Harusnya Kita Sedih Syahadah Sayyidina Husein Diperingati Kelompok Tertentu Saja

Mompreneur dan pengajar tahsin di Lembaga Tahsin Benome Gusdurian Riau
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Mahdiya Az Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tanggal 10 Muharram 61 H (Asyura) cucunda Nabi Muhammad saw, Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib syahid. Beliau beserta keluarga dan sahabatnya gugur di Padang Karbala oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Yazid kala itu ingin sekali menjadi khalifah hingga memaksa semua orang berbaiat. Sementara penindasan dan kezaliman telah terjadi di mana-mana.
Yazid bin Muawiyah adalah seorang pemabuk dan berbuat semaunya sendiri. Atas dasar itulah Sayyidina Husein melakukan perlawanan (revolusi). Beliau sebelumnya diundang oleh warga Kufah, mereka ingin membaiat Sayyidina Husein karena mereka tahu bahwa Yazid hanya berbuat kerusakan. Namun sesampainya di Kufah, semua warga menutup pintu akibat ancaman Yazid.
Sampailah Sayyidina Husein dan seluruh kafilahnya di padang Karbala. Pernah berkali-kali Sayyidina Husein berkata pada sahabatnya “Kalian sudah membantuku, kalian boleh kembali kepada keluarga kalian. Aku berterima kasih atas dukungan kalian.”
Lalu sahabat menjawab
“Wahai putra Fathimah, cucu Rasul saw, apa yang akan kami katakan kepada datukmu jika kami bertemu kelak? Bagaimana kami bisa menghadap beliau, jika kami meninggalkan cucunya seorang diri?”
Pasukan di bawah komando Ibnu Ziyad mulai menyerang, satu per satu keturunan Rasul saw gugur. Hari itu Imam Husein dan seluruh keturunan beserta sahabatnya gugur. Hari itu seluruh keturunan Rasul menjadi yatim. Hari itu padang Karbala memerah, langit pun menangis, malaikat berdatangan menjemput syuhada.
Peristiwa ini terus diturunkan hingga sampai pada leluhur kita. Di Sumatra Barat ada Tabuik, di berbagai daerah dilarang melakukan pesta, pernikahan, hajatan. Di jawa Muharram disebut bulan Suro berasal dari kata Asyura, menandakan peristiwa pada tanggal 10 Muharram. Bulan ini adalah bulan duka nestapa. Leluhur kita melarang keras adanya tawa canda di bulan ini.
Tradisi ini masih terus dilestarikan bersamaan dengan tradisi majelis duka yang dilakukan oleh kalangan Syiah dan Habaib. Mereka berkumpul untuk membaca lagi narasi gugurnya cucu Nabi saw, membaca doa ziarah, mendoakan para syuhada, memohon syafaat, serta menyampaikan belasungkawa kepada Nabi saw.
Banyak orang mengira peringatan ini berisi caci maki, penyimpangan, serta menyakiti diri. Tidak, peringatan ini berupa majelis duka yang sakral. Laknat ditujukan pada para pembunuh keji, tak ada caci maki untuk sahabat Nabi. Tak ada penyimpangan yang dilakukan, berdoa, berziarah, dan membaca narasi bukanlah kesalahan. Menyakiti diri sangat diharamkan oleh semua ulama dan termasuk perbuatan haram.
Sayyidina Husein bin Ali bukanlah milik orang Syiah, bukan milik bangsa Arab, bukan miliki para Habib, bukan pula orang Islam. Sayyidina Husein milik kita semua, beliau bersama orang-orang yang membela Al Haq (kebenaran) dan melawan kebatilan serta kezaliman. Di masa Yazid, semua rakyat baik Islam maupun bukan tetap menderita. Imam Husein bukan membela salah satu kaum, tapi beliau membela seluruh rakyat yang tertindas.
Beliau membawa misi keadilan, ajaran Tuhan sudah dirusak, hadis banyak dipalsukan, pemabuk bebas berbuat kerusakan. Imam Husein dengan lantang menolak segala hal yang bertentangan dengan Tauhid.
Seharusnya kita bersedih jika Syahadah Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib hanya diperingati sebagian kecil dari kita. Seharusnya kita semua memperingati juga, sebagaimana kita mengheningkan cipta saat upacara mengenang jasa dan gugurnya pahlawan. Sebagaimana kita memperingati haul guru-guru kita. Sebagaimana kita mendoakan dan menziarahi keluarga kita yang terlebih dahulu meninggalkan kita.
Seharusnya kita ikut memperingati, membuat majelis duka, berbelasungkawa. Memperingati asyura bukan berarti kita syiah, tapi menunjukkan bahwa kita mencintai kebenaran.
