Kampus Bukan "Safe Space": Mengapa Kasus Pelecehan Terus Berulang?

Mahasiswi Prodi Ilmu Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Medan
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Nisa Maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, linimasa kita kembali sesak oleh rentetan kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus. Mulai dari penyalahgunaan wewenang oknum dosen hingga perilaku menyimpang antar mahasiswa. Pertanyaannya: apakah kampus kita benar-benar sedang berbenah, atau hanya sibuk memoles citra?
Menurut saya, meledaknya kasus-kasus ini adalah bukti bahwa relasi kuasa masih menjadi akar masalah yang tak tersentuh. Di kampus, jarak antara "senior-junior" atau "dosen-mahasiswa" sering kali menciptakan ruang gelap bagi predator. Ironisnya, ketika korban bersuara, institusi kerap lebih sigap melindungi "nama baik" ketimbang memberikan keadilan.
Lahirnya Satgas PPKS di berbagai universitas adalah langkah maju, namun belum cukup. Satgas tidak boleh hanya jadi pajangan birokrasi. Mereka harus punya taji untuk menindak siapa pun, tanpa pandang bulu atau jabatan. Transparansi proses hukum di internal kampus adalah harga mati agar ada efek jera yang nyata.
Sebagai penutup, solidaritas kita tidak boleh berhenti pada sekadar viral di medsos. Kita harus terus mendesak agar kampus benar-benar menjadi tempat menimba ilmu yang aman, bukan tempat di mana predator bisa bersembunyi di balik gelar akademik.
Nisa Maharani mahasiswi Universitas Katolik santo Thomas Medan
