Konten dari Pengguna

MMD UB 2026 Kelompok 54 Memberikan Psikoedukasi Emosi melalui Program SEHATI

Mahdiyyah Lailatus Isti'anah

Mahdiyyah Lailatus Isti'anah

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mahdiyyah Lailatus Isti'anah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lamongan, 16 Juli 2026 — Kesadaran mengenai kesehatan mental perlu dikenalkan sejak usia dini agar anak mampu memahami, mengenali, dan mengelola emosinya dengan baik. Berangkat dari pentingnya hal tersebut, mahasiswa MMD (Mahasiswa Membangun Desa) Kelompok 54 Universitas Brawijaya melaksanakan program SEHATI (Sahabat Emosi, Harmoni Anak Tumbuh Ideal) di Desa Gendong Kulon, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan.

SEHATI merupakan program yang mengangkat tema “Program Pengenalan Emosi sebagai Upaya Membangun Kesadaran Kesehatan Mental Anak.” Program ini ditujukan kepada anak-anak usia sekolah dasar dengan tujuan membantu mereka mengenali berbagai emosi, memahami penyebab munculnya emosi, serta mengetahui cara mengekspresikan dan mengelola emosi secara lebih sehat.

Dalam pelaksanaannya di SDN Gendongkulon, kegiatan SEHATI dikemas secara interaktif dan disesuaikan dengan karakteristik anak-anak kelas 3 SD. Siswa diajak mengenal berbagai jenis emosi melalui media edukasi yang menarik, seperti poster emosi dan emotion cards berdasarkan karakter dalam film "Inside Out". Anak-anak juga mengikuti kegiatan Tabung Emosi, yaitu aktivitas mewarnai yang mengajak mereka mengenali dan menuangkan perasaan melalui media visual.

Kegiatan memperagakan dan menebak emosi menggunakan kartu emosi. Sumber: Dokumentasi pribadi, 2026.

Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai emosi, tetapi juga diberikan ruang untuk mengungkapkan perasaan yang mereka alami. Pendekatan yang menyenangkan digunakan agar pembahasan mengenai kesehatan mental terasa lebih dekat dan mudah dipahami oleh anak.

Selain meningkatkan kreativitas, kegiatan tersebut juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengajak siswa berdiskusi mengenai cara menghadapi berbagai situasi yang memunculkan emosi tertentu. Misalnya, ketika merasa marah karena bertengkar dengan teman, sedih saat kehilangan barang kesayangan, atau takut ketika menghadapi ujian. Anak-anak kemudian diajak mencari solusi sederhana seperti bercerita kepada orang tua atau guru, menarik napas dalam-dalam, serta mengungkapkan perasaan dengan kata-kata yang baik.

Suasana pembelajaran berlangsung aktif dan penuh antusiasme. Para siswa tampak bersemangat mengikuti permainan, menjawab pertanyaan, serta berbagi pengalaman mengenai emosi yang pernah mereka rasakan. Interaksi dua arah tersebut membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan sekaligus membantu siswa memahami bahwa setiap orang dapat merasakan emosi yang berbeda-beda.

Selain menyasar anak-anak, SEHATI juga menempatkan lingkungan sekitar anak sebagai bagian penting dalam mendukung kesehatan mental dengan edukasi melalui leaflet sebagai modul mengenai pentingnya kesehatan mental anak. Orang tua dan guru memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak untuk mengenali serta menyampaikan perasaannya. Dengan demikian, kesadaran kesehatan mental tidak hanya berhenti pada pengetahuan anak, tetapi dapat berkembang menjadi dukungan dari lingkungan terdekat.

Melalui SEHATI, koordinator program, Mahdiyyah Lailatus Isti'anah menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan konsep kesehatan mental kepada anak dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, "Melalui program ini, kami ingin membantu anak memahami perasaannya sendiri sehingga mereka dapat mengekspresikan emosi dengan cara yang positif. Kami berharap anak-anak dapat memahami bahwa setiap emosi merupakan bagian alami dari kehidupan. Perasaan sedih, marah, takut, kecewa, maupun bahagia merupakan hal yang wajar untuk dirasakan," ujarnya.

SEHATI menjadi langkah sederhana untuk menumbuhkan keberanian anak dalam mengenal dirinya, memahami emosinya, dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan lingkungan di sekitarnya. Sebab, menjaga kesehatan mental dapat dimulai dari hal sederhana, yaitu berani mengenali apa yang sedang kita rasakan.