Lestarikan Tradisi Lokal, KKM UIN Malang Ikut Serta dalam Dhawuhan Warga

Mahasiswa S1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ali Mahfudz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jumat, 9 Januari 2026, mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 177 yang bernama KKM ESHORA mengikuti kegiatan tahunan warga Sukomulyo. Kegiatan ini kerap disebut sebagai “dhawuhan” .

KKM Eshora yang bertempat di Kecamatan Pujon, Desa Sukomulyo, Dusun Gumul mendapat kesempatan untuk ikut serta dalam kegiatan rutin yang dilakukan setiap awal tahun. Kegiatan bertajuk “Dhawuhan” ini merupakan acara untuk membersihkan sungai atau kali yang digunakan sebagai saluran irigasi pada Desa Sukomulyo yang mengalirkan aliran air terhadap 4 dusun, yaitu Dusun Bakir, Dusun Biyan, Dusun Gumul, dan Dusun Pujonkidul.
“Dhawuhan” ini biasa dilakukan oleh para pemilik sawah atau ladang di Desa Sukomulyo, dan anggota laki-laki KKM Eshora berkesempatan untuk ikut dalam prosesi acara ini. Kegiatan ini berlokasi di aliran air dari Sumber Pitu yang berlokasi di kaki Gunung Kawi. Dimulai pada sekitar jam7 pagi KKM Eshora bersama warga sekitar berkumpul terlebih dahulu untuk kemudian berangkat bersama menuju lokasi “Dhawuhan”.
Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 30 menit menggunakan motor dari titik kumpul diawal. Alasan kenapa hanya anggota laki-laki yang dianjurkan untuk ikut adalah karena medan yang ditempuh cukup sulit, karena jalan yang dilewati berada di tengah hutan dengan akses jalan yang mayoritas masih tanah, dan ditambah kondisi jalan yang licin dari hujan semalam. Kendaraan warga dan KKM Eshora diparkir disebelah DAM yang dipergunakan sebagai tempat pembagian aliran air yang mengairi 4 dusun. Dilanjutkan berjalan kaki kurang lebih 15 menit menuju titik lokasi “Dhawuhan” diadakan, pembersihan irigasi dilakukan dimulai sepanjang jalan dari tempat parkir motor hingga lokasi “Dhawuhan”. Pada lokasi “Dhawuhan” terdapat makam yang menjadi tempat peristirahatan terakhir dari sosok Mbah Kendilwesi dan juga Mbah Trunomenggolo yang menemukan dan membuka irigasi ini sehingga Desa Sukomulyo dapat terairi sampai sekarang.
Prosesi berdoa dimulai didepan makam Mbah Kendiwesi dengan dipimpin oleh Pak Pandri yang dapat disebut sebagai sesepuh dan kemudian diikuti warga serta KKM Eshora secara khidmat, prosesi ini dilakukan dengan tujuan sebagai bentuk terimakasih terhadap sesepuh yang telah berjasa membuka jalan irigasi, dan harapan agar Desa Sukomulyo selalu sejahtera sepanjang tahun 2026 ini. Setelah berakhirnya prosesi berdoa, warga bersama KKM Eshora menyantap makanan yang telah dibawa dari rumah yang dimana ini menjadi penutup kegiatan “Dhawuhan” ini.
Kegiatan “Dhawuhan” yang dilakukan warga Sukomulyo ini patut dilestarikan. Dengan tujuan utamanya untuk membersihkan saluran irigasi agar sawah & ladang tetap terairi sepanjang tahun, namun warga tidak melupakan jasa dari siapa yang sudah membuka jalan serta hutan sampai akhirnya desa dapat teraliri air hingga sekarang dengan berdoa bersama sebagai bentuk terimakasih. Kita dapat melihat kegiatan ini baik untuk menyatukan warga dan juga baik secara budaya agar kita tidak melupakan nenek moyang kita.
