Konten dari Pengguna

Kenapa Menjadi Orang Tua Itu Sulit?

Mahdizal Khalila

Mahdizal Khalila

Nama saya Mahdizal Khalila asal Kota Padang. Saya adalah Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Andalas. Saya senang berbagi opini dalam mengupas permasalahan yang sedang terjadi. Harapan saya, opini ini dapat bermanfaat bagi orang lain

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mahdizal Khalila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: AI Generative
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: AI Generative

Jakpat mencoba menggambarkan kondisi pengasuhan anak di Indonesia melalui laporan berjudul “Parenting Trends in Indonesia”. Laporan ini berdasarkan data dari 494 responden yang merupakan orang tua, dikumpulkan pada Februari 2025. Hampir setengah dari para ayah merasa biasa saja menjalani peran sebagai orang tua. Bahkan, satu dari empat ayah menganggap peran ayah itu tergolong mudah. Sebaliknya, tiga dari lima ibu merasa kesulitan dalam menjalankan perannya. Data ini sejalan dengan pandangan KPAI yang menyebut budaya patriarki masih sangat kuat di Indonesia. Peran ayah masih dominan sebagai pencari nafkah. Kesibukan ayah dalam bekerja menguatkan narasi bahwa tugas-tugas domestik, termasuk mengasuh anak, menjadi tanggung jawab ibu. Maka, alasan pertama mengapa menjadi orang tua itu sulit di Indonesia adalah karena ketimpangan peran antara ayah dan ibu masih terjadi.

Kenapa Menjadi Orang Tua Itu Sulit? (1)
zoom-in-whitePerbesar

Alasan kedua adalah kondisi finansial. Orang tua yang tidak memiliki keuangan yang stabil akan menghadapi tantangan lebih besar. Berdasarkan data dari Indikator Politik Indonesia (IPI), setengah dari responden merasa harga kebutuhan pokok semakin mahal. Ketika menjadi orang tua, tanggungan keuangan otomatis bertambah. Kebutuhan sehari-hari anak seperti popok, susu, makanan, dan pakaian menambah beban finansial orang tua. Belum lagi biaya untuk masa depan anak seperti sekolah, kursus, atau kuliah. Orang tua yang tidak memiliki kestabilan finansial akan menghadapi lebih banyak kesulitan dalam pengasuhan anak. Temuan ini sejalan dengan laporan Jakpat yang menunjukkan bahwa 81% orang tua dan calon orang tua merasa kesiapan finansial adalah hal paling penting yang harus dipersiapkan, diikuti oleh kesiapan mental dan kemampuan mendidik anak. Selain itu, persiapan memiliki rumah juga menjadi salah satu kekhawatiran orang tua, karena rumah berkaitan erat dengan kondisi finansial.

Alasan ketiga adalah stres dan kelelahan. Jakpat menemukan bahwa satu dari empat orang tua sering mengalami stres, dan satu dari tiga orang tua sering merasa lelah. Data juga menunjukkan bahwa ayah cenderung lebih menikmati proses pengasuhan anak dibandingkan ibu. Stres dan kelelahan ini dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental orang tua. Kita bisa melihat contoh nyata dari orang tua di sekitar kita, atau yang digambarkan dalam film: mereka selalu terbangun saat anak menangis, menunda makan demi kebutuhan anak, bahkan saat sedang demam pun tetap bekerja dan mengasuh. Kesibukan ini menyebabkan tekanan dan rasa lelah yang tidak bisa dihindari.

Rasanya memang sangat berat jika kita harus menghadapi ketiga tantangan di atas sebagai manusia. Karena itu, sebagai calon orang tua, sudah sepatutnya kita mempersiapkan diri dengan lebih baik. Sebab, cinta saja tidak cukup untuk membesarkan anak.