Konten dari Pengguna

Mengapa Orang Suka Berbagi di Media Sosial?

Maisa Rara Pramastri

Maisa Rara Pramastri

Mahasiswa Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maisa Rara Pramastri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber https://pixabay.com/images/id-3758364/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber https://pixabay.com/images/id-3758364/

Pernah ga sih, kamu melihat konten orang yang menurut kamu itu ga layak untuk diunggah?

Mungkin menurut kamu konten yang diunggah terlalu berlebihan atau konten itu melanggar norma yang ada. Tentu saja kamu akan mencoba mengkritik melalui kolom komentar atau meninggalkan konten tanpa reaksi apa-apa. Perilaku berbagi di media sosial secara berlebihan ini ternyata ada kajiannya, loh.

Jadi, alasan mengapa orang suka berbagi di media sosial ini dijelaskan oleh Ipsos setelah menyelesaikan penelitiannya. Hasil survei nya menjawab pertanyaan, mengapa sih orang-orang suka berbagi sesuatu di media sosial secara berlebihan? Apakah mereka ingin menjadi terkenal? Atau mereka mempunyai misi tertentu?.

Perilaku berbagi secara berlebihan ini disebut perilaku Oversharing. Menurut Webster’s New World College Dictionary (2008), oversharing adalah aktivitas terlalu banyak berbagi informasi, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Sedangkan Hoffman (2009) berpendapat bahwa konsep oversharing ini, umumnya diartikan sebagai pengungkapan informasi yang berlebihan dan tidak sesuai dengan konteks tertentu.

Terus, mengapa orang suka melakukan perilaku oversharing ini?. Ternyata, ada 3 motif yang mendasari seseorang melakukan perilaku ini. Tiga motif itu adalah menjaga relasi sosial, presentasi diri, dan mencari hiburan serta wawasan. Kita coba analogikan 3 motif ini dengan contoh seorang anak SMA yang baru saja memiliki akun media sosial.

Awalnya, anak ini ga punya akun media sosial sama sekali. Karena teman-temannya suka menghinanya, dia mencoba membuat akun media sosial, yaitu akun di Instagram. Selain itu, temannya juga mengajari anak tersebut bagaimana menggunakan Instagram. Akhirnya, dia bisa berkomunikasi dengan temannya yang jauh melalui chat yang ada di Instagram.

Selanjutnya, ketika anak tersebut mengunggah suatu postingan berupa foto dirinya disertai caption yang sangat menarik, dia mendapatkan banyak like dan komentar yang positif dari teman-temannya. Anak itu pun sangat puas dan senang, hingga akhirnya dia terlalu bersemangat untuk mengunggah kembali secara terus-menerus. Anak itu juga mempelajari beberapa tips untuk menjadi konten kreator yang ia dapatkan dari akun Instagram lain. Dia ingin membuat konten yang bisa viral dan mendapat banyak pujian. Namun, setelah beberapa lama, dia justru mendapatkan komentar negatif yang menyakitkan hatinya. Padahal, konten yang diunggah sangat bagus dan menarik.

Nah, menurut kalian gimana nih? Pasti ada, dong, yang setuju dengan teman-teman anak itu? Mengapa yang awalnya dia mendapatkan banyak pujian karena mengetahui bahwa ternyata dirinya mahir dalam mengambil foto dan membuat caption yang bagus, namun akhirnya justru mendapatkan kritik dan komentar yang ga enak didengerin?

Sejak awal, dia berniat untuk mempunyai akun di media sosial agar bisa menjaga relasi dengan teman lain. Ketika dia merasa puas dan senang dengan respon orang atas unggahannya, dia berhasil mempresentasikan dirinya. Dia berhasil menunjukkan kepada temannya bahwa dia bisa membuat sesuatu yang bisa viral di media sosial. Selain itu, anak tersebut menggunakan media sosial untuk mendapatkan wawasan dan belajar dari konten orang lain.

Menurut teori Big Five, kepribadian seseorang juga bisa dilihat dari apa yang sering dia lakukan di media sosial. Contohnya, orang yang sering mengunggah atau menyukai unggahan tentang hujan, memungkinkan dia memiliki kepribadian sebagai orang yang Pluviophile atau orang yang menyukai hujan baik karena melihat hujan maupun merasakan kedamaian saat hujan.

Namun, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah betul presentasi diri orang di media sosial adalah kepribadian aslinya?. Mungkin, dari kita berpendapat bahwa bisa saja orang memanipulasi dirinya di media sosial. Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati ketika bermain media sosial.

Oke, kalau begitu dimana letak kesalahannya?

Ya, karena perilaku berbagi yang berlebihan dari anak itu. Mungkin saja, orang justru berpikir bahwa dirinya terlalu mencoba untuk mendapatkan status sosial yang tinggi di media sosial. Atau yang sering kita sebut dengan pansos. Orang-orang perlahan merasa bosan dan tidak nyaman dengan unggahannya yang justru memperlihatkan kesombongan atas kemampuannya. Dan ternyata, anak tersebut juga sering menyebarkan berita yang kurang valid, sehingga informasinya terasa hoax.

Melalui cerita ini pula, dapat kita kaitkan dengan teori belajar sosial. Di mana teori ini menjelaskan bahwa relasi sosial dalam internet akan menguat atau melemah bergantung pada perhitungan untung rugi yang ada dalam relasi sosial tersebut. Jika anak tersebut terus-menerus membuat keresahan di media sosial dan menyebarkan berita hoax, anak tersebut akan dijauhi oleh teman-temannya.

Sampai disini, kita memahami bahwa perilaku berbagi juga bisa menjadi sebuah tantangan bagi kreator. Namun, apakah perilaku berbagi ini terus-menerus menjadi perilaku yang negatif?. Bagaimana menurutmu?. Apakah kamu setuju jika penulis berpendapat bahwa kita bisa mengubah sesuatu yang dianggap buruk menjadi baik. Karena akan selalu ada peluang bagi mereka yang mau berusaha menjadi baik. Bukan begitu?

Oke, penulis yakin banyak dari kalian yang sudah mengetahui bahwa saat ini banyak yang menggunakan media sosial untuk menjadi peluang berwirausaha. Melalui media sosial, kamu bisa memperluas pemasaran bisnis yang kamu jalani. Tentu saja, kamu harus membuat konten iklan itu dengan kemasan yang menarik peminat. Sehingga, banyak yang tertarik membeli bahkan bisa jadi mereka ikut menyebarluaskan iklan kamu karena saking indahnya. Dan dalam waktu sekejap, kamu pun bisa mendapatkan banyak pelanggan.

Ada teori lagi, nih. Menurut teori pertukaran sosial, segenap perilaku sosial, termasuk perilaku sosial yang ada dalam internet, adalah hasil dari proses pertukaran (exchange) keuntungan yang diberikan dan diterima oleh pihak-pihak yang menjalankan interaksi sosial. Ketika seseorang membutuhkan sesuatu dan mencari di media sosial, dia akan mendapatkan keuntungan dengan terpenuhinya kebutuhan yang dicarinya setelah menemukan konten yang sesuai. Kemudian, pemilik konten atau bisnis pada akun media sosial tersebut mendapatkan ganti berupa like, comment, atau bahkan pelanggan baru.

Sama hal nya dengan berbisnis, media sosial bisa menyebarluaskan undangan donasi kita ke khalayak umum. Ketika seseorang merasa tersentuh melihat video atau konten, misalnya ada seorang kakek yang terlantar atau bencana alam, seseorang itu akan bersimpati dan mengikuti kegiatan galang dana tersebut.

Tak hanya itu, kamu juga pasti pernah menemukan konten kreator yang menggunakan media sosial untuk berdakwah atau berbagi nasehat serta motivasi, bukan? Nah, media sosial sangat membantu mereka dalam menyampaikan pesan yang mereka bawakan. Terlebih, sudah banyak sekali pengguna media sosial, baik itu kalangan muda maupun tua. Sehingga, para pendakwah dan motivator dapat menjangkau banyak target untuk didakwahi tanpa bertemu secara langsung.

Oleh karena itu, disamping kita harus menghadapi tantangan terhadap ancaman oversharing di media sosial, kita juga perlu mengubah perilaku oversharing ini menjadi perilaku yang yang dapat dimanfaatkan dengan baik.

Beberapa hal yang dapat kamu lakukan agar tidak mendapatkan dampak negatif dari perilaku oversharing adalah perlunya menjaga diri untuk tidak berlebihan dalam berbagi sesuatu di media sosial. Kamu perlu untuk mempertimbangkan konten apa yang layak dibagikan karena tidak semua konten harus kamu sebarkan ke media sosial. Terutama jika informasi tersebut masih simpang siur, lebih baik kamu hindari agar tidak menimbulkan berita hoax. Sebaiknya, ketika emosi kurang stabil, lebih baik tidak mengekspresikannya di media sosial.

Selain itu, kamu dapat menambah wawasan mengenai penggunaan media sosial atau internet. Supaya kamu bisa menyesuaikan zaman dan tidak mudah tertipu oleh konten-konten yang palsu. Wawasan mengenai penggunaan internet sangat dibutuhkan, apalagi untuk orang tua atau pemuda yang mungkin baru pertama kali menggunakan internet. Mereka yang menguasai dengan sangat baik mengenai penggunaan internet atau media sosial, akan dengan mudah mengakses dan memberikan informasi atau karyanya. Tak jarang, mereka yang pandai dan kreatif dalam mengakses media sosial lebih sering mendapatkan apresiasi dan penghasilan.

Terakhir, jadilah pengguna media yang bijak. Ingatlah bahwa media sosial tidak selalu membawa kebenaran. Kamu juga perlu menjaga relasi di kehidupan nyata. Usahakan untuk tetap berbuat baik dan berbagi kebaikan, entah itu di kehidupan dunia maya maupun dunia nyata.

Referensi:

Agustini, P. (2021, September 12). Warganet Meningkat, Indonesia Perlu Tingkatkan Nilai Budaya Internet. Pemberdayaan Informatika. https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3415/Kominfo+%3A+Pengguna+Internet+di+Indonesia+63+Juta+Orang/0/berita_satker

Akhtar, H. (2020). Perilaku Oversharing di Media Sosial: Ancaman atau Peluang? Psikologika : Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Psikologi, 25(2), 257–270. https://doi.org/10.20885/psikologika.vol25.iss2.art7

Hanurawan, F. (2019). APLIKASI PSIKOLOGI SOSIAL TERHADAP PERILAKU PENGGUNAAN INTERNET . PSIKOLOGI SOSIAL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0: PELUANG & TANTANGAN, 18-19.

Hoffmann, A. L. (2009). OVERSHARING: A CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS. A Thesis Submitted in Partial Fulfillment of the Requirements for the Degree of, 1-3.

Murniasih, E. (2020, Desember 16). Sosial Budaya. Retrieved from tirto.id: https://tirto.id/mengenal-oversharing-di-medsos-dan-cara-mencegah-efek-negatifnya-f8eM