Transactional Geoeconomics dalam Dunia yang Kehilangan Tatanan

Pengamat Geopolitik, Dubes RI untuk AS 2019, Wamenlu RI 2019-2022, Ketua OJK 2022-2026
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Mahendra Siregar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dunia belum menemukan tatanan baru setelah tatanan lama mulai kehilangan kemampuan untuk mengatur perilaku negara-negara di dalamnya.
Henry Kissinger melihat world order bukan semata sebagai persoalan siapa yang paling kuat. Tatanan yang relatif stabil membutuhkan dua hal: seperangkat aturan yang cukup diterima oleh para pemain utama, dan keseimbangan kekuatan yang mencegah satu negara mendominasi ketika aturan saja tidak lagi cukup. Sekarang, keduanya sedang bermasalah.
PBB, WTO, IMF dan NATO masih ada. Tetapi ketika kepentingan strategis besar dipertaruhkan, aturan dan institusi semakin tidak otomatis menentukan perilaku negara.
Keseimbangan kekuatan baru juga belum terbentuk. Amerika Serikat tetap menjadi kekuatan utama, sementara China sudah menjadi pesaing serius dalam industri, perdagangan dan teknologi. India membesar, Rusia tetap kuat secara militer, dan berbagai negara menengah semakin percaya diri menjalankan kepentingannya.
Jadi masalahnya bukan sekadar dunia yang semakin multipolar. Kekuatan memang semakin tersebar, tetapi belum ada keseimbangan baru yang cukup stabil untuk mengaturnya.
Amerika dan Tatanan yang Dibangunnya Sendiri
Perubahan ini tidak dimulai dengan Donald Trump. Kebangkitan China, mandeknya WTO, pandemi, perang Ukraina dan kembalinya kebijakan industri sudah lama menggerus asumsi era globalisasi sebelumnya.
Tetapi Trump mempercepatnya secara luar biasa.
Yang berubah bukan hanya tarif atau kritik terhadap lembaga multilateral, tetapi cara Amerika memandang sistem yang ikut dibangunnya. Pemerintahan sebelumnya juga keras memperjuangkan kepentingan nasional, namun aliansi dan institusi internasional tetap dilihat sebagai bagian dari kekuatan Amerika dan sumber stabilitas.
Trump jauh lebih skeptis terhadap logika itu. Sekutu harus menunjukkan kontribusinya. Mitra didorong membayar lebih untuk keamanan. Defisit perdagangan dapat dianggap sebagai bukti hubungan yang tidak adil. Tarif, akses pasar, teknologi, bahkan sebagian komitmen keamanan dapat masuk ke meja negosiasi.
Amerika belum meninggalkan NATO. Tetapi sekutunya kini harus menghitung bahwa kebijakan Washington dapat berubah lebih cepat daripada dulu. Negara yang selama ini menjadi penopang utama tatanan mulai melihat sebagian aturan dan komitmennya sebagai sesuatu yang dapat dinegosiasikan kembali.
Canada Test
Perselisihan dagang Amerika Serikat dan Kanada menunjukkan perubahan itu dengan jelas.
Kanada bukan China atau Rusia. Ia anggota NATO dan G7, tetangga AS, dan bagian dari sistem produksi Amerika Utara yang sangat terintegrasi. Namun setelah perundingan dagang gagal pada Agustus 2026, AS menaikkan tarif terhadap sejumlah impor Kanada dan Kanada menyiapkan balasan.
Justru karena hubungan keduanya dekat, kasus ini penting.
Kalau tekanan ekonomi hanya digunakan terhadap rival strategis, kita masih dapat melihatnya sebagai bagian dari persaingan kekuatan besar. Tetapi kalau instrumen yang sama digunakan terhadap salah satu sekutu terdekat, pembagian lama antara ally dan adversary mulai kurang menjelaskan hubungan ekonomi.
Kanada hampir pasti tidak akan meninggalkan Amerika. Pertanyaannya adalah apakah ketergantungan yang terlalu besar kepada satu negara masih dianggap aman, sekalipun negara tersebut adalah sekutu.
Hubungan itu juga tidak sepihak. Kanada sangat bergantung pada pasar AS, tetapi Amerika juga membutuhkan energi, mineral dan berbagai input dari Kanada. Interdependensi menciptakan kerentanan di kedua sisi, tetapi tidak berarti daya tawar yang sama.
Kekuatan yang Semakin Sulit Diukur
Teknologi mengubah arti kekuatan.
GDP, kapasitas industri, jumlah penduduk, senjata nuklir dan anggaran pertahanan tetap penting. Tetapi semuanya tidak lagi cukup.
Iran tidak perlu memiliki kekuatan konvensional yang seimbang dengan Amerika menimbulkan biaya strategis tinggi. Drone, rudal presisi dan perang asimetris dapat mengubah kalkulasi lawan. Hal serupa terlihat di Laut Merah: Houthis cukup menciptakan risiko sehingga kapal mengubah rute, premi asuransi naik dan biaya perdagangan meningkat. Kemampuan cyber bekerja dengan logika yang sama.
Yang menyebar bukan hanya kekuatan antarnegara, tetapi kemampuan menimbulkan gangguan dan biaya. Itu membuat keseimbangan kekuatan semakin sulit dihitung dengan ukuran lama.
Globalisasi dan Chokepoints
Ada ironi lain dalam globalisasi.
Selama beberapa dekade, perusahaan mencari efisiensi melalui spesialisasi dan konsentrasi produksi. Tetapi konsentrasi itu juga menciptakan titik-titik ketergantungan.
Semikonduktor tingkat lanjut, mineral kritis, komputasi AI, jaringan keuangan dan jalur pelayaran kini mempunyai nilai strategis besar. Ketika hubungan memburuk, titik ketergantungan itu dapat berubah menjadi chokepoint.
Amerika memiliki posisi kuat dalam advanced chips, software dan ekosistem AI. China kuat dalam manufaktur dan pengolahan mineral kritis. Pada AI sendiri, ketergantungan tersebar pada chips, compute, models, data dan talent. Jadi masalahnya bukan hanya siapa memiliki teknologi terbaik, tetapi siapa dapat membatasi akses pihak lain.
Di sini terlihat paradoks globalisasi: efisiensi menciptakan interdependensi, dan interdependensi dapat berubah menjadi leverage.
Interdependensi Tidak Selalu Menahan Konflik
Selama puluhan tahun, interdependensi terutama dipandang sebagai faktor yang mengurangi konflik. Kalau dua negara mempunyai perdagangan dan investasi yang sangat besar, keduanya akan menanggung kerugian besar bila hubungan memburuk.
Itu masih benar. Tetapi ketergantungan juga dapat dieksploitasi.
Pasar besar dapat digunakan untuk menekan negara lain. Teknologi dan pembiayaan dapat dibatasi. Tarif, sanksi dan pembatasan ekspor memungkinkan negara menimbulkan biaya tanpa menggunakan kekuatan militer.
Dengan kata lain, interdependensi tidak hanya meningkatkan biaya konflik. Ia juga menentukan senjata apa yang tersedia di dalam konflik itu.
Karena itu, negara mulai bertanya: di mana ketergantungan kita terlalu besar, terlalu terkonsentrasi dan terlalu sulit digantikan?
Fragmentasi dan Contagion
Namun semua ini belum tentu menghasilkan dunia yang terbagi rapi menjadi dua blok seperti Perang Dingin.
Sebuah negara dapat bergantung pada Amerika dalam keamanan, China dalam perdagangan, Timur Tengah dalam energi, Eropa dalam teknologi tertentu, dan negara-negara Teluk dalam pembiayaan.
Hubungan keamanan, perdagangan, teknologi dan keuangan tidak lagi harus berada dalam satu garis yang sama. Fragmentasi yang sedang terjadi karena itu lebih berlapis daripada bipolar.
Beberapa rantai pasok strategis akan dipisahkan dan teknologi tertentu dibatasi, tetapi perdagangan di sektor lain tetap berlangsung. Globalisasi tidak pecah menjadi dua. Ia tetap terhubung, tetapi semakin selektif.
Dalam sistem seperti ini, konflik di satu tempat juga semakin mudah memengaruhi keputusan di tempat lain. Bukan karena perang selalu menyebar secara geografis, tetapi karena yang menyebar adalah perubahan kalkulasi.
Perang Ukraina mengubah kebijakan energi dan pertahanan Eropa. Risiko Taiwan mendorong penguatan kapasitas semikonduktor. Konflik Timur Tengah mengubah kalkulasi pelayaran dan energi. Perselisihan AS-Kanada membuat sekutu Amerika mempertanyakan ketergantungan mereka sendiri.
Contagion sekarang sering terjadi melalui strategic reassessment: satu kejadian membuat negara lain melihat kembali kerentanannya sendiri, lalu mengubah investasi, rantai pasok, kebijakan industri, bahkan hubungan keamanan.
Transactional Geoeconomics
Dari rangkaian perubahan itulah transactional geoeconomics menjadi semakin terlihat.
Istilah ini bukan teori ekonomi baru. Ia lebih menggambarkan cara negara beroperasi ketika aturan masih ada tetapi tidak selalu cukup, aliansi tetap penting tetapi tidak selalu memberikan kepastian, dan ketergantungan ekonomi sekaligus menjadi sumber keuntungan serta daya tawar.
Perdagangan, investasi, teknologi, energi, akses pasar dan keamanan semakin sulit diperlakukan sebagai bidang yang terpisah. Satu isu dapat dipertukarkan dengan isu lainnya.
Pertanyaannya tidak lagi hanya: apa aturan yang berlaku?
Tetapi juga: apa yang saya miliki, apa yang Anda butuhkan, dan apa yang dapat saya peroleh dari hubungan ini?
Bargaining semacam itu bukan hal baru. Yang berbeda sekarang adalah kedalaman interdependensinya. Teknologi, keuangan dan rantai pasok menciptakan jauh lebih banyak titik ketergantungan yang dapat menjadi instrumen tawar-menawar.
Ini tidak berarti tatanan internasional berbasis aturan sudah berakhir. WTO dan NATO masih ada. Perdagangan dan investasi lintas negara tetap besar.
Tetapi keberadaan institusi tidak dengan sendirinya berarti institusi itu masih mempunyai kemampuan yang sama untuk menentukan hasil.
Tatanan lama belum runtuh, tetapi kemampuannya mengatur semakin berkurang. Tatanan baru juga belum terbentuk.
Dalam ruang yang belum tertata itulah transactional geoeconomics berkembang—bukan karena globalisasi berakhir, tetapi karena globalisasi semakin berlangsung tanpa tatanan yang cukup kuat untuk mengaturnya.
