Konten dari Pengguna

Dari Konflik Menuju Damai: Belajar dari Perjalanan Hasan Tiro

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mahyana Abdullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membaca buku Hasan Tiro: Jalan Panjang Menuju Damai Aceh karya Murizal Hamzah membawa saya pada pemahaman bahwa sejarah Aceh merupakan perjalanan yang panjang dan tidak sederhana.

Buku ini tidak hanya memperkenalkan sosok Hasan Tiro sebagai seorang tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan konflik Aceh, tetapi juga menggambarkan bagaimana gagasan, perjuangan, konflik, dan proses perdamaian saling berkaitan dalam perjalanan sejarah Aceh.

Dari buku ini saya belajar bahwa untuk memahami sebuah konflik, kita tidak cukup melihat siapa yang berada di pihak tertentu, tetapi juga perlu memahami latar belakang sejarah, kondisi sosial-politik, serta pengalaman masyarakat yang hidup di dalamnya.

( Foto Sampul Depan Buku Hasan Tiro Jalan Panjang Menuju Damai Aceh, Courtesy : Penulis )

Sosok Hasan Tiro dalam buku ini memberikan gambaran mengenai bagaimana sebuah gagasan dapat berkembang menjadi sebuah gerakan yang memiliki pengaruh luas. Pemikirannya mengenai Aceh, identitas, sejarah, dan masa depan masyarakat Aceh tidak berhenti sebagai gagasan pribadi, tetapi kemudian menjadi bagian dari perjalanan politik dan konflik yang panjang. Hal tersebut membuat saya menyadari bahwa seorang tokoh tidak hanya dapat dikenang melalui tindakan yang dilakukannya, tetapi juga melalui gagasan yang diwariskan dan pengaruhnya terhadap orang-orang yang mengikuti atau menentang pemikirannya. Dalam sejarah, sebuah gagasan dapat menjadi kekuatan yang sangat besar ketika mampu menyentuh perasaan, identitas, dan pengalaman suatu masyarakat.

Namun, untuk memahami konflik Aceh, saya merasa penting untuk tidak hanya melihatnya dari sudut pandang para tokoh atau kelompok yang terlibat secara langsung dalam konflik. Ada masyarakat biasa yang harus menjalani kehidupan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian. Bagi masyarakat Aceh pada masa itu, konflik bukan sekadar persoalan politik yang dibicarakan oleh para elite atau kelompok bersenjata. Konflik hadir dalam kehidupan sehari-hari, dalam perjalanan menuju tempat kerja, ketika anak-anak pergi ke sekolah, ketika anggota keluarga bepergian ke daerah lain, bahkan ketika masyarakat hanya ingin menjalani kehidupan secara normal.

Aceh pada masa konflik merupakan ruang yang dipenuhi rasa waspada dan ketidakpastian. Situasi keamanan yang tidak stabil membuat masyarakat harus berhati-hati dalam menjalankan berbagai aktivitas. Pemeriksaan, operasi keamanan, keberadaan kelompok bersenjata, serta berbagai bentuk kekerasan menjadi bagian dari realitas yang harus dihadapi sebagian masyarakat. Dalam keadaan seperti itu, rasa aman menjadi sesuatu yang sangat berharga. Masyarakat tidak selalu tahu apa yang akan terjadi pada hari berikutnya, dan ketidakpastian tersebut secara perlahan memengaruhi kehidupan sosial maupun psikologis mereka.

Dampak konflik juga tidak berhenti pada persoalan keamanan. Bagi sebagaian anak-anak kelahiran tahun 90-an, menjalani hari demi hari di Aceh seperti hidupa dalam ketidakpastiaan dalam belajar, dalam banyak hal, dilingkungan dirumah, sekolah, bahkan saat bermain. Hari har berlalu dengan suara rentetan senjata yang saling membalas, bahkan kehilangn orang tua, keluarga dan tetangga dekat menjadi makan hari-hari. Banyak keluarga harus menghadapi kehilangan, perpisahan, terganggunya pendidikan, kesulitan ekonomi, perpindahan tempat tinggal, serta berbagai pengalaman yang meninggalkan luka mendalam. Anak-anak yang tumbuh dalam suasana konflik juga memiliki pengalaman masa kecil yang berbeda dengan generasi yang tumbuh dalam keadaan damai. Bagi mereka, suara tembakan, pemeriksaan, kabar tentang orang yang hilang, atau kekhawatiran terhadap keselamatan keluarga dapat menjadi bagian dari ingatan yang terbawa hingga dewasa. Dari sini saya memahami bahwa dampak sebuah konflik tidak selalu dapat dilihat secara langsung karena sebagian luka justru tersimpan dalam ingatan manusia.

Meskipun demikian, masyarakat Aceh tidak berhenti menjalani kehidupan. Di tengah keadaan yang sulit, masyarakat tetap bekerja, berdagang, bersekolah, mengurus keluarga, menjalankan ibadah, dan mempertahankan hubungan sosial. Kehidupan terus berjalan meskipun berada dalam bayang-bayang konflik. Bagi saya, hal tersebut memperlihatkan sisi lain dari masyarakat yang sering kali tidak terlihat dalam narasi konflik, yaitu kemampuan manusia untuk bertahan dan mempertahankan kehidupan dalam keadaan yang sangat sulit. Masyarakat bukan hanya korban dari sejarah, tetapi juga mereka yang mengalami, menyaksikan, dan melewati sejarah tersebut.

Perjalanan konflik yang panjang juga menunjukkan bahwa kekerasan tidak mudah dihentikan. Ketika konflik berlangsung bertahun-tahun, rasa tidak percaya dan luka antara pihak-pihak yang berhadapan akan semakin dalam. Karena itu, perdamaian tidak dapat dicapai hanya dengan memenangkan satu pihak atas pihak lainnya. Perdamaian membutuhkan proses yang panjang, dialog, perubahan cara pandang, serta keberanian untuk membuka kembali ruang komunikasi. Dari perjalanan Aceh menuju perdamaian, saya belajar bahwa terkadang keberanian terbesar bukanlah keberanian untuk terus berjuang, tetapi keberanian untuk menghentikan kekerasan dan memilih jalan dialog.

Perdamaian juga mengajarkan bahwa pihak-pihak yang sebelumnya berseberangan tidak harus menjadi sama untuk dapat hidup berdampingan. Perbedaan pandangan dan pengalaman mungkin tetap ada, tetapi perbedaan tersebut dapat dikelola tanpa harus menggunakan kekerasan. Dengan demikian, perdamaian bukan berarti semua persoalan masa lalu tiba-tiba hilang. Perdamaian lebih tepat dipahami sebagai kesempatan bagi masyarakat untuk membangun kehidupan baru setelah melewati masa yang panjang dan penuh luka.

(Foto di Halaman Memorial Living Park Kab. Pidie, Prov Aceh. Yang disebut dengan ‘Rumoh Geudong’ yang merupakan menjadi saksi tragedi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat pada masa Konflik bersenjata, yang kemudian di resmikan menjadi Memorial Living Park pada 10 Juli 2025, Courtesy; Penulis)

Hal yang paling menyentuh bagi saya dari perjalanan tersebut adalah kenyataan bahwa di balik istilah-istilah besar seperti politik, gerakan, ideologi, perjuangan, dan konflik, terdapat manusia-manusia biasa yang harus menanggung akibatnya. Ada orang tua yang kehilangan anak, anak yang kehilangan orang tua, keluarga yang terpisah, masyarakat yang kehilangan rasa aman, serta generasi yang tumbuh dengan pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Karena itu, ketika membaca sejarah konflik, saya merasa kita tidak seharusnya hanya bertanya siapa yang menang dan siapa yang kalah. Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa banyak kehidupan yang berubah dan berapa banyak luka yang harus ditanggung oleh masyarakat.

Buku ini juga membuat saya memahami bahwa sejarah harus dibaca secara kritis. Setiap tokoh memiliki perspektif, setiap kelompok memiliki pengalaman, dan setiap masyarakat memiliki cara sendiri dalam mengingat masa lalu. Karena itu, tidak cukup hanya menerima satu sudut pandang sebagai satu-satunya kebenaran. Membaca sejarah berarti berusaha memahami berbagai sisi, membandingkan sumber, dan mencoba melihat manusia di balik peristiwa sejarah tersebut. Dengan cara itu, sejarah tidak hanya menjadi kumpulan tanggal dan peristiwa, tetapi menjadi pelajaran mengenai manusia dan pilihan-pilihan yang mereka ambil.

Pada akhirnya, Hasan Tiro: Jalan Panjang Menuju Damai Aceh bagi saya bukan hanya cerita mengenai seorang tokoh atau perjalanan sebuah gerakan. Buku ini juga merupakan gambaran tentang sebuah masyarakat yang melewati masa konflik yang panjang dan kemudian menemukan jalan menuju perdamaian. Dari perjalanan tersebut saya belajar bahwa perdamaian memiliki nilai yang sangat besar karena hanya dapat benar-benar dipahami oleh mereka yang pernah kehilangan rasa aman. Perdamaian memungkinkan masyarakat kembali membangun kehidupan, memulihkan hubungan, dan memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya untuk tumbuh tanpa harus mengalami penderitaan yang sama.

Pelajaran terbesar yang saya dapatkan dari buku ini adalah bahwa konflik mungkin meninggalkan luka yang panjang, tetapi manusia tetap memiliki kemampuan untuk memilih masa depan yang berbeda. Sejarah tidak dapat dihapus, tetapi cara kita memandang dan mengambil pelajaran dari sejarah dapat menentukan bagaimana kita menjalani masa depan. Karena itu, mengingat masa lalu bukan berarti hidup di dalam konflik, melainkan belajar darinya agar kekerasan yang sama tidak perlu terulang kembali. Jalan menuju damai memang panjang, tetapi ketika perdamaian akhirnya tercapai, kita menyadari bahwa tidak ada kemenangan yang lebih berarti daripada ketika masyarakat kembali dapat hidup dengan rasa aman, keluarga dapat berkumpul, dan generasi berikutnya memiliki kesempatan untuk mengenal Aceh bukan hanya melalui cerita tentang konflik, tetapi juga melalui cerita tentang kedamaian.

(Foto : seorang Petani yang akan pergi ke sawah pasca 21 tahun Damai Aceh, Desa Atong, Montasik, Aceh Besar, Courtesy; Penulis)

Penulis:

Mahyana Abdullah

Mahasiswa Pascasarjana Pariwisata UPI

Berdomisili di Banda Aceh

24 Agustus 2026