Konten dari Pengguna

Di Antara Dua Pilihan: Kuliah Jalan, Mimpi PTN Tetap Dikejar

Mahdiah Andien Lestari

Mahdiah Andien Lestari

Mahasiswi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Sriwijaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mahdiah Andien Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjalani semi-gap sambil kuliah dan persiapan SNBT bukan hal mudah. Ada tantangan waktu, tekanan mental, dan pengorbanan demi PTN impian.

Stress belajar (Foto: Ilustrasi)
zoom-in-whitePerbesar
Stress belajar (Foto: Ilustrasi)

Menjalani semi-gap sering kali terlihat sederhana dari luar. Sekilas, hanya seperti menjalani kuliah sambil mempersiapkan diri menghadapi SNBT demi masuk PTN impian. Tapi kalau dijalani, fase ini jauh dari kata santai. Ada tekanan yang datang dari dua arah sekaligus, ada waktu yang terus terasa kurang, dan ada banyak hal yang harus dikorbankan tanpa banyak orang tahu.

Di fase semi-gap, seseorang tidak benar-benar berhenti, tapi juga belum sampai ke tujuan yang diinginkan. Kuliah tetap berjalan seperti biasa, tapi di balik itu, ada usaha lain yang terus dilakukan—belajar lagi, mengulang materi, dan mempersiapkan diri untuk kesempatan berikutnya.

Dilema Pilihan dalam Fase Semi-Gap

Salah satu tantangan paling terasa dalam semi-gap adalah soal pilihan. Kehidupan mahasiswa identik dengan eksplorasi—ikut organisasi, kepanitiaan, menambah relasi, dan mencari pengalaman di luar kelas. Itu semua sebenarnya penting, bahkan sering disebut sebagai bagian dari proses berkembang.

Namun, ketika berada di fase semi-gap, tidak semua kesempatan itu bisa diambil. Fokus yang terbagi antara kuliah dan persiapan SNBT membuat seseorang harus lebih selektif, bahkan sering kali harus mengalah. Banyak kesempatan yang akhirnya dilewatkan, bukan karena tidak ingin, tapi karena sadar tidak bisa menjalankan semuanya sekaligus.

Di titik ini, rasa tertinggal sering muncul. Melihat teman-teman mulai aktif, punya kegiatan, dan menikmati kehidupan kampus sepenuhnya, sementara diri sendiri harus menahan banyak hal. Perasaan seperti ini wajar, tapi tetap saja tidak mudah untuk diabaikan.

Manajemen Waktu: Tantangan yang Tidak Pernah Selesai

Selain soal pilihan, masalah terbesar dalam semi-gap adalah waktu. Di satu sisi, ada tuntutan untuk konsisten belajar SNBT—ikut tryout, latihan soal, memperbaiki kesalahan, dan menjaga ritme belajar. Tapi di sisi lain, tanggung jawab kuliah tetap berjalan tanpa kompromi.

Tugas datang silih berganti, presentasi harus dipersiapkan, belum lagi deadline yang tidak bisa ditawar. Waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk fokus belajar SNBT sering kali harus terbagi, bahkan kadang harus dikorbankan.

Mengatur waktu di fase semi-gap bukan sekadar membuat jadwal, tapi juga soal disiplin dan konsistensi. Masalahnya, tidak semua berjalan sesuai rencana. Ada hari di mana energi sudah habis duluan sebelum semua target tercapai. Ada juga momen ketika rasa lelah membuat semuanya terasa berat.

Benturan Jadwal: Kuliah vs SNBT

Tantangan lain yang cukup menguras energi adalah benturan jadwal. Dalam fase semi-gap, tidak jarang jadwal tryout atau waktu belajar rutin bertabrakan dengan jadwal kuliah, UTS, atau bahkan UAS.

Di situ, keputusan yang diambil sering kali terasa serba salah. Memilih kuliah berarti harus melewatkan latihan penting untuk SNBT. Sebaliknya, memilih fokus ke SNBT bisa berdampak pada kehadiran atau performa di perkuliahan.

Situasi seperti ini tidak terjadi sekali dua kali, tapi bisa berulang. Dan setiap kali itu terjadi, selalu ada rasa tidak nyaman karena harus memilih di antara dua hal yang sama-sama penting.

Tekanan Mental dalam Perjalanan Menuju PTN Impian

Di balik semua kesibukan itu, ada tekanan mental yang sering kali tidak terlihat. Menjalani satu tahun semi-gap dengan penuh perhitungan bukan hal yang mudah. Setiap langkah harus dipikirkan—mulai dari membagi waktu, menentukan prioritas, sampai menjaga semangat agar tidak turun di tengah jalan.

Stres perlahan menjadi bagian dari proses. Apalagi ketika hasil tryout belum sesuai harapan, sementara tugas kuliah terus menumpuk. Dalam kondisi seperti ini, rasa ragu sering muncul. Mulai mempertanyakan diri sendiri, mempertanyakan keputusan yang diambil, bahkan mempertanyakan apakah semua usaha ini akan sepadan.

Tekanan bukan hanya datang dari dalam diri, tapi juga bisa dari lingkungan sekitar. Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti “kenapa tidak fokus kuliah saja?” atau “yakin mau coba lagi?” kadang justru menambah beban pikiran.

Semi-Gap Bukan Sekadar Mengulang, Tapi Bertahan

Pada akhirnya, semi-gap bukan hanya soal mengulang SNBT atau mencoba lagi masuk PTN impian. Lebih dari itu, ini tentang bertahan di kondisi yang tidak sepenuhnya ideal.

Ada lelah yang tidak selalu terlihat, ada usaha yang tidak selalu dihargai, dan ada proses yang tidak semua orang pahami. Tapi justru di situlah nilai dari semi-gap. Fase ini mengajarkan konsistensi, kesabaran, dan keberanian untuk tetap berjalan meskipun jalannya terasa lebih berat.

Tidak semua orang memilih jalan semi-gap, dan tidak semua orang mampu menjalaninya. Karena ini bukan sekadar soal pintar atau tidak, tapi soal seberapa kuat seseorang bisa bertahan dalam proses yang panjang.

Pada akhirnya, semi-gap bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi tentang perjalanan itu sendiri—tentang bagaimana seseorang tetap melangkah, meskipun harus membawa banyak hal dalam waktu yang bersamaan, demi satu tujuan: PTN impian.