Konten dari Pengguna

Menyusuri Toko Buku Lawas Alun-Alun Lor, Wisata Unik Pecinta Buku di Solo

Mahesa Gagarin S

Mahesa Gagarin S

Seorang Mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP UNS.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mahesa Gagarin S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Mahesa Gagarin Sugede
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Mahesa Gagarin Sugede

Surakarta – Kawasan Alun-Alun Utara (Lor) Solo terdapat pasar buku lawas yang ramai dikunjungi oleh mahasiswa, orang tua, maupun anak kecil tiap hari dari pagi sampai sore hari. Tempat ini bukan sekedar toko buku bekas biasa yang hanya menjual buku-buku bekas, tetapi juga menjual kaset pita bekas, piringan hitam bekas, kaset video bekas, dan beberapa buku keluaran terbaru sehingga menjadi destinasi wisata bagi para pecinta buku.

Keberadaan pasar buku lawas ini, menawarkan pengalaman yang lebih seru di tengah gempuran era digital. Bagi para pengunjung, datang ke pasar buku lawas bukan hanya membeli buku saja lalu pulang, melainkan tentang experience atau pengalaman fisik yang utuh. Hal tersebut diakui langsung oleh salah satu pembeli, Adinda (19), asal Magelang yang mengatakan ada perbedaan antara berbelanja di toko buku modern atau online dengan pasar buku bekas.

"Yang beda itu lebih ke experience nya, karena kalau di pasar buku lawas kita bisa merasakan yang namanya thrift buku bekas juga, ada seni tawar-menawar buku. Terus juga kalau di pasar buku lawas, skill kita untuk teliti melihat kondisi fisik buku ikut terasah," ungkap Adinda.

Sumber Foto: Mahesa Gagarin Sugede

Saat menulusuri pasar buku bekas, Adinda menemukan deretan kaset pita jadul hingga buku-buku cetakan lama yang sudah tidak beredar lagi di toko buku modern. Salah satu yang paling menarik perhatiannya adalah buku serial komik atau buku cerita anak seperti Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) cetakan awal di bawah tahun 2015.

"Yang bikin saya masih tertarik untuk berkunjung ke toko buku lawas ya karena tempat dan vibes nya kebawa jadul begitu, tapi dalam konotasi yang baik ya. Kita bisa ngerasain experience beli buku lawas yang mungkin udah tidak ada di toko buku modern, itu termasuk daya tarik bagi saya," tambahnya.

Menurut Adinda, adanya pasar buku bekas memberikan kepuasan tersendiri yang membuatnya merasakan vibes kembali ke zaman dulu (nostalgia). Walaupun beredar tren serba digital seperti e-book yang lebih praktis untuk membaca buku, ia berharap keberadaan pasar buku bekas dapat terus bertahan dan selalu eksis.

"Di era yang sekarang serba online, tetap harus merasakan dan berkunjung ke toko buku lawas sih. Karena di toko buku lawas ada experience yang tidak akan didapatkan ketika kita beli buku secara online maupun di toko buku modern. Buat ke depannya, mungkin pasar buku lawas bisa terus diviralkan di media sosial agar anak-anak muda juga tetap mau ke sana untuk membeli buku." Ujar Adinda.

Di tengah perubahan zaman dan arus modernisasi di Kota Solo, pasar buku lawas tidak hanya sebagai tempat menampung barang bekas. Toko-toko kecil tersebut adalah penjaga literasi sekaligus destinasi wisata literasi yang unik bagi pecinta buku.