Kelola Sampah dengan Baik, Nikmati Wisata Bersama Anak Muda

Dewan Penasihat Anggota Muda IAKMI
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Maharani Indah Palenda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Laut Bukan Sekadar Tempat Wisata
Matahari pagi mulai naik ketika para anak muda berjalan menyusuri bibir pantai. Karung dan sarung tangan sudah disiapkan. Satu per satu sampah yang terbawa ombak dipungut, mulai dari botol plastik sampai bungkus makanan. Beberapa anak yang tinggal di sekitar pesisir pun terlihat memperhatikan, bahkan ada yang ikut membantu. Dari kegiatan sederhana itu, terlihat bahwa menjaga laut sebenarnya juga berarti menjaga tempat tinggal dan kehidupan masyarakat yang ada di sekitarnya.
Bagi sebagian orang, pantai mungkin identik dengan tempat untuk bersantai atau berlibur. Berbeda dengan masyarakat pesisir yang setiap harinya hidup berdampingan dengan laut. Nelayan, misalnya, bergantung pada kondisi laut untuk mendapatkan hasil tangkapan. Anak-anak pun tumbuh di lingkungan yang sama, bermain dan beraktivitas tidak jauh dari kawasan pesisir. Karena itu, ketika sampah mulai memenuhi pantai, persoalannya bukan lagi sekadar soal pemandangan yang terlihat kotor. Keterlibatan masyarakat dalam menjaga dan mengelola wilayah pesisir juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.¹
Sampah yang Berakhir di Laut
Membersihkan pantai menjadi salah satu langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi masalah tersebut. Para relawan mengumpulkan berbagai jenis sampah yang ditemukan di sepanjang garis pantai, seperti botol plastik, bungkus makanan, styrofoam, hingga sampah-sampah kecil yang terbawa air. Meski terlihat sederhana, kegiatan ini menunjukkan bahwa menjaga kebersihan laut tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Ada peran masyarakat, relawan, maupun siapa pun yang sehari-hari menggunakan dan menikmati lingkungan pesisir.
Persoalan sampah laut masih menjadi masalah yang sulit dilepaskan dari kehidupan masyarakat pesisir. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup, sampah rumah tangga masih menjadi salah satu penyumbang terbesar timbulan sampah di Indonesia. Plastik juga termasuk jenis sampah yang banyak ditemukan.² Sampah yang tidak tertangani dengan baik bisa terbawa aliran sungai hingga akhirnya masuk ke laut dan menumpuk di kawasan pesisir.
Masalahnya tidak berhenti ketika sampah sudah berada di laut. United Nations Environment Programme (UNEP) dalam From Pollution to Solution menyebutkan bahwa sampah plastik menjadi bagian besar dari persoalan sampah laut dunia. Plastik yang berada di lingkungan dalam waktu lama dapat pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil atau mikroplastik. Keberadaannya kemudian dapat masuk ke lingkungan laut dan berpotensi mengganggu ekosistem serta rantai makanan.⁴
Bersih Pantai Bukan Sekadar Memungut Sampah
Indonesia sebenarnya sudah memiliki langkah untuk menangani persoalan tersebut. Salah satunya melalui Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut. Aturan tersebut menargetkan pengurangan sampah laut hingga 70 persen pada 2025.³ Selain pemerintah, berbagai komunitas dan kelompok masyarakat juga ikut mengambil bagian lewat kegiatan bersih pantai, edukasi, hingga kampanye untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Namun, membersihkan pantai tentu tidak cukup jika sampah terus datang. Sampah yang sudah dikumpulkan hari ini bisa saja kembali ditemukan beberapa waktu kemudian, terutama ketika tidak ada perubahan dalam cara masyarakat menggunakan dan membuang sampah. Karena itu, kegiatan bersih pantai seharusnya tidak berhenti pada kegiatan memungut sampah saja. Ada pesan yang ingin dibawa, yaitu mengajak orang untuk lebih memperhatikan apa yang terjadi dengan sampah setelah dibuang.
Anak Muda Ikut Bergerak
Hal tersebut juga terlihat dari kegiatan para relawan di pesisir. Mereka tidak hanya menghabiskan waktu untuk mengumpulkan sampah, tetapi juga melihat langsung kondisi lingkungan yang selama ini menjadi tempat tinggal dan sumber penghidupan masyarakat. Bagi masyarakat pesisir, kondisi laut punya hubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Semakin banyak sampah yang masuk ke laut, semakin besar pula persoalan yang harus dihadapi.
Menjaga Laut Adalah Tanggung Jawab Bersama
Menjaga pesisir juga membutuhkan peran dari banyak pihak. Pemerintah perlu memastikan kebijakan dan pengelolaan sampah berjalan, komunitas dapat terus menggerakkan masyarakat melalui aksi dan edukasi, sementara masyarakat sendiri bisa memulainya dari kebiasaan sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan tidak membuang sampah sembarangan.
Aksi bersih pantai mungkin tidak langsung membuat persoalan sampah laut selesai. Namun, dari kegiatan seperti inilah kepedulian bisa mulai tumbuh. Satu orang memungut sampah, kemudian orang lain ikut bergerak. Jika kebiasaan itu terus dilakukan dan diikuti lebih banyak orang, menjaga laut tidak lagi hanya menjadi tugas para relawan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Karena bagi masyarakat pesisir, laut yang bersih bukan sekadar soal pemandangan, melainkan bagian dari kehidupan yang perlu dijaga.
Laut adalah tempat mereka mencari penghidupan, tempat anak-anak tumbuh, dan bagian dari kehidupan sehari-hari. Maka, menjaga laut bukan pekerjaan satu kelompok saja. Dari relawan yang memungut sampah, masyarakat yang mulai mengubah kebiasaan, sampai anak muda yang ikut menyuarakan persoalan lingkungan, semuanya punya bagian untuk memastikan laut tetap menjadi ruang hidup yang layak bagi generasi sekarang dan yang akan datang.
Referensi
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. (2024). Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12 Tahun 2024 tentang Peran Serta dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Kementerian Lingkungan Hidup. (2025). Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN).
Republik Indonesia. (2018). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut.
United Nations Environment Programme. (2021). From Pollution to Solution: A Global Assessment of Marine Litter and Plastic Pollution. Nairobi: UNEP
