Rawa Singkil dan Pulau Bengkaru Sebagai Benteng Kehidupan
Tulisan dari Mahyana Abdullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Matahari siang ini cerah bersinar, pukul 12 siang tepat, saya akan menjemput tamu-tamu yang akan ikut dengan saya menuju kabupaten Singkil. Sebanyak 22 orang tamu sudah berkumpul di rumah makan diseputaran kota Medan, Semua tamu tampak ceria dan tidak sabar melakukan perjalanan ini. Perjalanan menuju Kabupaten Singkil memakan waktu lebih kurang 6-8 jam perjalanan menggunakan transportasi darat dari kota Medan, dan kemudian dilanjutkan dengan tarnsportasi laut menuju Pulau Banyak yang juga terletak di kabupaten Singkil. Melewati jalur Brastagi, Sibolangit dan Singgah untuk sejenak melepas Lelah di Kabupaten Subussalam, kami juga sempat menikmati durian yang dijual oleh pemilik kebun dengan pemandangan air terjun yang langsung berseblahan dengan jalan raya Sibolangit - Subusslam.
Singkil adalah sebuah kabupaten yang berada di teggara wilayah Provinsi Aceh.
Kabupaten Singkil merupakan pemekaran dari kabupaten Aceh Selatan dan Sebagian wilayah Singkil berada dikawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Kabupaten ini berada di dua wilayah daratan dan kepulauan yaitu; Aceh Singkil dan Kepulauan Banyak dengan jumlah penduduk sebanyak 138.792 jiwa. Singkil memiliki wilayah Rawa yang luas yang merupakan wilayah konservasi. Setibanya dikabupaten Singkil kami memilih untuk bermalam dikabupaten Singkil malam ini, tidak banyak aktivitas yang kami lakukan setelah makan malam, hanya bercengrama dan ngobrol-ngobrol santai dengan Mefri, guide local kami di Singkil terkait aktivitas yang akan kami lakukan esok hari.
Suaka Margasatwa (SM) Rawa Singkil
Mefri telah mengurus rencana perjalanan kami hari ini, termasuk perjalanan kami menuju rawa Singkil, izin dari BKSDA setempat serta
kapal berukuran 4-5 orang telah siap dan menunggu kami dipintu masuk sungai “lae Trup”. Kami pun mendapat pengawalan khusus serta Ranger dalam perjalanan melewati rawa Singkil ini. Rawa Singkil adalah Kawasan Konservasi yang merupakan bagian dari Taman Nasional Leuser dengan luas 82.188 hektar. Kawasan Rawa Singkil khususnya Suaka Margasatwa (SM) Rawa Singkil merupakan area gambut yang luas dan menjadi habitat penting bagi banyak spesies, termasuk didalamnya orangutan sumatera. Kawasan ini membentang ditiga kapaten /kota; Aceh Selatan, Subussalam, dan Aceh Singkil. Mengagumkan! Ini kata yang mewakili seluruh perasaan takjub saya. Jantung saya berdegup lebih kencang, namun sebisa mungkin saya bersikap tenang, ini merupakan pengalaman pertama kalinya saya dan tamu lainnya mengarungi Rawa Singkil. Saya mendengar suara burung-burung bersiul saling bersahutan di ujung ranting pohon-pohon besar sambil memamerkan sayap-sayap mereka yang indah, mereka terbang riang seperti menyambut kedatangan kami.
Rawa Singkil diumpamakan seperti ‘Spon’, ia meyerap air dan bisa menyimpannya, begitu ucap petugas BKSDA sambil melewati jalur-jalur air. Namun lebih dari pada itu Rawa Singkil juga berfungsi sebagai Saringan, Ketika musim hujan turun, air melimpah, lahan gambut akan menyerap dan menyimpannya, dan saat musim kemarau tiba air yang tersimpan tadi akan dilepaskan Kembali melalui anak-anak sungai terdekat sambungnya. Dikutip melalui laman PPid-acehsingkilkab.go.id, Kawasan rawa yang dalam keputusan Menteri Kehutanan nomor 166/KPTS-II/1998 memiliki luas 102.500 hektare, namun pada tahun 2015, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam surat keputusan nomor 103/MenLHK II/2015 luasnya menjadi 81.338 hentare.
Kapal kecil kami berlabuh disebuah post, Matahari siang bersinar tanpa sungkan, namun bayang pohon-pohon besar memberi kami aroma sejuk. Mata saya asik memperhatikan orangutan yang bergelantungan dipohon-pohon besar, saya juga menanyakan keberadaan buaya dikawasan ini, namun demikian petugas menjelaskan dikawasan ini tidak terlalu banyak. Suaka Marga Satwa merupakan Rawa Gambut yang menjadi ‘Rumah’ bagi sejumlah satwa langka yang dilindungi, diantaranya orangutan sumatera, burung rangkong. Berdasrkan data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA ) Aceh tercatat ada 157 jenis buung, 20 jenis mamalia, 17 jenis biota air dan 15 jenis herpetofauna, dengan 134 jenis tumbuhan bawah, 130 jenis tumbuhan berkayu dan 40 jenis tumbuhan air dengan ekosistem hutan rawa gambut, air tawar, hutan mangrove rivarian menjadi penompang utama seluruh kehidupan wilayah ini. Hari mulai sore, kapal-kapal kecil kami mulai melewati pintu keluar, kami melihat para nelayan yang mengambil bubu (perangkap ikan) lele sebagai mata pencariaan mereka. Wajah ramah menyapa kami dengan senyuman, dan kami membalas dengan lambaian tangan kearah mereka. Lambat laut kapal kami mendarat kepinggir Pelabuhan sederhana menutup perjalan di rawa Singkil.
Hari ketiga kami dikabupaten Singkil, ferry membawa kami dari kota kabupaten Singkil menuju pulau Balai, sebuah pulau kecil yang menjadi transit kami menuju Pulau Bengkaru. Perjalanan Singkil menuju Pulau Balai memakan waktu hampir 6 jam, melewati gugusan pulau, konon sebelum Tsunami menghantam Aceh Singkil gugusan pulau-pulau ini berjumlah 99 pulau, namun kini yang tersisia adalah 68 pulau. Kami melewati jalur-jalur yang sudah menjadi garisnya, dapat kami lihat dari atas kapal pemandangan yang indah seperti kepingan surga. Ferry mendarat dengan mulus dipelabuhan Pulau Balai, pulau Balai dengan luas sekitar 94,81ha dan berada diantara 7 pulau lainnya yaitu pulau Ujung Batu, Pulau Tapus-tapus, Pulau Baguk, Pulau Panjang, Pulau Rangit Besar, Pulau Rangit Kecil, dan Pulau Malelo. Pulau Balai berada diperairan Samudera Hindia. Kami turun dan langsung diserbu oleh becak warga setempat yang menawari kami untuk diantar kepenginapan yang ada di pulau Balai, desa ini dikenal dengan desa Balai. Di desa Balai ini banyak di jumpai penginapn atau homestay milik warga, karakter masyrakat yang ramah dengan wajah penuh senyuman menyapa kami setibanya kami dipelabuhan, sayangnya kami tidak bermalam disini sebentar lagi kami akan dijemput oleh boat local dan akan menuju Pulau Bengkaru izin untuk mengunjungi pulau Bengkaru sudah diurus oleh Mefri.
Pulau Bengkaru
Dua jam perjalanan laut menggunakan spead boat cukup menguras energi, namun saya disungguhi oleh pemandangan yang begitu indah, Bengkaru adalah pulau Konsevasi Penyu yang masuk dalam Taman Wisata Alam laut (TWA /L ) Kepulauan Banyak, berdasarkan keputusan Menteri KLHK nomor: Sk.5347/Menhut-VII/KUH/2014, dengan luas wilayah konservasi 205.720.24 ha , dibawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA ) Aceh. Tidak ada Sinyal! Begitu boat kami berlabuh di Pelabuhan sederhana pulau Bengkaru. Tidak ada lalu Lalang kapal diseputaran Pulau Bengkaru, sebuah post patrol ditengah Bengkaru dibuat untuk mengontrol aktivitas di sekitar perairan dan melihat penyu-penyu yang naik kedaratan pada malam hari. Bengkaru dengan luas 15 hektar ini tidak berpenghuni, penghuninya adalah tim konservasi dan BKSDA aceh, satu-satunya cara untuk masuk kepulau ini adalah dengan menerima izin khusus dari BKSDA.
Malam ini kami akan berkemah dibibir pantai, kami akan melihat berapa banyak penyu-penyu yang akan naik kedaratan untuk bertelur. Seusai makan malam, kami berkemas dengan jaket tebal dan kaki tanpa alas, tim Konservasi dan guide menyampaikan hal-hal yang harus diikuti, “kalau jalan kaki jangan terlalu diinjak kepasir, karena dikhawatirkan ada tukik yang terjebak di dalam bekas tapak kaki” ucap mefri. Malam semakin gelap, angin pantai berhembus pelan, sesekali tim patrol menghidupkan lampu senter, pukul sepuluh lebih tiga puluh menit, Ketika saya mendengar suara pasir seperti berbisik, ada yang berjalan, pelan sekali. nyaris tidak terdengar, satu induk penyu hijau berjalan meraih bibir pantai dan membuat lubang namun tidak bertelur, sejenak kemudian menutup kembali tanpa isi, “sarang palsu” ucap mefri. Penyu itu kemudian berjalan kembali kearah dekat dengan semak-semak, mulai menggali lubang lagi dan bertelur. Menakjubkan rasanya menyaksikan penyu-penyu ini bertelur. Kami menyaksikan setidaknya ada 20 induk penyu yang naik ke pasir dan bertelur, beberapa diantaranya membuat sarang palsu, untuk menutupi sarang yang penuh telur. Sekilas penyu-penyu ini terlihat sama, namun akhirnya saya melihat tiap penyu perbedaan dengan keunikan masing-masing, diantara penyu yang bertelur, selain penyu hijau, juga ada penyu belimbing dan penyu sisik.
Matahari pagi menyapu cahanya nya di pasir pantai Amandangan sinar matahari masuk lewat celah-celah batu besar dan cadas yang ada dibibir pantai, pemandangan ini membuat saya enggan meninggalkan Bengkaru. Namun ini saatnya kami meninggalkan bengkaru. Spead boat kami melaju meningglkan Bengkaru, dan berlabuh didermaga sederhana pulau Panjang. Saya kehabisan kata menjelaskan ke-elokkan negeri ini, begitu pula kecantikan tiap tiap gugusan pulau di Singkil, termasuk juga pulau Panjang, kami akan bermalam dan berenang sepuasnya disini sampai pada akhirnya kami Kembali kekota Medan.
Banyak yang menjadi pelajaran besar bagi saya, bahwa Marga Satwa Rawa Singkil dan Konservasi Penyu di Bengkaru Mempunyai fungsi tersendiri bagi Singkil, Aceh dan keberlanjutan ekosistem di alam. Singkil pernah dihantam gelombang Tsunami pada tahun 2004, menyadarkan masyarakat sekitar betapa besar fungsi rawa Singkil sebagai penahan alami Gelombang Tsunami, hutan mangrove, rawa dan pohon-pohon besar memiliki akar yang kuat yang dapat menyerap sebagaian energi gelombang mengurangi dampak tsunami pada daerah pesisir belakanynya. Begitu pula dengan Bengkaru yang merupakan kawasan Konservasi penyu. Masyrakat sadar memburu penyu hanya akan menghacurkan ekosistem laut yang artinya menghancurkan mata pencahariaan mereka lebih dari itu bahawa tiap penyu memiliki fungsi masing-masing dalam menjaga biota dan ekosistem. Penyu hijau membantu menjaga Kesehatan padang lamun dengan merumput, penyu belimbing berperan sebagai pemangsa puncak ubur-ubur sehingga populasi ubur-ubur terkendali dan mendukung populasi ikan, sedang penyu sisik memakan spons yang bersing dengan terumbu karang sehingga memberi kesempatan terumbu karang untuk tumbuh. Pemahan ini yang diturunkan oleh warga setempat secara turun-temurun, menjaga kelestarian rawa Singkil dan konservasi Penyu adalah investeasi besar dalam keberlanjutan kehidupan dibumi.
Mahyana Abdullah
Mahasiswa Pascasarca Pariwisata
Universitas Pendidikan Indonesia
UPI-Bandung
Singkil, November 2024

