Seni Bertutur 'Nandong' Selamatkan Warga Seumelu Saat Tsunami 2004
Tulisan dari Mahyana Abdullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hembusan angin memainkan anak rambut saya. Sudah lebih dari dua belas jam saya berada di kapal Perintis sejak keberangkatan saya dari Pelabuhan Calang Aceh Jaya, 160km dari kota Banda Aceh. Kapal ini akan mengantarkan saya menuju pulau Simeulu. Pulau yang berada di provinsi Aceh ini berjarak kurang lebih 333km dari lepas pantai barat Aceh Meulaboh. Sebuah pulau yang dikenal di kancah internasional dengan pesona ombak untuk berselancar. Sejauh mata memandang saya hanya melihat lautan luas yang tampak seperti permadani bergelombang. Lautan ini adalah Samudera Hindia dan Selat Malaka. Siapa sangka laut yang begitu tenang ini pernah mengamuk dua puluh satu tahun lalu? Simeulue menjadi salah satu kawasan yang diterjang gelombang tsunami pada 2004. Tsunami dalam bahasa lokal masyarakat Simeulue disebut smong- yang berasal dari Bahasa suku devayan yang ada di Simeulue. Ada banyak suku di pulau ini.
Kapal Perintis bersandar perlahan ke dermaga. Kapal ini transportasi yang menghubungkan antar pulau di Kawasan perairan ini. Pagi ini terasa lebih syahdu, matahari bersinar malu-malu di balik awan. Gerimis membasahi dermaga. Dari kejauhan terlihat orang-orang mulai ramai berkumpul di dekat dermaga. Mereka mungkin menjemput keluarga atau beberapa turis asing yang menjadi tamu. Tujuh belas jam perjalanan yang saya lalui untuk sampai ke dermaga ini. Badan terasa penat dan Lelah.
Semakin dekat ke dermaga, wajah-wajah khas berkulit sawo matang, mata sipit dan berambut lurus dengan senyum ramah menjadi ciri khas penduduk Simeulue. Simeulu dihuni bermacam suku, Suku Simeulu, suku Sigulai, suku Lekon, dan Suku Aceh.dengan ibukota kota Sinabang yang merupakan ibukota kabupaten Simeulue. Orang-orang setempat menyebutnya dengan lidah mereka ‘Si Navang’. Kata yang berasal dari legenda Navang. Lambat laun konsonan ‘v’ berubah menjadi Nabang. Sementara Sibigo ibukota kecamatan Simeulu barat berasal dari kata atau kalimat cv dan co karena pada masa penjajahan dulu, Sibigo adalah lokasi perusahaan pengelohan kayu rasak, setara dengan jati yang dikirim ke Belanda via laut.
Pada masa kerajaan Aceh, Simeulu dikenal dengan pulau U (pulau kelapa). Alkisah adalah seorang ulama Bernama Tengku Khalilullah. Dia dikenal juga sebagai Tengku Di Ujung. Sultan Iskandar Muda (1607-1636) mengirimkanya untuk menyebarkan ajaran Islam ke Simeulue dan mengganti nama pulau U menjadi Pulau Simeulu yang diambil dari nama istri Tengku Khalilullah, Putri Si Meulur.
Pada Abad Ke-17 Sultan Mahmudsyah II (1767-1787), membawa delapan batu ke Simeulu. Situs batu ini dikenal rakyat Simeulu dengan sandi salapan. Batu ini berarti pilar masjid pertama yang dibangun di desa Salur. Masjid tersebut terdampak tsunami tahun 1907 dan 2004. Salah satu batu hilang ketika tsunami 1907 yang menghancurkan masjid.
Pukul 10;00 pagi, saya meninggalkan Pelabuhan yang mulai padat. Jarak Pelabuhan ditempuh dengan waktu tempuh 10 menit, dengan jalan berbukit saya tiba di pusat kota dengan jalanan ramai. Meski agak canggung dan segalanya terasa agak asing, saya memberanikan diri untuk masuk ke kedai kopi yang pengunjungnya hampir semua laki-lsaki. Saya memilih duduk di dekat jendela sembari menunggu tour guide yang akan menjadi pemandu saya selama di Seumeulu. Selama duduk di warung kopi, saya mendengar orang-orang bicara dalam bahasa yang tidak sama dengan kebanyakan bahasa di kawasan Aceh pesisir.
Di Simeuelue, selain bahasa Devayan, penduduk di pulau ini juga menggunakan bahasa Leukon khususnya di daerah Langi dan Lafakha yang berada di Alafan (Daerah ini berapa jaraknya dari pusat kota Sinabang, tapi ada yang menggunakan bahasa Sigulai, di Simeulu Barat. Bahasa pengantar menggunakan Bahasa jamu atau jamee (tamu) yang dibawa oleh perantau niaga dari Minangkabau dan Mandailing.
Hari kedua saya berada di Matanurung sebuah desa dikota Sinabang saya berencana untuk berkeliling beberapa pulau di Simeulu. Hari masih pagi, masih pukul tujuh bagian barat, saya akan mengunjugi satu pulau kecil bagian Siemeulue yang tidak kalah indah dari deret pulau lainnya, ‘Siumat’ dalam perjalanan menggunakan boat dengan jarak tempuh hampr dua jam. Saya akan menjumpai seorang kakek yang berprofesi sebagai nelayan, namun sangat mahir memainkan alat musik gendang diiringi syair-syair dalam bahasa devayan. Masyarakat Simeulue menyebut dengan nandong, seni nyanyi tutur diiringi gendang tertabuh atau lazim menggunakan biola. Seni nandong sering ditampilkan pada acara acara tertentu dan istimewa juga dalam peringatan tsunami/smong.
“Nandong ini lah yang menjadi peringatan kami ketika tsunami atau smong kembali terjadi” ucap guide saya.
Bencana alam tsunami menyebabkan 200.000 jiwa warga Aceh meninggal dan hilang. Di luar Indonesia tidak kurang dari 125.000 jiwa melayang dalam hitungan menit, Tsunami Simeulue pada tahun 2004 telah menghancurkan 12 negara.
Smong atau kejadian tsunami tahun 1907 ditulis di buku Martinusnijhof, S-Gravenhage tahun 1916. Saat itu Simeulue berada di bawah kekuasaan Belanda. Masyarakat Simeulu mewaspadai smong melalui lisan dari generasi ke generasi melalui seni nandong. Smong adalah bentuk pemahaman budaya yang telah mengalamai proses pengendapan berpuluh-puluh tahun dalam memori kolektif masyarakat Simeulu. Smong adalah sandi yang dipahami bersama oleh seluruh penduduk Simeulu untuk melukiskan ombak raksasa
setelah gempa besar. Masyarakat Simeulue menyadari bahwa kekuatan smong menjadi peringatan dini yang tertanam dalam
budaya meraka dengan mengambil alih fungsi teknologi pada masa itu (Smong Purba, Jejak Gempa dan Tsunami Aceh, Teuku Dedek dkk. Hlm.27).
Warga Simeulue sudah tahu cara menghadapi kejaran tsunami ketika daerahnya dientak gempa yang disusul smong berdasarkan pada peristiwa smong tahun 1907. Ketika itu, tsunami menghancurkan Simeulu sekitar 20 menit. Kala itu, episentrum gempa berada di perairan Calang, Aceh Jaya. Berbekal kearifan lokal itulah warga Simeulue memiliki pengetahuan mengenai gempa dan yang berpotensi tsunami, sehingga Ketika smong pada tahun 2004, penduduk Simeulu yang meninggal dunia hanya tiga jiwa dari 70.000 warga Simeulu (Smong Purba, Jejak Gempa dan Tsunami Aceh, Teuku Dedek dkk. Hlm.3).
Menutup hari yang memberi pelajaran tentang kearifan lokal di Seumelue, juga pola hidup sederhana masyarakat pulau yang tidak lupa menanamkan anak-anak mereka cara mengukir mimpi membangun nengeri. Mereka tetap gigih dalam berusaha menafkahi keluarga dengan membawa hasil kebun mereka ke kota untuk dijual. Sayangnya, sebagai sebuah pulau yang sangat mengandalkan trasportasi laut, Simeulue belum memiliki pelabuhan yang cukup baik. Dermaga pulau Siumat, yang hancur karena dihantam badai dan ombak sepertinya enggan untuk diperbaiki.
Ketika saya duduk sambil menikmati riak riak gelombang Pelabuhan pulau Siumat, saya bertemu teman baru, Ika dan teman temannya ramah menyapa saya dengan Bahasa Indonesia fasih. Ika yang duduk di bangku kelas 5 (lima) Sekolah dasar memperkenalkan teman teman nya pada saya, kami berbagi cerita tentang mimpi bersekolah diluar kabupaten ini. Mimpi mimpi itu seperti cahaya bintang yang kerlap-kerlip menghantar saya kembali ke penginapan. Hati saya pelan dan lirih mengaminkan mimpi itu.
Lirik smong yang diiringi dabuhan gendang, anak-anak pulau yang duduk bercanda bersama saya pelan-pelan mulai mengikuti bait kata satu persatu lalu menghilang dari pandangan mengantar kepergian saya kembali menuju kota dalam kabut asap senja menuju malam.
Linon uak-uakmo
Aik kedang-kedangmo
Lik lit suluh-suluhmo
Smong dumek-dumekmo
(gempa itu ayunanmu Guntur gendang-gendangmu, kilat itu obor-obormu, Tsunami pemandianmu.
Angga linon ne mali, uwek suruik sahuli,
Maheya, mihawali, fano me singa tenggi,
Ede smong kahanne
(jika gempanya kuat, disusul air yang surut, segeralah cari tempat lebih tinggi, itulah Smong Namanya).
Enggel mon sao suritao (dengarlah suatu kisah)
Inang maso Semonan (pada zaman dahulu kala)
Manoknop Sao Fano (tenggelam suatu desa)
Uwilah da sesewan (begitulah dituturkan)
Unen ne alek linon ( Gempa yang mengawali)
Fesang bakat ne mali (disusul ombak raksasa).
Manoknop sao hampong (tenggelam seluruh negeri)
Tibo-tibo maawi ( secara tiba-tiba)
Anggalinon ne mali ( jika gempanya kuat)
Oek suruk sauli (disusul air yang surut)
Maheya mihawali ( segeralah cari tempat)
Fano me senga tenggi ( dataran tinggi agar selamat)
Ede Smong kahanne ( itulah Smong Namanya)
Turiang da nenekta (sejarah nenek moyang kita)
Miredem teher ere (inggatlah ini semua)
Pesan nafi-nafi da (pesan dan nasihatnya)
Penulis : Mahyana Abdullah
Mahasiswa Magister Pariwisata, Universitas Pendidikan Indonesia.
Simeulu, February 2024.

