Konten dari Pengguna

Jalan Rusak Bukan Cuma Soal Nyaman: Ada Biaya Ekonomi yang Dibayar Setiap Hari

Saepani

Saepani

Mahasiswa universitas pamulang, dengan menulis seebagai hobinya

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Saepani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Jalan Rusak, Sumber: Dok. Pribadi/AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Jalan Rusak, Sumber: Dok. Pribadi/AI

Ketika membicarakan jalan rusak, perhatian masyarakat biasanya tertuju pada lubang, kemacetan, kendaraan yang harus berjalan lebih pelan, atau rasa tidak nyaman ketika berkendara. Namun, ada persoalan lain yang sering luput dibicarakan: jalan rusak juga memiliki biaya ekonomi yang dibayar setiap hari.

Biaya tersebut tidak selalu terlihat dalam bentuk angka besar. Kadang muncul sebagai tambahan bensin karena perjalanan menjadi lebih lama, biaya perawatan kendaraan yang meningkat, keterlambatan barang sampai ke toko, hingga waktu kerja yang terbuang di perjalanan.

Dengan kata lain, jalan yang rusak bukan hanya persoalan infrastruktur. Kondisi tersebut dapat memengaruhi bagaimana aktivitas ekonomi bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

Waktu yang Hilang Juga Memiliki Nilai Ekonomi

Salah satu dampak paling sederhana dari jalan rusak adalah bertambahnya waktu perjalanan.

Kendaraan yang seharusnya dapat menempuh suatu rute dalam waktu tertentu harus melambat, menghindari lubang, atau mencari jalur alternatif. Bagi masyarakat biasa, tambahan waktu mungkin terlihat kecil. Namun, bagi pedagang, kurir, petani, pengusaha kecil, dan kendaraan distribusi, waktu merupakan bagian dari biaya operasional.

Satu perjalanan yang terlambat mungkin tidak langsung terasa. Tetapi apabila terjadi setiap hari dan dilakukan oleh banyak pelaku ekonomi, akumulasi waktunya menjadi besar.

Di sinilah jalan rusak dapat memengaruhi produktivitas. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mengantar barang, melayani pelanggan, bekerja, atau melakukan aktivitas usaha justru habis di perjalanan.

Kendaraan Menjadi Lebih Mahal untuk Dioperasikan

Jalan yang tidak baik juga dapat meningkatkan beban operasional kendaraan.

Perjalanan melalui jalan berlubang dan permukaan yang tidak rata berpotensi membuat kendaraan membutuhkan perawatan lebih sering. Ban, suspensi, dan komponen kendaraan lainnya dapat menghadapi beban yang lebih berat dibandingkan ketika kendaraan beroperasi di jalan yang kondisinya baik.

Bagi perusahaan besar, biaya tersebut mungkin masuk ke dalam perhitungan operasional. Tetapi bagi usaha kecil, tambahan biaya kendaraan dapat langsung memengaruhi keuntungan.

Seorang pedagang yang menggunakan kendaraan untuk mengambil barang, misalnya, tidak hanya menghitung harga barang yang dibeli. Ia juga harus memperhitungkan bahan bakar, perawatan kendaraan, waktu perjalanan, serta risiko keterlambatan.

Artinya, kualitas jalan pada akhirnya ikut memengaruhi biaya menjalankan usaha.

Efeknya Bisa Sampai ke Harga Barang

Ketika biaya distribusi meningkat, pelaku usaha memiliki beberapa pilihan. Sebagian mungkin menanggung biaya tersebut sehingga keuntungan berkurang. Sebagian lainnya dapat memasukkan tambahan biaya ke dalam harga jual.

Inilah salah satu alasan mengapa kualitas infrastruktur memiliki hubungan dengan efisiensi ekonomi.

World Bank dalam Indonesia Economic Prospects 2026 mencatat bahwa transportasi darat merupakan komponen terbesar dalam biaya transportasi logistik Indonesia pada 2024. Laporan tersebut juga menyoroti bahwa biaya dan ketidakefisienan logistik domestik masih menjadi tantangan bagi produktivitas.

Jalan rusak memang bukan satu-satunya penyebab tingginya biaya logistik. Namun, kondisi jalan merupakan salah satu bagian dari rantai transportasi yang menentukan seberapa efisien barang bergerak dari produsen menuju konsumen.

Yang Paling Terasa Justru Usaha Kecil

Dampak jalan rusak tidak selalu sama bagi setiap pelaku ekonomi.

Perusahaan besar mungkin memiliki armada, gudang, dan sistem distribusi yang memungkinkan mereka mengurangi sebagian dampak keterlambatan. Sementara itu, usaha mikro dan kecil biasanya memiliki ruang yang lebih terbatas untuk menyerap kenaikan biaya.

Bagi pedagang kecil, tambahan biaya perjalanan bisa berarti berkurangnya margin keuntungan. Bagi petani, perjalanan yang lebih lama dapat menyulitkan pengiriman hasil produksi ke pasar. Bagi pelaku usaha di daerah, jalan yang buruk juga dapat membatasi akses mereka terhadap konsumen yang berada di wilayah lain.

Karena itu, pembahasan jalan rusak seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang kenyamanan pengguna jalan. Pertanyaan ekonominya juga penting: berapa banyak kesempatan usaha yang hilang karena konektivitas yang tidak efisien?

Jalan yang Baik Bisa Membuka Aktivitas Ekonomi Baru

Perbaikan jalan bukan sekadar menghilangkan lubang. Infrastruktur yang lebih baik dapat memperluas akses ekonomi.

Ketika waktu perjalanan menjadi lebih singkat dan biaya transportasi lebih terkendali, pelaku usaha dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Distribusi bahan baku juga dapat menjadi lebih mudah.

Pemerintah sendiri melalui program Inpres Jalan Daerah telah melakukan pembangunan dan rekonstruksi jalan daerah. Sekretariat Negara mencatat bahwa 1.151 kilometer jalan daerah telah diresmikan pada Juni 2026 sebagai bagian dari program tersebut.

Dari perspektif ekonomi, pembangunan jalan seperti ini dapat dilihat bukan hanya sebagai proyek fisik, tetapi juga sebagai investasi terhadap konektivitas.

Jalan menghubungkan produsen dengan pasar, pekerja dengan tempat kerja, petani dengan pembeli, dan usaha kecil dengan konsumen.

Jangan Hanya Memperbaiki Saat Sudah Parah

Salah satu persoalan penting dalam pengelolaan jalan adalah biaya pemeliharaan dan perbaikan.

Kerusakan yang dibiarkan terlalu lama dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih besar. Ombudsman RI pada 2026 juga menyoroti bahwa kerusakan jalan dapat meningkatkan biaya transportasi dan menghambat mobilitas serta aktivitas ekonomi.

Karena itu, pendekatan ekonomi terhadap jalan seharusnya tidak hanya menghitung berapa biaya memperbaiki jalan hari ini.

Yang perlu dihitung juga adalah berapa biaya yang muncul jika kerusakan dibiarkan: tambahan waktu perjalanan, meningkatnya biaya kendaraan, terganggunya distribusi, hingga berkurangnya produktivitas pelaku usaha.

Dengan cara pandang tersebut, pemeliharaan jalan dapat dipahami sebagai bagian dari efisiensi ekonomi, bukan sekadar pengeluaran pemerintah.

Lubang di Jalan, Biaya di Banyak Sisi

Jalan rusak sering terlihat sebagai masalah sederhana karena bentuknya dapat dilihat secara langsung. Namun, dampaknya menyebar ke berbagai aktivitas.

Ada biaya bahan bakar, biaya kendaraan, biaya waktu, biaya distribusi, hingga potensi kehilangan kesempatan usaha.

Itulah sebabnya kualitas jalan seharusnya dilihat sebagai bagian dari ekosistem ekonomi. Ketika konektivitas membaik, pergerakan barang dan manusia menjadi lebih efisien. Sebaliknya, ketika konektivitas terganggu, biaya ekonomi dapat muncul sedikit demi sedikit tanpa selalu disadari masyarakat.

Pada akhirnya, persoalan jalan rusak bukan hanya tentang bagaimana membuat perjalanan menjadi lebih nyaman. Persoalannya adalah bagaimana memastikan setiap perjalanan memiliki biaya dan waktu yang seefisien mungkin.

Sebab dalam ekonomi, waktu yang terbuang dan biaya yang bertambah pada perjalanan sehari-hari pada akhirnya ikut menentukan seberapa besar nilai yang bisa dihasilkan masyarakat.