Perempuan Memilih Merdeka Atau Mati?

Sastra Indonesia Universitas Pamulang
Tulisan dari Fitnatil Mahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kata kemerdekaan memiliki arti yang berbeda bagi setiap perempuan di negara ini. Kemerdekaan secara luas diartikan sebagai kemerdekaan dari berpikir, berbicara dan bertindak. Kemerdekaan adalah ketika perempuan dapat menentukan pilihannya sendiri, melawan, melepaskan diri dari berbagai bentuk kekerasan, meninggalkan rumah dan berpartisipasi dalam pembangunan. Bung Hatta berkata "Kemerdekaan kita bukan hanya kebebasan negara dari penjajahan, tetapi juga kebebasan dari segala bentuk represi dan eksploitasi."
Bangsa Indonesia tujuh puluh tujuh tahun setelah kemerdekaan, apakah Indonesia memberi perempuan hak untuk hidup? Hak keadilan, hak kehormatan, dan hak politik. Nilai-nilai sosial yang ditanamkan dalam kehidupan masyarakat telah menimbulkan banyak perdebatan yang menyulitkan perempuan untuk bebas. Dari sudut pandang saya, ada tiga hal yang menunjukkan bahwa perempuan Indonesia belum sepenuhnya mandiri. Pertama, perempuan Indonesia belum mandiri dari tubuhnya. Bahkan saat ini, kita dapat mengamati bahwa tubuh perempuan masih menjadi sasaran eksploitasi dan kekerasan.
Hal ini terlihat jelas dengan meningkatnya jumlah kasus pelecehan dan pemerkosaan sosial, serta pandangan negatif yang kuat tentang tubuh perempuan dan kekerasan dalam rumah tangga. Kasus kekerasan seksual menunjukkan masih kuatnya keyakinan bahwa tubuh perempuan hanyalah alat untuk memuaskan dominasi laki-laki. Perspektif ini erat kaitannya dengan budaya patriarki. Belum lagi stereotip yang dikonstruksi masyarakat yang merugikan perempuan.
Kasus kekerasan dan pelecehan seksual selalu dikaitkan dengan stereotip tersebut, misalnya karena ada label yang diawali dengan anggapan bahwa perempuan berdandan untuk menarik perhatian lawan jenis. Memiliki berpandangan bahwa itu adalah untuk melayani suaminya.
Kedua, perempuan Indonesia masih belum memiliki kebebasan untuk mewujudkan dirinya sebagai perempuan yang setara dengan laki-laki. Perempuan terus didiskriminasi dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk masalah ekonomi, politik, sosial dan budaya. Banyak pengusaha wanita yang sudah sukses dalam bisnis. Namun, perempuan Indonesia masih merasa sulit untuk berpartisipasi dalam masalah perburuhan dan setara dengan laki-laki dalam kehidupan sehari-hari. Banyak wanita harus bekerja keras dan berjam-jam untuk mengurus pekerjaan rumah tangga dan pembantu rumah tangga. Dalam keluarga miskin, perempuan sendiri menanggung beban yang sangat berat ini.
Bahkan di aspek politik, partisipasi perempuan masih sangat rendah. Perempuan yang memasuki arena politik adalah minoritas dalam politik dan tidak mampu mengartikulasikan kepentingan dan aspirasi kelompoknya sendiri. Dalam sejarah politik Indonesia ini, jumlah perempuan di lembaga politik formal telah mencapai angka strategis yang memungkinkan suara perempuan didengar, bahkan dirasakan, dalam proses pengambilan keputusan dan kebijakan politik.
Dalam aspek sosial budaya, langkah perempuan meninggalkan rumah masih dipandang negatif, terutama ketika perempuan keluar rumah pada malam hari. Perempuan sangat kurang terwakili dalam lingkungan sosial seperti pertemuan komunitas.
Ketiga, perempuan Indonesia masih belum bebas mengembangkan potensi kemanusiaannya. mengapa demikian? Karena terlalu banyak kendala untuk memastikan perempuan mendapat kecukupan gizi, kesehatan, pendidikan bahkan kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. Persoalannya, struktur politik dan ekonomi perempuan membuat mereka sulit memperoleh pendidikan dan kesehatan.
Di mana lagi Perempuan harus mulai? Jika bukan hari ini? Kapan lagi? Hey!!! ayah, kakek, suami, saudara, dan para laki-laki. Anda sembilan bulan di dalam rahim kami dan ketika kami akan melahirkan, kami harus mempertaruhkan hidup kami. Itu adalah pilihan taruhan kami ketika kami membawa Anda ke dunia ini.
Hal seperti itulah yang membuat partisipasi perempuan berjalan dengan lamban. Padahal, emansipasi perempuan juga dibutuhkan dan tidak terpisah dengan emansipasi seluruh rakyatnya. Bangsa yang telah mencapai keadilan sosial ketika bangsa tersebut memberikan kesetaraan gender terhadap rakyatnya.
