Konten dari Pengguna

Ilusi Ekonomi di Balik Gelombang Data Center AI

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mahes Alifya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Deretan rak server di fasilitas pusat data (data center). (Foto: Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Deretan rak server di fasilitas pusat data (data center). (Foto: Unsplash)

Pemerintah belakangan ini hobi sekali memamerkan angka investasi data center. Dari Cikarang sampai Batam, setiap kali ada raksasa teknologi global yang datang mengumumkan komitmen triliunan rupiah untuk membangun fasilitas server, narasi beritanya selalu seragam: Indonesia resmi siap menjadi simpul utama kecerdasan buatan (AI) di Asia Tenggara.

Tapi kalkulasi ekonominya jauh lebih dingin dari itu.

Kalkulasi Beban Data Center AI

Data center bukan pabrik tekstil atau perakitan motor. Bangunannya bisa seluas beberapa lapangan sepak bola dan menelan modal lima triliun rupiah, tetapi begitu masa konstruksi selesai, yang bekerja di dalam fasilitas itu paling banter hanya beberapa puluh orang: teknisi jaringan, petugas pemeliharaan pendingin, dan satpam. Angka modalnya terlihat megah di rilis berita kementerian, tetapi efek riilnya ke penyerapan tenaga kerja lokal nyaris nol.

Yang benar-benar disedot dari tanah air justru infrastruktur fisik. Komputasi AI membutuhkan cip GPU yang bekerja dengan daya listrik luar biasa besar dan memuntahkan panas ekstrem. Fasilitas ini menyedot megawatt listrik tanpa henti selama 24 jam, sekaligus meminum jutaan liter air untuk sistem pendingin pipa tertutup. Di negara yang pasokan listriknya masih bertumpu pada pembangkit batu bara dan kapasitas jaringannya terbatas, kebutuhan energi raksasa ini langsung membebani infrastruktur publik kita.

Urusan perputaran uangnya lebih timpang lagi. Kita yang menyediakan lahan, menjamin pasokan listrik murah, dan menampung beban emisi panasnya. Namun nilai tambah terbesarnya—penjualan kapasitas komputasi, lisensi perangkat lunak, hingga margin laba bersihnya—tetap dicatat rapi di kantor pusat mereka di Silicon Valley atau Singapura.

Deretan rak server di fasilitas pusat data (data center). (Foto: Unsplash)

Menyediakan tanah untuk kandang server asing bukan berarti kita menguasai teknologi AI. Kalau strategi ekonomi digital kita cuma sebatas obral insentif pajak (tax holiday) dan bagi-bagi izin lahan agar pemilik modal bisa parkir komputasi, Indonesia cuma berakhir jadi penyedia gardu listrik dan penampung panas bagi industri teknologi global.