Adolescence: Ketika Media Digital Pemicu Kriminalitas

Seorang Mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP UNS.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Mahesa Gagarin S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Judul Serial : Adolescence
Direktur : Jack Thorne & Stephen Graham
Produser : Jo Johnson
Sutradara : Philip Barantani
Pemeran : Stephen Graham, Ashley Walters, Faye Marsay, Mark Stanley, Christine Tremarco, Owen Cooper, Amelie Pease, Hannah Walters, Jo Hartley, Fatima Bojang, Kanine Davis, Amari Bacchus, Erin Doherty
Tahun Rilis : 2025
Durasi : 4 jam
Maraknya kasus kriminalitas remaja di dunia nyata serta dampak buruk lingkungan digital dan pola asuh psikologis anak menjadi keprihatinan social untuk di adaptasi menjadi serial Netflix. Mengangkat fenomena siber “Incel” dan misogini banyak remaja terjebak dalam algoritma berbahaya yang menggiring mereka ke komunitas Incel (Involuntary Celibate) dengan ideologi misoginis (kebencian terhadap perempuan) dan memunculkan kekerasan terus tumbuh sehingga memicu tindakan agresif. Serial adolescence menyoroti bagaimana platform digital dapat mengubah cara komunikasi remaja yang dapat menimbulkan tindak kriminalitas yang tidak terawasi oleh orang dewasa.
Series ini menceritakan tentang tindakan kriminalitas yang dilakukan oleh anak dibawah umur diketahui dua detektif, Luke Bascombe dan Misha Frank saat mendobrak sebuah rumah yang terdiri dari 4 anggota keluarga. Sang pemilik rumah, Manda Miller, Eddie Miller dan anak sulungnya, Lisa Miller berteriak panik. Dua detektif tersebut ingin menangkap orang yang dicurigai sebagai pembunuh. Kemudian mereka masuk ke sebuah kamar anak-anak dan melihat seorang bocah laki-laki yang ketakutan setengah mati, Jamie Miller. Ternyata anak tersebut lah yang dicurigai sebagai pembunuh seorang gadis remaja teman sekolahnya. Ketegangan dimulai saat Jamie Miller dihadapkan langsung dengan seorang psikolog yang ingin mengungkapkan kebenaran dari kematian gadis remaja.
Resensi
Serial Adolescence memiliki keunikan tersendiri yang membuat film tersebut memenangkan banyak penghargaan. Dengan menggungakan Teknik one shoot yang direkam setiap episodenya dalam satu pengambilan gambar terus menerus tanpa potongan. Memiliki alur yang intens dan secara bertahap menampilkan point of view yang rapi dari keluarga, polisi, hingga psikolog. Akting memukau yang diperankan oleh Owen Cooper sebagai Jamie Miller seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang sangat emosional yang selalu merasa dirinya benar membuat alur cerita semakin menarik dan tegang saat di hadapkan dengan seorang psikolog yang mengetahui kebohongannya.
Namun, di sisi lain sebagai serial psikologis dan kriminal, serial adolescence memiliki alur cerita yang terlalu lambat dan berat yang berfokus pada perubahan karakter tokoh utama serta dampak emosional sehingga kurang pas bagi penonton yang lebih menyukai ketegangan kriminal yang lebih cepat. Hanya di tampilkan 4 episode, serial ini jadi kurang mengekplorasi akar permalahan secara mendalam sehingga dapat membuat penonton masih kebingungan untuk memahaminya. Memiliki ending yang cukup menggantung karena tidak ada resolusi akhir yang terjadi oleh tokoh utama membuat kurang puas dalam menyelesaikan sebuah cerita.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, serial ini sangat layak untuk ditonton di kalangan remaja hingga orang dewasa bagi yang menyukai genre kriminal psikologi. Mengangkat isu yang dapat terjadi di kalangan remaja karena pengaruh dunia digital dan adanya krisis maskulinitas menjadi pesan penting bagi peran orang tua untuk anaknya supaya bisa lebih terbuka dalam berkomunikasi, dan memahami pergaulan serta kesehatan mental anak di era digital. Tidak hanya orang tua, serial ini juga memiliki pesan tersembunyi bagi anak-anak remaja agar dapat menggunakan media sosial dengan bijak agar tidak mudah terpengaruh dengan isu negatif yang dapat merusak masa depannya. Menekankan pesan yang mendalam dan teknik yang unik, serial adolescence sukses meraih penghargaan begengsi internasional yang memborong 6 piala di Emmy Awards 2025 dan Golden Globes 2026.
