Konten dari Pengguna

Di Balik Pemeriksaan Sederhana, Ada Harapan yang Dijaga

Maharani Indah Palenda

Maharani Indah Palenda

Dewan Penasihat Anggota Muda IAKMI

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maharani Indah Palenda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image From CISDI (Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives)
zoom-in-whitePerbesar
Image From CISDI (Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives)

"Saya sehat-sehat saja kok, ngapain diperiksa?"

Kalimat itu mungkin pernah kita dengar dari orang tua, tetangga, atau bahkan keluar dari mulut kita sendiri. Selama tubuh masih bisa diajak bekerja, masih kuat beraktivitas, dan belum terasa sakit, rasanya tidak ada alasan untuk datang ke puskesmas. Pemeriksaan kesehatan sering dianggap sebagai sesuatu yang dibutuhkan orang sakit, bukan orang sehat.

Padahal, tubuh tidak selalu memberi tanda ketika sedang bermasalah.

Beberapa masyarakat baru mengetahui dirinya mengidap hipertensi setelah mengalami pusing hebat. Ada yang baru sadar kadar gula darahnya tinggi ketika penglihatannya mulai terganggu. Bahkan tidak sedikit yang mengetahui fungsi ginjalnya menurun saat kondisinya sudah cukup berat. Bukan karena penyakit itu datang tiba-tiba, tetapi karena selama ini tubuh bekerja dalam diam tanpa sempat kita dengarkan.

Karena itu, ketika melihat seorang ibu duduk tenang di depan meja pemeriksaan kesehatan, mempersilakan jarinya diambil setetes darah atau lengannya dipasang alat pengukur tekanan darah, sebenarnya yang sedang dijaga bukan hanya angka hasil pemeriksaan. Di balik proses yang hanya berlangsung beberapa menit itu, ada kesempatan untuk menemukan risiko penyakit lebih awal, ada harapan agar seseorang tetap sehat mendampingi keluarganya, dan ada peluang untuk mencegah kondisi yang lebih serius di kemudian hari.

Sayangnya, budaya memeriksakan kesehatan secara rutin masih belum menjadi kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia. Kita lebih akrab dengan istilah "berobat" daripada "mencegah". Datang ke fasilitas kesehatan sering kali menjadi pilihan terakhir setelah rasa sakit tidak lagi bisa ditahan.

Melalui Program Cek Kesehatan Gratis, pemerintah berupaya membangun kebiasaan baru di tengah masyarakat, yaitu tidak menunggu sakit untuk memeriksakan kesehatan. Layanan ini dirancang agar setiap orang, mulai dari bayi hingga lansia, dapat mengetahui kondisi kesehatannya sesuai kebutuhan usia. Dengan begitu, berbagai risiko penyakit bisa dikenali lebih awal sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius (Kemenkes, 2025).

Sugiyanto dkk. (2025) menyatakan bahwa pemeriksaan kesehatan gratis berperan penting dalam mendeteksi dini penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, hipertensi, kolesterol tinggi, dan asam urat. Selain membantu menemukan faktor risiko yang sebelumnya tidak disadari masyarakat, kegiatan ini juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit.

Suwanti dkk. (2026) menjelaskan tentang pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dengan pendekatan partisipatif dan kunjungan dari rumah ke rumah efektif dapat membantu mendeteksi penyakit tidak menular, seperti diabetes melitus dan hipertensi, sejak dini. Selain meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan, pendekatan ini juga mendorong partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit melalui deteksi dini.

Ismawatie dkk. (2025) menjelaskan bahwa edukasi kesehatan yang disertai dengan skrining mampu meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan minat masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Selain membantu mendeteksi faktor risiko penyakit lebih dini, skrining juga memungkinkan masyarakat memperoleh tindak lanjut medis sebelum penyakit berkembang menjadi lebih serius.

Chien, Chuang, dan Chen (2020) menjelaskan bahwa keputusan seseorang untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan dipengaruhi oleh kesadaran terhadap kesehatan, persepsi mengenai manfaat pemeriksaan, serta berbagai hambatan seperti rasa takut mengetahui hasil pemeriksaan, keterbatasan waktu, dan anggapan bahwa pemeriksaan tidak diperlukan selama tubuh masih terasa sehat. Temuan ini menunjukkan bahwa penyediaan layanan saja belum cukup. Edukasi dan perubahan cara pandang masyarakat juga menjadi kunci agar lebih banyak orang bersedia memeriksakan kesehatannya.

Francis dkk. (2023) menjelaskan bahwa investasi di bidang kesehatan tidak hanya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang luas. Akses terhadap layanan kesehatan dapat meningkatkan produktivitas, mengurangi beban biaya pengobatan yang harus ditanggung masyarakat, mempersempit kesenjangan, serta mendukung pembangunan ekonomi yang lebih inklusif. Dengan kata lain, menjaga kesehatan bukan sekadar menyelamatkan individu dari penyakit, tetapi juga menjadi investasi bagi masa depan bangsa.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang orang-orang yang kita sayangi. Ketika kita memilih meluangkan waktu untuk memeriksa kesehatan sejak dini, kita sedang menjaga kesempatan untuk tetap hadir di tengah keluarga, tetap berkarya, dan tetap mewujudkan mimpi-mimpi yang belum selesai. Mewujudkan Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang, semuanya berawal dari keberanian melakukan satu pemeriksaan sederhana. Sebab, di balik setiap pemeriksaan sederhana, selalu ada harapan yang dijaga serta harapan untuk hidup yang lebih sehat, keluarga yang lebih kuat, dan masa depan Indonesia yang lebih baik.

#MasyarakatSehatIndonesiaKuat #LombaKesehatanKomdigi2026 #HUT81RI

Referensi:

  1. Chien, S. Y., Chuang, M. C., & Chen, I. P. (2020). Why People Do Not Attend Health Screenings: Factors That Influence Willingness to Participate in Health Screenings for Chronic Diseases. International journal of environmental research and public health, 17(10), 3495. https://doi.org/10.3390/ijerph17103495

  2. Francis, D. L., Dumka, N., Kotwal, A., & Dutta, P. K. (2023). Why should we invest in health? Evidence from the lens of second-order benefits of health. Journal of Global Health Reports, 7, e2023059. https://doi.org/10.29392/001c.85124

  3. Ismawatie, E., Maulani, Y., Dewi, Y. R., & Supriyanto, E. E. (2025). Peran edukasi dan skrining kesehatan dalam deteksi dini pada pengunjung Solo Grandmall. Community Development Journal, 6(1), 1417–1420.

  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2025). Cek Kesehatan Gratis: Ini Manfaat dan Jenis Pemeriksaan yang Kamu Dapatkan. https://ayosehat.kemkes.go.id/cek-kesehatan-gratis

  5. Sugiyanto, E. P., Rinayati, R., Junaedi, M., & Yusron, Y. (2025). Pemeriksaan Kesehatan Gratis. Jurnal Peduli Masyarakat, 7(4), 213-218. https://doi.org/10.37287/jpm.v7i4.7090

  6. Suwanti, Kinanti, N. L., Nadia, S., Setyawan, Y., & Lestari, P. (2026). Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai upaya deteksi dini penyakit tidak menular di Dusun Sendang Putri Desa Nyatnyono. Indonesian Journal of Community Empowerment (IJCE), 8(1), 71–76. https://doi.org/10.35473/ijce.v8i1.5115