Makanan Viral: Bagaimana Nasib Pedagang Setelah Tren Berakhir?

Mahasiswi Program Studi Perbankan Syariah di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari STEFANI NOVITASARI 40226040 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nama : Stefani Novitasari
Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah
UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
Media sosial kini punya pengaruh besar terhadap pilihan makanan masyarakat. Cukup dengan melihat video makanan yang menarik di TikTok atau Instagram, banyak orang langsung penasaran dan ingin mencobanya. Makanan yang awalnya hanya dijual oleh beberapa pedagang bisa mendadak ramai pembeli setelah viral. Situasi ini tentu menjadi peluang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama mereka yang menjalankan usaha kuliner dengan modal terbatas. Namun, di balik ramainya pembeli, ada pertanyaan yang perlu dipikirkan: bagaimana nasib pedagang ketika makanan yang mereka jual tidak lagi menjadi tren?
Fenomena makanan viral sebenarnya memberikan kesempatan bagi pedagang untuk meningkatkan penjualan. Produk yang menarik perhatian di media sosial dapat membuat usaha kecil lebih dikenal tanpa harus mengeluarkan biaya promosi yang besar. Banyak konsumen tertarik mencoba makanan karena tampilannya unik, rasanya berbeda, atau sedang ramai dibicarakan. Menurut pemberitaan RRI pada September 2026, kuliner kekinian dapat menjadi peluang bagi UMKM, tetapi mengikuti tren saja tidak cukup untuk mempertahankan usaha. Pedagang tetap perlu memiliki keunggulan yang membuat konsumen ingin kembali membeli produknya.
Masalah mulai muncul ketika pedagang terlalu bergantung pada popularitas sebuah makanan. Saat permintaan meningkat, sebagian pelaku usaha mungkin tergoda menambah jumlah produksi, membeli bahan baku lebih banyak, atau mengeluarkan modal untuk peralatan baru. Keputusan tersebut memang terlihat menguntungkan ketika pembeli sedang ramai. Namun, tren kuliner bisa berubah dengan cepat karena munculnya produk lain yang dianggap lebih menarik. Ketika konsumen mulai beralih, penjualan dapat menurun, sedangkan bahan baku dan biaya produksi tetap harus ditanggung. Akibatnya, pedagang berisiko mengalami kerugian karena jumlah produk yang disiapkan tidak sesuai dengan permintaan pasar.
Persoalan ini menunjukkan bahwa menjalankan usaha kuliner tidak cukup hanya dengan mengikuti apa yang sedang viral. Pedagang perlu memahami bahwa keramaian pembeli hari ini belum tentu menjamin penjualan yang sama pada minggu atau bulan berikutnya. Sebelum menambah produksi, mereka sebaiknya memperhatikan jumlah pembeli, modal yang tersedia, daya tahan bahan baku, dan kemungkinan perubahan selera konsumen. Jika permintaan masih belum stabil, produksi dapat dilakukan secara bertahap. Dengan cara tersebut, pedagang tetap memiliki kesempatan memperoleh keuntungan tanpa mengambil risiko yang terlalu besar.
Dalam ekonomi Islam, persoalan ini berkaitan dengan kegiatan produksi, yaitu proses menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Produksi bukan sekadar membuat barang sebanyak-banyaknya demi memperoleh keuntungan, tetapi juga perlu memperhatikan manfaat, kualitas, dan penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab. Dalam usaha makanan, pedagang perlu memastikan bahan baku yang digunakan sesuai kebutuhan dan produk yang dihasilkan benar-benar memiliki peluang untuk terjual. Perencanaan produksi yang baik dapat membantu usaha berjalan lebih efisien sekaligus mengurangi risiko kerugian. Artinya, keputusan untuk memproduksi makanan seharusnya didasarkan pada pertimbangan yang matang, bukan hanya karena produk tersebut sedang ramai diperbincangkan.
Nilai-nilai Islam juga mengajarkan pentingnya menghindari perilaku berlebihan atau (israf). Dalam konteks usaha kuliner, prinsip ini dapat diterapkan melalui penggunaan bahan baku secara bijak dan menghindari produksi berlebihan yang berpotensi berakhir sebagai makanan terbuang. Pedagang dapat memperkirakan kebutuhan bahan berdasarkan penjualan sebelumnya, mencatat pengeluaran, serta memeriksa persediaan sebelum membeli bahan baru. Jika penjualan mulai menurun, jumlah produksi bisa disesuaikan tanpa mengabaikan kualitas dan keamanan makanan. Langkah sederhana tersebut bukan hanya membantu menghemat biaya, tetapi juga menunjukkan tanggung jawab terhadap sumber daya yang digunakan.
Selain mengatur produksi, pedagang perlu membangun alasan agar konsumen tetap memilih produknya setelah tren berakhir. Rasa yang konsisten, harga yang sesuai, kebersihan, pelayanan yang baik, dan ciri khas produk dapat menjadi kekuatan utama sebuah usaha. Media sosial tetap bisa dimanfaatkan untuk promosi, tetapi isi promosinya tidak harus selalu mengikuti tren terbaru. Pedagang juga dapat meminta masukan dari pelanggan untuk mengetahui bagian produk yang perlu dipertahankan atau diperbaiki. Dengan begitu, hubungan antara penjual dan pembeli tidak hanya terbentuk karena rasa penasaran sesaat, tetapi juga karena kepercayaan terhadap kualitas produk.
Pada akhirnya, makanan viral tidak selalu menjadi ancaman bagi pedagang. Tren justru dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan usaha kepada lebih banyak konsumen. Hal yang perlu dihindari adalah menjadikan popularitas sebagai satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan bisnis. Pelaku UMKM perlu menyeimbangkan kreativitas dengan perencanaan produksi, pengelolaan modal, dan tanggung jawab dalam menggunakan bahan baku. Dalam pandangan ekonomi Islam, keberhasilan usaha bukan hanya berkaitan dengan keuntungan, tetapi juga dengan cara memperoleh dan mengelolanya secara baik. Sebab, usaha yang kuat bukanlah usaha yang hanya ramai ketika viral, melainkan usaha yang mampu bertahan, menjaga kualitas, dan memberikan manfaat meskipun tren telah berganti.
