Ini Cara Suyanto Merawat Warisan Batik Lewat Inovasi

Bagi Suyanto, membatik tak harus selalu dilakukan di selembar kain. Di tangannya, corak batik juga menghiasi beragam benda, mulai dari topeng, tempat tisu, nampan kayu, hingga payung dan tumbler. Kreativitas itulah yang terus menghidupkan Adhimas Batik, usaha yang dirintisnya lebih dari tiga dekade lalu di Klaten, Jawa Tengah.
Perjalanan Suyanto sebagai pengrajin batik bermula pada 1995. Kala itu, ia memulai usahanya dari rumahnya dia Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten dengan memproduksi berbagai perlengkapan rumah tangga berbahan kain, seperti seprei, bantal lantai, dan bantal kursi.
Dalam menjalankan Adhimas Batik, Suyanto juga melibatkan masyarakat di sekitar rumahnya dalam proses produksi. Salah satunya adalah warga dengan disabilitas wicara yang turut mengerjakan proses mencanting dan masih aktif membatik hingga kini.
Seiring waktu, keinginan Suyanto untuk mencoba sesuatu yang baru semakin besar. Ia mulai bereksperimen dengan kayu sebagai bahan untuk mengembangkan kerajinan batiknya.
Percobaan tersebut membuahkan hasil. Suyanto menemukan bahwa kayu mampu menyerap warna dengan baik sehingga dapat diolah menjadi berbagai produk dekoratif maupun fungsional. Meski demikian, membatik di atas kayu membutuhkan teknik yang berbeda dari kain.
Menurut Suyanto, baik kain dan kayu atau media lain memiliki karakteristik tersendiri sehingga proses pengerjaannya perlu disesuaikan agar motif dan warna yang dihasilkan tetap berkualitas.
Eksplorasinya pun tidak berhenti pada kerajinan kayu. Adhimas Batik terus mengembangkan kain batik tulis dan menerima pesanan berbagai produk kerajinan. Kini, payung dan tumbler menjadi bagian dari inovasi produk terbarunya.
Meski telah mencoba berbagai media, kain batik tulis tetap memiliki tempat istimewa bagi Suyanto. Baginya, kain merupakan bagian penting dari identitas batik sekaligus menjadi media yang memperlihatkan kerumitan proses pembuatannya.
“Bagaimanapun kain itu istilahnya kan ikon batik, ya,” tutur Suyanto kepada kumparan.
Dukungan Pertamina Membuka Peluang Pasar Lebih Luas
Kreativitas dalam mengembangkan produk menjadi salah satu cara Suyanto menjaga keberlangsungan Adhimas Batik. Namun, menjalankan usaha selama puluhan tahun bukan tanpa tantangan. Ia mengaku sempat menghadapi keterbatasan dalam memperluas pemasaran dan meningkatkan keterampilan mengelola usaha.
Kesempatan untuk mengembangkan bisnisnya datang ketika seorang teman memberitahunya soal program pembinaan Pertamina. Suyanto kemudian mengajukan proposal dan pada 2013, usahanya resmi bergabung sebagai UMKM binaan Pertamina.
Saat itu, ia memperoleh modal tambahan untuk mendukung pengembangan usahanya. Selain modal, Suyanto juga mendapat berbagai pelatihan, mulai dari pembuatan situs web dan blog, pemasaran online, hingga cara meningkatkan kualitas produk.
Tak hanya meningkatkan keterampilan dalam mengelola bisnis, pendampingan tersebut juga membuka kesempatan bagi Adhimas Batik untuk mengikuti berbagai pameran. Bagi Suyanto, kesempatan mengikuti pameran menjadi salah satu dukungan paling berarti dalam memperluas jangkauan pemasaran Adhimas Batik.
“Diajak pameran-pameran itu sangat luar biasa. Untuk membantu pemasaran produk, mengenalkan produk,” ujarnya.
Salah satu kesempatan untuk memperluas pemasaran Adhimas Batik datang melalui INACRAFT 2026. Dengan dukungan Pertamina, Suyanto berkesempatan memperkenalkan beragam karyanya, termasuk payung dan tumbler batik yang menjadi produk terbarunya.
Kesempatan mengikuti berbagai pameran turut membantu Adhimas Batik memperluas jangkauan pemasaran. Seiring perkembangan usahanya, karya Suyanto juga menarik minat pembeli dari luar negeri.
Produk kerajinannya pernah dibeli oleh pelanggan dari Korea, Jepang, dan Amerika Serikat. Sementara itu, kain batik tulis buatannya juga diminati pembeli dari Malaysia dan Singapura.
Sebagian pembeli bahkan datang langsung ke tempat usahanya di Klaten. Tak hanya menjadi tempat produksi dan penjualan, rumah Suyanto juga menjadi ruang belajar bagi masyarakat yang ingin mengenal proses membatik.
Pengunjungnya beragam, mulai dari anak-anak, mahasiswa, hingga wisatawan mancanegara. Mereka berkesempatan melihat dan mempelajari proses pembuatan batik secara langsung.
Melihat peluang yang terus terbuka, Suyanto berharap dapat mengikuti lebih banyak pameran, termasuk di luar Pulau Jawa maupun luar negeri. Meski ingin terus mengembangkan usaha, ia memiliki satu harapan utama, yakni memastikan Adhimas Batik tetap bertahan sebagai sumber penghidupan keluarganya.
“Rencananya yang jelas untuk selalu mempertahankan usaha kami karena itu adalah darah daging ekonomi kami sekeluarga,” kata Suyanto.
Sementara itu, VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, dukungan Pertamina dalam memajukan perekonomian masyarakat salah satunya melalui program pembinaan UMKM.
"Menjadi Mitra Binaan Pertamina membuka peluang bagi UMKM untuk memperluas pasar sekaligus memperkuat kapasitas usaha. Dukungan pelatihan dan akses pameran membantu UMKM mengenalkan produk mitra binaan kepada lebih banyak masyarakat," kata Baron.
