Crash di Tikungan Terakhir

PNS, kadang berhenti sejenak sekadar mencatat hal-hal yang mungkin terlewat
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Makhsun Bustomi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernah menonton MotoGP ketika seorang pembalap jatuh sesaat sebelum garis finis? Atau pembalap yang telanjur merayakan kemenangan setelah melewati garis finish, padahal ternyata masih ada satu putaran lagi? Konyol, bukan?
Kalau kita menjadi pembalapnya, ada cara cepat untuk menghibur diri. Kita bisa menggunakan pepatah Arab yang cukup populer, bahkan kadang menjadi semacam sistem pertahanan diri. Seperti Iron Dome, banyak orang merasa aman berlindung di dalamnya. Al-insānu mahallul khatha’i wan-nisyān. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa.
Dalam bahasa Jawa, konon, menungsa merupakan kependekan dari menus-menus panggonane dosa. Manusia adalah makhluk tempatnya dosa. Terlepas benar secara bahasa atau sekadar permainan kata, ada kerendahan hati yang menarik di sana. Kita menyediakan ruang untuk memaklumi kesalahan orang lain. Pada saat yang sama, kita juga menyediakan sedikit ruang untuk memaafkan diri sendiri ketika gagal.
Masalahnya, kalimat "manusia tempatnya salah dan lupa" kadang terlalu nyaman digunakan sebagai bantal. Ketika salah atau lupa, ya sudah. Namanya juga manusia. Padahal, dalam pekerjaan, kesalahan kecil justru sering terjadi ketika pekerjaan hampir selesai.
Ibarat balapan MotoGP, kita sudah memimpin sejak awal. Tikungan demi tikungan berhasil dilewati. Tinggal sedikit lagi menuju garis finis. Penonton sudah bersiap menyambut kemenangan. Tiba-tiba, crash. Jatuh di tikungan terakhir.
Kegagalan semacam ini terasa lebih menyakitkan. Bukan karena kita tidak mampu menyelesaikan pekerjaan, melainkan karena kita gagal ketika sebenarnya tinggal selangkah lagi. Barangkali kita terlalu percaya diri, konsentrasi menurun, atau otak sudah menganggap pekerjaan selesai sebelum semuanya benar-benar beres.
Dalam kajian perilaku manusia dikenal istilah post-completion error. Sederhananya, ini adalah kecenderungan melakukan kesalahan setelah tugas utama selesai.
Kita mengambil uang di ATM, tetapi lupa mengambil kartunya. Selesai menggunakan mesin fotokopi, dokumen asli justru tertinggal. Pekerjaan utama sudah beres, tetapi satu langkah kecil yang seharusnya dilakukan malah terlupakan.
Kesalahan seperti ini bukan sesuatu yang aneh. Bahkan, bisa diantisipasi. Karena itu, kita mengenal reminder. ATM mengingatkan kita mengambil kartu. Mobil memberi tanda ketika pintu belum tertutup atau sabuk pengaman belum terpasang. Berbagai simbol di panel kendaraan mengingatkan kita tentang hal-hal yang mungkin terlewat sebelum kaki menginjak pedal gas.
Menariknya, kita tidak merasa dihina oleh semua pengingat itu. Sistem tidak sedang menuduh kita bodoh. Ia memahami satu kelemahan manusia: kita mudah lupa. Barangkali kehidupan juga membutuhkan lebih banyak reminder.
Memori manusia terbatas. Kita tidak mungkin menyimpan semua hal dalam kepala. Itulah sebabnya kita membuat catatan, kalender, alarm, daftar pekerjaan, rambu-rambu, prosedur, bahkan aturan. Semakin banyak yang harus dilakukan, semakin banyak pula yang perlu diingatkan.
Dalam kehidupan beragama pun demikian. Ada banyak do's and don'ts. Bukan karena manusia tidak pernah tahu mana yang baik dan buruk, melainkan karena manusia mudah lupa.
Kita tahu berbohong itu tidak baik, tetapi tetap perlu diingatkan. Kita tahu harus bersyukur, tetapi tetap perlu diingatkan. Kita tahu hidup ini sementara, tetapi tetap perlu diingatkan.
Mungkin karena itu pula salat hadir berulang kali dalam sehari. Manusia tidak cukup diberi tahu sekali. Kita perlu diingatkan lagi. Lagi dan lagi.
Salat menjadi semacam reminder yang memanggil kita kembali kepada Allah di tengah kesibukan. Ketika perhatian terseret oleh pekerjaan, uang, keluarga, ambisi, dan berbagai kebisingan dunia, ada waktu-waktu tertentu ketika kita diminta berhenti sejenak. Mengingat kembali bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada kesibukan hari ini.
Barangkali karena manusia memang mudah lupa, istiqamah menjadi penting. Istiqamah bukan perkara melakukan sesuatu sekali lalu selesai. Ia tentang melakukan sesuatu berulang kali, bahkan ketika tidak ada yang bertepuk tangan. Sedikit, tetapi terus. Tidak selalu cepat, tetapi tidak berhenti.
Kita sering membayangkan keberhasilan seperti balapan: siapa yang paling cepat sampai, dialah pemenangnya. Padahal, hidup tidak sesederhana itu. Tidak ada gunanya menjadi yang paling cepat jika kemudian kehilangan kendali di tikungan terakhir.
Di zaman yang serba cepat, kita memang membutuhkan kecepatan. Internet harus cepat. Pelayanan harus cepat. Pekerjaan harus cepat. Tetapi hidup tidak selalu meminta kita terus menekan gas. Kadang kita perlu mengurangi kecepatan agar tetap berada di jalur. Bergerak, tetapi tidak kehilangan arah. Menyelesaikan pekerjaan, tetapi tidak lupa memeriksa hal-hal kecil yang mungkin tertinggal.
Sebab pekerjaan belum tentu benar-benar selesai hanya karena tugas utamanya sudah beres. Perjalanan juga belum tentu aman hanya karena kita sudah dekat dengan tujuan.
Maka, jangan terlalu cepat merasa sudah selesai. Periksa lagi. Ingat lagi. Berhenti sejenak jika perlu. Kita memang manusia. Bisa lupa, lengah, bahkan terpeleset ketika tinggal sedikit lagi sampai.
Namun, jatuh bukan berarti perjalanan selesai. Selama masih diberi waktu, kita bisa bangkit, memperbaiki langkah, dan melanjutkan perjalanan.
Barangkali itulah yang membuat kita perlu terus belajar tentang istiqamah. Bukan sekadar pandai memulai dengan baik, tetapi juga berusaha mengakhiri dengan baik.
Dalam kehidupan beragama, kita mengenal istilah husnul khatimah: akhir yang baik. Sebab kita tidak pernah tahu, apakah tikungan yang sedang kita lewati ini masih menyisakan banyak jalan atau justru merupakan tikungan terakhir.
Jangan sampai kita terlalu sibuk merayakan kemenangan, padahal perjalanan belum benar-benar selesai. Dan jangan pula terlalu cepat merasa sudah sampai, padahal masih ada satu putaran yang harus kita lalui.
