Konten dari Pengguna

Warisan Gantuang Ciri dalam Cerita Bundo Kanduang

Maharani Cania

Maharani Cania

Undergraduate International Relations Student at Universitas Andalas

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maharani Cania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fotografi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Fotografi pribadi

Di sebuah nagari kecil yang tenang di Kabupaten Solok, Sumatra Barat, budaya dan adat bukan hanya sekadar bagian dari masa lalu mereka hidup, bernapas, dan terus tumbuh bersama warganya. Nagari itu bernama Gantuang Ciri, dan salah satu penjaga nilai-nilai luhur di sana adalah Bundo Kanduang dari Suku Guci bernama Sriyanti yang akrab disebut mande, beliau telah memikul peran sebagai Bundo Kanduang sejak tahun 2003.

Peran Bundo Kanduang bukanlah posisi simbolik semata. Ia adalah pilar sosial dalam masyarakat Minangkabau sebagai penjaga adat, penutur sejarah, dan sosok yang mengayomi, baik dalam keluarga maupun komunitas. Melalui Mande, kita diajak menyusuri jejak-jejak warisan Gantuang Ciri yang masih lestari hingga kini.

Dari Gantung Suri ke Gantuang Ciri

Siapa sangka, nama Gantuang Ciri dulunya bukan seperti yang kita kenal sekarang. Menurut penuturan Mande, nama awal nagari ini adalah Gantung Suri. Namun karena para ninik mamak dan tokoh adat terdahulu kesulitan dalam pelafalannya, nama itu perlahan berubah dan disesuaikan menjadi Gantuang Ciri. Bukan sekadar perubahan fonetik, tetapi ini adalah bagian dari perjalanan identitas yang membentuk karakter nagari.

Bertani, Tradisi, dan Cita Rasa Unggulan

Gantuang Ciri memiliki hubungan yang kuat dengan tanahnya. Masyarakat di sini secara turun-temurun hidup dari bertani dan berladang. Cengkeh, jahe, dan kopi adalah tiga komoditas andalan yang menjadi kebanggaan lokal. Tak hanya sebagai sumber penghidupan, bertani adalah cara hidup, bagian dari ritme yang menghubungkan manusia dengan alam.

Namun, tak lengkap bicara soal Gantuang Ciri tanpa menyebut salah satu tradisi paling unik mereka yaitu Mangalah Batang Aia.

Mangalah Batang Aia: Tradisi, Ekosistem, dan Kebersamaan

Dilaksanakan setahun sekali tepatnya pada hari ketiga setelah Idulfitri tradisi Mangalah Batang Aia adalah momen yang ditunggu-tunggu. Warga berkumpul untuk menangkap ikan bersama secara tradisional, tanpa alat yang merusak lingkungan seperti putas ikan, setrum, atau racun. Semua dilakukan secara manual demi menjaga ekosistem sungai agar tetap lestari.

Yang membuat tradisi ini makin hangat adalah makan bersama di akhir kegiatan. Makanan disajikan, tawa dibagikan, dan keluarga yang merantau pulang disambut hangat. Lebaran ketiga di Gantuang Ciri bukan hanya tentang silaturahmi, tapi juga perayaan nilai-nilai kebersamaan yang kuat.

Baralek dan Filosofi Tiga Lauk

Dalam setiap hajatan adat seperti baralek (pesta pernikahan), Gantuang Ciri memiliki aturan tak tertulis tapi sangat dijunjung tinggi dimana hanya tiga jenis lauk yang boleh disajikan. Bukan karena tak mampu menyediakan lebih, tapi karena di sini rasa empati lebih utama dari kemewahan. Tiga lauk saja cukup dan biasanya berupa daging, pangek cubadak (masakan nangka), dan sayur pakis atau paniaran untuk menjaga agar yang kurang mampu tetap merasa setara. Sederhana, tapi bermakna dalam.

Mengaku Induak: Menjaga Ruang Inklusif dalam Adat

Dalam masyarakat Minang, struktur sosial sangat erat dengan suku. Namun, bagaimana dengan anak yang ibunya bukan asli Minang, sementara ayahnya Minang? Di sinilah proses adat mengaku induak hadir sebagai bentuk inklusivitas dalam tradisi.

Dengan menyerahkan satu emas, keluarga bisa memohon pengakuan kepada tokoh adat, agar anak tersebut bisa “me mamak” ke seorang Bundo Kanduang. Setelah itu, barulah anak itu diakui secara adat sebagai bagian dari komunitas. Proses ini menegaskan bahwa adat bisa tetap menjaga nilai keterbukaan tanpa kehilangan jati diri.

Cara Bertamu yang Sarat Makna

Bagi pendatang, satu hal yang perlu diingat ketika memasuki Gantuang Ciri yaitu selalu bersalaman. Hal ini bukan sekadar bentuk sopan santun, tapi simbol keterbukaan dan penghormatan dalam masyarakat. Sebuah salam bisa menjadi pintu masuk yang hangat ke

dalam lingkaran sosial nagari.

Budaya yang Hidup Bersama Generasi Muda

Yang menggembirakan, nilai-nilai ini tidak berhenti di generasi tua. Para pemuda Gantuang Ciri tetap akrab dengan sejarah dan tradisi kampungnya. Mereka tahu, apa yang mereka jaga hari ini bukan sekadar rutinitas, tapi warisan yang membentuk siapa mereka sebenarnya.

Pesan dari Mandeh

Di akhir cerita, Mandeh menyampaikan pesan yang menggugah:

“Siapapun kamu, dari suku manapun, kaya atau tidak, kalau sudah tinggal di Gantuang Ciri, maka semua sama rata. Tidak ada yang dibedakan dalam adat kami.”

Dan dari cerita ini, kita bisa belajar satu hal penting bahwa budaya bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang bagaimana kita merawatnya hari ini, agar tetap hidup untuk generasi yang akan datang.