Konten dari Pengguna

Belajar dari Banjir: Cerita KKN di Aceh Tamiang yang Mengubah Cara Pandang

mahrizaaulia

mahrizaaulia

Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari mahrizaaulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Air memang sudah surut saat kami tiba di Desa Sapta Marga, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang. Namun, jejaknya masih tertinggal di mana-mana. Baik di rumah yang kotor, di jalanan yang berlumpur, dan di wajah anak-anak yang perlahan kehilangan semangat belajar. Setiap hari kami berteman dengan sepatu pacok dan lumpur. Air yang keruh masih menggenang di beberapa sudut desa, meninggalkan bau tanah basah yang tak kunjung hilang. Di tengah kondisi itu, kami berjalan, bukan hanya membawa program, tetapi juga mencoba membawa sedikit harapan bagi mereka yang sedang berjuang bangkit.

Kami adalah mahasiswa KKN Kemanusiaan kolaborasi Universitas Samudra dan Universitas Negeri Yogyakarta. Selama satu bulan, dari 8 Januari hingga 6 Februari 2026, kami hadir di tengah masyarakat, bukan sekadar untuk menjalankan kegiatan, tetapi untuk benar-benar terlibat dalam proses pemulihan pascabencana. Salah satu upaya yang kami lakukan adalah menghadirkan “Ruang Tumbuh Bersama.” Sebuah ruang sederhana yang dipusatkan di lapangan desa, tempat anak-anak bisa kembali belajar, bermain, dan berinteraksi. Tidak ada bangunan megah, tetapi di sanalah perlahan tawa anak-anak mulai kembali terdengar. Awalnya, tidak mudah. Beberapa anak terlihat murung, enggan belajar, bahkan sulit diajak berinteraksi. Banjir tidak hanya merusak rumah mereka, tetapi juga mengganggu rutinitas dan meruntuhkan semangat yang sebelumnya mereka miliki. Di titik itu, kami sadar bahwa yang dibutuhkan bukan hanya kegiatan belajar, tetapi ruang yang membuat mereka merasa aman dan dihargai.

Melalui kegiatan belajar bersama, permainan edukatif, dan les tambahan, kami mencoba menghadirkan kembali suasana belajar yang menyenangkan. Selain itu, kegiatan TPQ juga menjadi bagian penting, di mana anak-anak belajar membaca Al-Qur’an, doa-doa harian, dan sholawat. Aktivitas-aktivitas ini bukan hanya membangun kembali kemampuan belajar mereka, tetapi juga menguatkan sisi sosial dan spiritual. Perlahan, perubahan itu mulai terlihat. Anak-anak datang lebih awal, tertawa lebih lepas, dan kembali menunjukkan rasa ingin tahu. Dari yang awalnya diam, mereka mulai aktif bertanya. Dari yang kehilangan semangat, mereka mulai menemukan kembali alasan untuk belajar. Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa pengabdian bukan hanya tentang seberapa banyak program yang dijalankan. Lebih dari itu, pengabdian adalah tentang hadir secara utuh mendengarkan, memahami, dan membersamai masyarakat dalam proses bangkit dari keterpurukan. Program “Ruang Tumbuh Bersama” mungkin hanyalah langkah kecil. Namun, di tengah kondisi pascabencana, ruang seperti ini menjadi sangat berarti. Ia bukan hanya menghadirkan pembelajaran, tetapi juga memulihkan harapan.

Apa yang kami lakukan juga menjadi bagian dari upaya mendukung pendidikan yang berkualitas dan inklusif. Namun di balik itu semua, ada pelajaran yang jauh lebih besar, bahwa pendidikan tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas, dan bahwa semangat belajar bisa tumbuh kembali, bahkan dari tempat yang pernah dilanda bencana. KKN ini mengajarkan saya satu hal penting: di tengah keterbatasan, harapan selalu punya cara untuk tumbuh

Kegiatan Ruang Tumbuh Bersama

selama ada yang mau merawatnya.