Konten dari Pengguna

ASN: Amatir Bukanlah Aib

Makhsun Bustomi

Makhsun Bustomi

PNS, kadang berhenti sejenak sekadar mencatat hal-hal yang mungkin terlewat

·waktu baca 4 menit

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Makhsun Bustomi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dahulu, kucing punya reputasi sebagai penangkap tikus yang ulung. Sekarang, belum tentu. Ketika diperintah menangkap tikus, mungkin ia diam. Lalu, dengan ekspresi ragu-ragu, ia bergumam, “Siap, tapi tidak siap.”

Sumber ilustrasi boneka kucing: pexels-valentin-ivantsov-2154772556-
zoom-in-whitePerbesar
Sumber ilustrasi boneka kucing: pexels-valentin-ivantsov-2154772556-

Siap tapi tidak siap. Itulah tiga kata yang menggambarkan perasaan saya ketika sebagai ASN ditugaskan menjabat posisi baru, beberapa bulan lalu. Posisi ini sesuatu yang berbeda, bidang yang tidak saya kuasai. Juga tidak nyambung dengan latar belakang pendidikan saya. Sulit mengaku tidak siap, sebab itu akan menjadi aib.

Lagi pula, bukankah kesediaan menerima tugas dan menjalankan tanggung jawab bagian dari pengabdian?

Sampai suatu hari, mendadak saya diperintah mewakili kantor dalam sebuah rapat kerja bersama anggota DPRD. Rapat berlangsung panas. Argumen saya didebat, diserang, dan saya merasa terintimidasi. Bagaimana tidak, selain menghadapi wakil rakyat yang kritis, di ruang sebuah Komisi DPRD itu ada beberapa anggota LSM dan pendemo yang emosional. Gawatnya, perdebatan disiarkan melalui TikTok LIVE.

Namun demikian, saya berusaha tidak emosional. Sepertinya, itu satu-satunya jalan saat kita dalam kepungan. Ketika dikeroyok orang, paling tidak matilah dengan tenang tanpa ketakutan. Itu menjadi mantra yang dipegang.

Siapa sih yang tidak inferior tatkala berhadapan dengan situasi seperti ini? Saya akui, mungkin penguasaan materi dan kemampuan komunikasi saya jauh dari seharusnya.

Kini saya mulai menerima, menjadi pemula bukan masalah. Saya merasa sedang mendapat "pukpuk" dari Austin Kleon ketika membaca Show Your Work. "Lupakan keinginan menjadi profesional, jadilah amatir." Di dunia yang cepat ini, kita dituntut berpola pikir amatir, bahkan para profesional sekalipun. Terdengar ekstrem, tetapi semangat amatir ini tepat untuk merengkuh kerentanan, ketidakjelasan, dan keterpojokan saya.

Jadi, amatir tidak selalu berarti tidak mampu. Tak apa-apa menjadi pemula. Ada ruang yang luas untuk mengeksplorasi sesuatu tanpa terlalu takut salah atau terlihat bodoh.

Potongan peristiwa tadi membawa ingatan saya pada masa awal menjadi CPNS. Saya berlatar belakang pendidikan Pekerjaan Sosial dari sebuah kampus kedinasan milik Kementerian. Masih menempel nasihat dosen, "Profesional itu digaji karena punya ilmu, skill yang dipelajari secara akademis, terikat kode etik dan memiliki organisasi profesi".

Sayangnya, bekerja sebagai PNS tidak serta-merta membuat saya makin profesional, meskipun telah melewati berbagai macam tugas. Saya pernah menjadi pelaksana, pejabat pengawas, analis kebijakan, dan kini pejabat administrator. Setiap peran menuntut keterampilan berbeda. Dan, bidang yang baru ini seolah membuat saya jauh dari citra profesional.

Mungkin masalahnya bukan saya tidak profesional. Barangkali saya terlalu lama mengira profesional berarti sudah bisa. Barangkali kita takut menjadi amatir bukan karena tidak mau belajar, melainkan karena takut terlihat belum bisa.

Seorang pembelajar juga perlu memperbanyak pengalaman. Tanpa saya sadari, perjalanan karier saya melewati berbagai bidang, tugas dan cara kerja. Barulah kini tumbuh kesadaran, kembali menjadi pemula bukan sebuah kemunduran. Patut disyukuri bahwa saya sesungguhnya sedang naik ke atas agar dapat melihat sesuatu dengan lebih luas.

Mungkinkah ini yang disebut range oleh David Epstein? Saya tidak perlu buru-buru menguasai satu hal. Pengalaman berpindah bidang justru memberi saya lebih banyak bekal menghadapi persoalan yang tak selalu bisa diselesaikan dengan keahlian lama.”

Oh ya, belum lama ini saya ikut ujian kompetensi Profiling ASN. Katanya, untuk memetakan kompetensi dan potensi ASN agar birokrasi lebih lincah dan adaptif. Hampir lupa diceritakan, dalam perjalanan karier, saya sempat menempuh pendidikan Magister Sains. Ketika berstatus sebagai pekerja sosial, saya lulus uji kompetensi. Sebagai analis kebijakan, sertifikat kompetensi saya menunjukkan nilai baik.

Namun, bukti telah belajar tidak cukup menjadi senjata untuk menghadapi sesuatu yang baru. Faktanya, saya ragu-ragu "menangkap tikus" ketika berhadapan dengan bidang yang baru.

Sejujurnya masih terselip kekhawatiran. Masalah dapat muncul ketika dokumen menjadi ukuran daripada perubahan kemampuan. Jangan sampai kita dibuat "mabuk sertifikat", yaitu sibuk mengumpulkan bukti bahwa pernah belajar, tetapi lupa memastikan apakah kemampuannya benar-benar berkembang. Sertifikat sebenarnya bukan tanda bahwa kita sudah selesai belajar. Ia justru bukti bahwa kita sedang belajar.

Apa yang ditulis Sayling Wen dalam Future of Education seolah menyindir saya, "Kamu tampak seperti kucing, belum tentu kamu seekor kucing. Hanya ketika kamu menangkap tikuslah kamu baru benar-benar kucing."

Mendapatkan tugas baru menuntut mentalitas menjadi pemula. Ya, menjadi pemula itu tak apa-apa. Menjadi amatir di bidang baru memberi ruang untuk menambah pengalaman. Memang betul, saya masih harus terus belajar melalui media mana pun, tetapi semua itu akan kehilangan makna kalau kompetensi itu hanya berakhir berupa dokumen di atas kertas.

Saya seperti kucing yang ngos-ngosan menguber tikus. Habis tenaga, sementara tikus lari sembunyi dan mengintip di balik lubang. Saya sibuk mengejar bukti kompetensi, sementara perubahan sudah bergegas jauh lebih cepat.

Kalau boleh sedikit curiga, sepertinya sistem birokrasi masih menjadi mesin checklist yang sibuk memastikan ASN terlihat profesional, ketimbang memastikan mereka sungguh-sungguh siap beradaptasi dan selalu relevan dengan zaman.

Ibarat kucing yang ditugaskan menangkap tikus, siap tidak siap saya harus melakukannya. Atau jangan-jangan, saya cuma seekor boneka kucing yang lucu.