, ia dan Edward -- yang tidak lain tidak bukan adalah pasangannya -- sama-sama sering nongkrong di kafe sejak SMA, tetapi rasa penasaran tentang kopi muncul sejak jaman kuliah. Keduanya senang sekali meluangkan waktu berjam-jam untuk berbicara tentang apa saja di kedai kopi. Memelihara hobi itu selama bertahun-tahun rupanya membuat mereka bertanya-tanya: Kenapa, sih, bisnis ini tak pernah mati?
Berlandaskan rasa penasaran itulah, keduanya mendirikan kedai kopi mereka sendiri pada Oktober 2015.
Akan tetapi, mimpi mereka terlampau besar untuk sekadar mendirikan kedai kopi. Karena keduanya memang sama-sama tumbuh di industri kreatif – Evelyn lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) dan Edward lulusan Arsitektur --, keduanya ingin menciptakan tempat yang menyenangkan bagi siapa saja untuk berkarya. Dan tentu saja, nyaman selayaknya di rumah.
Dari konsep itu, tercetuslah nama KROMA Kaffe, Kijen, Kiosk, dan Klass.

“KROMA ini diambil dari kata kromatin. Artinya adalah sebuah sel yang mudah sekali menyerap warna,” tutur Evelyn kepada saya. Ketika menceritakannya, matanya berbinar-binar. “Karena aku ingin agar orang-orang di sekitarku bisa menuangkan kreativitasnya di KROMA. Aku ingin mewadahi ide-ide gila dari teman-teman untuk membuat sesuatu yang bermakna.”
Karena konsepnya begitu, ya, jangan heran jika KROMA juga punya hal-hal unik dibandingkan kedai kopi pada umumnya.
Menu-menu dan pemilihan nama yang disuguhkan di KROMA Kaffe dan Kijen dibuat sesederhana mungkin supaya tamu-tamu merasa dekat dengan rumah. Kegiatan-kegiatan yang mereka adakan di KROMA Kiosk dan Klass pun mengacu pada kegiatan yang bisa dilakukan di rumah. Sehingga, pesan yang ingin disampaikan oleh Evelyn dan Edward tidak jauh dari kata #betahdirumah; rumahmu sendiri atau KROMA sebagai rumahnya.
Semua itu membuat KROMA pada akhirnya besar dan berani pindah tempat dari yang dahulunya di Gandaria, sekarang berlokasi di Panglima Polim. KROMA sendiri mendapatkan rapor 4 dari 5 dari Zomato. Google Review pun memberikannya angka 4,5 dari 5.
Namun, sama seperti bisnis lainnya, tentu saja cerita tentang KROMA tak hanya soal manis-manisnya saja. Suatu fase dalam kehidupan Evelyn, ia justru sempat berpikir untuk tak melanjutkan 'mimpinya' ini. Beruntung ia memiliki pasangan yang siap membantunya berdiri. Karena itulah, KROMA masih ada sampai detik ini.
Untuk selengkapnya, simak saja video di bawah ini.
Foto diambil dari Instagram @kroma.id
